Dengan konsep layanan terpadu, masyarakat diharapkan dapat mengakses berbagai kebutuhan persiapan bekerja ke luar negeri melalui layanan yang lebih terkoordinasi.
Dorong Pelindungan PMI yang Responsif Gender
Penyelenggaraan MRC Lampung Timur juga menerapkan prinsip responsif gender dengan mempertimbangkan kebutuhan dan pengalaman perempuan maupun laki-laki yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia.
Pendekatan tersebut mencakup kesetaraan akses terhadap informasi, pelayanan, dan pelindungan, dengan mempertimbangkan latar belakang, kondisi keluarga, jenis pekerjaan, serta kebutuhan PMI yang beragam.
Keterlibatan organisasi masyarakat sipil dan mitra pembangunan turut memperkuat kolaborasi dalam menghadirkan layanan yang inklusif.
“Kami sangat berharap pemerintah kabupaten, kota, dan provinsi lainnya ikut mengikuti jejak yang dilakukan oleh Bupati Lampung Timur,” ujar Dzulfikar.
Lampung Timur Disiapkan Ikuti Program SMK Go Global
Selain MRC, KP2MI mendorong peningkatan kompetensi calon Pekerja Migran Indonesia asal Lampung Timur melalui program SMK Go Global. Tahun depan, Lampung Timur disiapkan memperoleh kuota sekitar 2.000 peserta.
“Sebagai bentuk apresiasi dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia atas inisiatif berdirinya MRC ini, tahun depan Lampung Timur disiapkan kuota SMK Go Global sebanyak kurang lebih 2.000 orang,” ungkapnya.
Program tersebut diarahkan untuk menyiapkan calon Pekerja Migran Indonesia sesuai kebutuhan pasar kerja internasional, terutama dari sisi keterampilan dan kemampuan bahasa.
“Yang menjadi kunci adalah bahasa. Kalau mau ke Jepang, minimal kursus sampai N4, dengan waktu persiapan sekitar enam sampai delapan bulan,” jelas Wamen.
Selain kompetensi, calon Pekerja Migran Indonesia juga perlu mempersiapkan aspek fisik, mental, dokumen, dan visi sebelum bekerja di luar negeri.


