Karena itu, Wamen Dzulfikar mendorong pekerja migran Indonesia menerapkan konsep brain circulation.
Menurut dia, pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri dapat menyerap pengetahuan dan keahlian, kemudian membawanya kembali ke Indonesia untuk ditransfer kepada masyarakat dan generasi berikutnya.
“Anda keluar serap ilmu itu, lalu kemudian begitu Anda kembali ke Indonesia, Anda melakukan transfer knowledge, tidak hanya kepada teman sebanyaknya, tapi kepada generasi-generasi berikut,” ujarnya.
Wamen Dzulfikar berharap proses tersebut dapat membantu Indonesia mempersiapkan diri menghadapi perubahan demografi sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
“Mudah-mudahan kemajuan bangsa itu sudah seperti kemajuan negara-negara yang hari ini juga mengalami aging population, seperti Jerman, Jepang, dan negara-negara besar lainnya,” katanya.
Di sisi lain, Kepala BP3MI DKI Jakarta Kombes Pol. Arman Muis menjelaskan para CPMI telah mendapatkan pembekalan dan peningkatan kapasitas sebelum ditempatkan di Arab Saudi. Dari 37 peserta, sebagian besar telah memenuhi tahapan persiapan keberangkatan, sementara tiga CPMI masih menunggu penyelesaian proses visa.
Menurut Arman, program tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan CPMI agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di negara tujuan, termasuk melalui sertifikasi bahasa Inggris.
“Harapannya mereka ini dapat bekerja dengan baik, menjaga nama baik Indonesia, dan memanfaatkan pengalaman serta keterampilan yang diperoleh selama bekerja di Arab Saudi,” kata Arman.
Wamen Dzulfikar kemudian secara resmi melepas para CPMI peserta Program SMK Go Global Tahun Anggaran 2026 untuk bekerja di Arab Saudi.
Harapannya, para CPMI dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik sekaligus memanfaatkan pengalaman selama di luar negeri sebagai bekal untuk berkontribusi bagi Indonesia.(tim)


