Berdasarkan informasi awal dari penyelam, proses evakuasi mengharuskan mereka memecahkan kaca KM Virgo Transport 8 untuk menjangkau korban. “Posisinya terjebak di dalam,” ujarnya.
Basarnas belum mengumumkan identitas ketiga korban. Proses identifikasi menjadi kewenangan Disaster Victim Identification (DVI) Polri melalui pencocokan data antemortem dan postmortem.
Basarnas baru menyampaikan jenis kelamin berdasarkan kondisi yang terlihat saat proses evakuasi.
Barang pribadi yang ditemukan bersama korban, seperti KTP, telepon seluler, maupun tas yang memuat identitas, juga dapat menjadi bagian dari proses identifikasi.
Cuaca Mendukung, ROV Dikerahkan
Keberhasilan penyelaman pada hari keenam turut ditunjang kondisi laut yang relatif lebih bersahabat. Dalam dua hari terakhir, gelombang berada di kisaran satu meter.
Kondisi tersebut berbeda dengan beberapa hari sebelumnya ketika tinggi gelombang mencapai lebih dari 2,5 meter. Arus bawah laut yang sebelumnya menjadi kendala juga mulai memungkinkan tim melakukan penyelaman.
“Alhamdulillah dua hari ini cuaca cukup mendukung. Meskipun ombak mungkin antara satu meteran,” jelas Yudhi.
Basarnas bersama TNI AL membuka kemungkinan kembali melakukan penyelaman apabila kondisi memungkinkan.
Pencarian di permukaan juga terus dilakukan berdasarkan sektor yang telah ditetapkan Search Mission Coordinator (SMC).
Unsur TNI AL, Basarnas, kepolisian, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), hingga tim udara dikerahkan untuk menyisir sektor masing-masing.
Sejumlah kapal yang terlibat antara lain KRI GNR, KRI Nala, KRI Rengat, dan KRI Hasanuddin. Basarnas mengerahkan KN SAR Kamajaya, KN SAR Wisanggeni, dan KN SAR Laksamana 241.
Patroli udara juga dilakukan menggunakan helikopter Basarnas, Polairud, serta unsur udara dari KRI.
“Unsur-unsur kapal tetap berjalan sesuai itu, termasuk patroli udara. Dari unsur heli kita patroli sesuai sektor yang dibagi SMC,” kata Yudhi.


