Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Barito Selatan, Agus Inyulius, menyampaikan, berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kondisi cuaca terkini di wilayah Barsel, fenomena ENSO yang berada pada fase moderat dan mengarah ke El Niño kuat telah menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan sehingga curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Barito Selatan, berada di bawah kondisi normal.
Dampak El Niño menyebabkan curah hujan menurun sehingga kondisi lahan menjadi semakin kering.
Agus Inyulius menjelaskan, hasil analisis BMKG, potensi kebakaran lahan dalam tujuh hari ke depan berada pada kategori sangat tinggi.
Hasil pemantauan menunjukkan curah hujan di sejumlah wilayah selatan Indonesia berada di bawah normal, bahkan kurang dari 85 persen dari rata-rata klimatologis.
Kondisi tersebut mengakibatkan peluang terjadinya hujan cukup kecil sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Peningkatan jumlah hotspot atau titik panas selama Juli 2026. Sebanyak 29 titik hotspot berhasil terpantau, dengan kejadian kebakaran terbesar berada di wilayah Kecamatan Dusun Utara.
“Untuk luas area yang saat ini terpantau mencapai sekitar 39,4 hektare. Sebelumnya, terdapat kebakaran pada area sekitar lima hektare yang terus kami lakukan pemantauan. Sementara jarak pandang dilaporkan menurun hingga sekitar 500 meter akibat kabut asap,” kata Agus Inyulius.
Agus mengatakan kekeringan diperkirakan berlangsung mulai Juli hingga Desember 2026 sehingga diperlukan langkah antisipasi yang lebih terkoordinasi.
Penetapan status siaga diperlukan untuk memperkuat koordinasi lintas instansi, mempercepat penanganan kebakaran, serta memudahkan mobilisasi personel dan peralatan di lapangan.
“Melalui rakor ini, BPBD bersama instansi terkait juga merekomendasikan pembentukan Posko Penanggulangan disesuaikan dengan perkembangan kondisi cuaca dan tingkat kejadian karhutla, penetapan status Siaga darurat dimulai tanggal 19 Juli sampai 17 Agustus 2026,” ujarnya.(ena/kpg)


