PROKALTENG.CO-Indonesia kembali diingatkan mengenai risiko gempa besar setelah Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat perubahan pada persebaran zona megathrust.
Dalam peta terbaru tersebut, terdapat 14 zona megathrust yang perlu menjadi perhatian karena berhubungan dengan potensi gempa besar di berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut juga mendapat perhatian dari ahli gempa Jepang. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menilai karakteristik sejumlah wilayah subduksi di Indonesia memiliki kemiripan dengan kawasan Nankai Trough di Jepang, yang selama ini menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius dalam kajian gempa besar.
Menurut Heki, tantangan utama bukan sekadar mengetahui keberadaan zona yang berpotensi menghasilkan gempa, tetapi bagaimana memantau perubahan kondisi kerak bumi dalam jangka panjang.
Pemantauan tersebut diperlukan untuk memahami proses akumulasi tegangan pada batas lempeng yang terus bergerak.
Teknologi menjadi salah satu bagian penting dalam upaya tersebut. Heki menyebut Global Navigation Satellite System atau GNSS serta pengukuran geodesi dasar laut dapat dimanfaatkan untuk mengamati perubahan atau deformasi kerak bumi di wilayah subduksi.
Ia menyampaikan pandangan tersebut ketika menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN pada akhir Desember 2025.
Heki menjelaskan bahwa pemahaman mengenai pola gempa besar sebelumnya banyak didasarkan pada interval waktu tertentu.
Di Jepang, misalnya, gempa bermagnitudo 8 secara klasik dipahami dapat berulang dalam rentang sekitar 50 hingga 100 tahun.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa interval tersebut tidak dapat digunakan sebagai penentu kapan gempa besar berikutnya akan terjadi.
Karena itu, pengamatan terhadap proses fisik yang berlangsung di bawah permukaan bumi menjadi semakin penting.
Heki menekankan bahwa waktu terjadinya gempa besar masih sulit diprediksi. Karena itu, pemantauan deformasi kerak bumi secara berkelanjutan lebih penting daripada sekadar menghitung jarak waktu sejak gempa besar terakhir.
Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah kondisi bagian batas lempeng yang saling mengunci.
Menurut Heki, penguncian antarseismik atau seismic coupling dapat ditemukan di sepanjang sumbu palung.
Pada bagian batas lempeng yang relatif dangkal sekalipun, regangan dapat terus terakumulasi dan berpotensi berkaitan dengan gempa pada masa mendatang.


