Anak Down Syndrome di Surabaya Meninggal Diduga Usai Di-bully Teman

PROKALTENG.CO-Seorang anak down syndrome asal Rungkut, Kota Surabaya berinisial Z, 10, meninggal dunia usai diduga jadi korban perundungan atau bullying temannya.

Z, meninggal dunia dalam kondisi wajah membiru dengan tali di leher. Insiden itu terjadi pada 12 September 2026 lalu.

Ayah korban, SAW (53) mengatakan tak mengetahui pasti kejadian yang dialami anaknya. Saat itu dia sedang ketiduran usai minum obat, sedangkan istrinya pergi ke pasar untuk berjualan.

Kemudian, saat istrinya baru pulang dari berjualan, mendapati anaknya dalam kondisi tak berdaya di teras rumah.

Wajahnya membiru ada tali sepatu mengalung di leher korban serta besi. Di mulut korban juga terdapat bercak sabun colek.

“Istri saya teriak-teriak, Bi, anake wes biru, anak wes biru. Saya langsung terjaga dari tempat tidur,” ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (17/10/2026).

Baca Juga :  Sebelum Meninggal, Kiki Fatmala Disarankan Membuat Surat Wasiat

Melihat hal itu, SAW langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Namun, nahas nyawa Z tidak dapat tertolong.

Electronic money exchangers listing

“Waktu saya kendori (talinya) anak saya tidak bernyawa mungkin,” ujarnya.

SAW kemudian mengecek CCTV yang ada di lokasi. Berdasarkan rekaman CCTV jalan kampung terlihat dua anak masuk ke dalam rumahnya secara bergantian. Dua anak itu adalah K (10) dan F (10).

“Mereka anak kampung sini, yang satu, satu gang dengan saya, satunya lagi gang sebelah,” ungkap dia.

Dia menyebut, dugaan pelaku mengarah pada mereka berdua karena keduanya kerap membully Z. Seminggu sebelumnya keduanya kedapatan mengalungkan tali tampar di pundak Z.

“Seminggu sebelumnya ada tampar di pundak anak saya, pundaknya itu dikalungkan tampar, saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa ngomong, penglihatannya juga tidak jelas,” terang dia.

Baca Juga :  Blangko E-KTP Masih Minus 5,8 Juta Keping

SAW sudah melaporkan hal ini ke Polrestabes Surabaya. Satu anak yakni K telah ditetapkan tersangka, sementara F tidak.

SAW menduga, F tidak ditetapkan tersangka karena merupakan anak asuh RT setempat.

“Saya menuntut kedua pelaku kalau bisa dibina sampai dewasa, sampai dia bisa mengerti mana yang hak dan batil, mana yang baik dan jelek agar tidak merugikan orang lain, jangan cuma satu anak,” jelasnya.

Anggota DPRD Surabaya, Arjuna Rizky juga sudah turun tangan untuk menangani kasus ini. Arjuna mendatangkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dalam membantu keluarga korban.

Sementara itu, Kasat PPA PPO Polrestabes Surabaya Kompol Melatisari membenarkan tengah menangani kasus tersebut. Saat ini, pihaknya masih melakukan pendalaman. (jpg)

 

PROKALTENG.CO-Seorang anak down syndrome asal Rungkut, Kota Surabaya berinisial Z, 10, meninggal dunia usai diduga jadi korban perundungan atau bullying temannya.

Z, meninggal dunia dalam kondisi wajah membiru dengan tali di leher. Insiden itu terjadi pada 12 September 2026 lalu.

Ayah korban, SAW (53) mengatakan tak mengetahui pasti kejadian yang dialami anaknya. Saat itu dia sedang ketiduran usai minum obat, sedangkan istrinya pergi ke pasar untuk berjualan.

Electronic money exchangers listing

Kemudian, saat istrinya baru pulang dari berjualan, mendapati anaknya dalam kondisi tak berdaya di teras rumah.

Wajahnya membiru ada tali sepatu mengalung di leher korban serta besi. Di mulut korban juga terdapat bercak sabun colek.

“Istri saya teriak-teriak, Bi, anake wes biru, anak wes biru. Saya langsung terjaga dari tempat tidur,” ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (17/10/2026).

Baca Juga :  Sebelum Meninggal, Kiki Fatmala Disarankan Membuat Surat Wasiat

Melihat hal itu, SAW langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Namun, nahas nyawa Z tidak dapat tertolong.

“Waktu saya kendori (talinya) anak saya tidak bernyawa mungkin,” ujarnya.

SAW kemudian mengecek CCTV yang ada di lokasi. Berdasarkan rekaman CCTV jalan kampung terlihat dua anak masuk ke dalam rumahnya secara bergantian. Dua anak itu adalah K (10) dan F (10).

“Mereka anak kampung sini, yang satu, satu gang dengan saya, satunya lagi gang sebelah,” ungkap dia.

Dia menyebut, dugaan pelaku mengarah pada mereka berdua karena keduanya kerap membully Z. Seminggu sebelumnya keduanya kedapatan mengalungkan tali tampar di pundak Z.

“Seminggu sebelumnya ada tampar di pundak anak saya, pundaknya itu dikalungkan tampar, saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa ngomong, penglihatannya juga tidak jelas,” terang dia.

Baca Juga :  Blangko E-KTP Masih Minus 5,8 Juta Keping

SAW sudah melaporkan hal ini ke Polrestabes Surabaya. Satu anak yakni K telah ditetapkan tersangka, sementara F tidak.

SAW menduga, F tidak ditetapkan tersangka karena merupakan anak asuh RT setempat.

“Saya menuntut kedua pelaku kalau bisa dibina sampai dewasa, sampai dia bisa mengerti mana yang hak dan batil, mana yang baik dan jelek agar tidak merugikan orang lain, jangan cuma satu anak,” jelasnya.

Anggota DPRD Surabaya, Arjuna Rizky juga sudah turun tangan untuk menangani kasus ini. Arjuna mendatangkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dalam membantu keluarga korban.

Sementara itu, Kasat PPA PPO Polrestabes Surabaya Kompol Melatisari membenarkan tengah menangani kasus tersebut. Saat ini, pihaknya masih melakukan pendalaman. (jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru