14 Zona Megathrust Kepung Indonesia, Begini Kata Pakar Jepang

Kondisi seperti itu menjadi penting untuk dipelajari di Indonesia karena wilayah negara ini berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.

Zona subduksi membentang di berbagai kawasan, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku.

Besarnya wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tersebut membuat sistem pemantauan menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.

Semakin banyak data yang dapat dikumpulkan dalam periode panjang, semakin besar pula peluang para peneliti untuk memahami pola deformasi dan aktivitas tektonik di suatu wilayah.

Heki juga menyoroti fenomena yang dikenal sebagai slow slip event atau pergeseran lambat.

Berbeda dengan gempa yang melepaskan energi secara tiba-tiba, pergeseran lambat berlangsung secara perlahan.

Baca Juga :  Membanggakan! Jay Idzes Jadi Pemain Indonesia Pertama di Serie A

Fenomena ini telah berulang kali diamati di Nankai Trough dan sejumlah wilayah lain di Jepang.

Electronic money exchangers listing

Dalam kajian kebencanaan, keberadaan slow slip event menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian karena dapat memberikan informasi mengenai dinamika pada batas lempeng.

Heki menyebut salah satu peristiwa pergeseran lambat tersebut berpotensi berkaitan dengan pemicu gempa besar berikutnya.

Meski demikian, keberadaan fenomena tersebut tidak dapat diartikan sebagai tanda pasti bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Pengamatan terhadap slow slip event tetap membutuhkan penelitian dan data jangka panjang untuk memahami hubungan antara proses tersebut dengan gempa besar.

Indonesia, menurut Heki, memiliki peluang untuk memperkuat sistem pemantauan seperti yang dikembangkan dalam penelitian kegempaan di Jepang.

Baca Juga :  15 Pemain Timnas Indonesia Latihan Perdana di Bahrain, Ada Thom Haye

Jaringan GNSS yang semakin luas dan pengukuran geodesi dasar laut dapat membantu peneliti memperoleh gambaran lebih rinci mengenai perubahan kerak bumi di zona subduksi.

Pentingnya pemantauan tersebut semakin terlihat jika melihat potensi magnitudo maksimum yang tercantum dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.

Salah satu zona yang memiliki potensi magnitudo maksimum terbesar adalah Megathrust Aceh-Andaman, dengan potensi mencapai magnitudo 9,2.

Selain Aceh-Andaman, Megathrust Jawa juga memiliki potensi gempa besar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,1.

Kondisi seperti itu menjadi penting untuk dipelajari di Indonesia karena wilayah negara ini berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.

Zona subduksi membentang di berbagai kawasan, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku.

Besarnya wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tersebut membuat sistem pemantauan menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.

Electronic money exchangers listing

Semakin banyak data yang dapat dikumpulkan dalam periode panjang, semakin besar pula peluang para peneliti untuk memahami pola deformasi dan aktivitas tektonik di suatu wilayah.

Heki juga menyoroti fenomena yang dikenal sebagai slow slip event atau pergeseran lambat.

Berbeda dengan gempa yang melepaskan energi secara tiba-tiba, pergeseran lambat berlangsung secara perlahan.

Baca Juga :  Membanggakan! Jay Idzes Jadi Pemain Indonesia Pertama di Serie A

Fenomena ini telah berulang kali diamati di Nankai Trough dan sejumlah wilayah lain di Jepang.

Dalam kajian kebencanaan, keberadaan slow slip event menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian karena dapat memberikan informasi mengenai dinamika pada batas lempeng.

Heki menyebut salah satu peristiwa pergeseran lambat tersebut berpotensi berkaitan dengan pemicu gempa besar berikutnya.

Meski demikian, keberadaan fenomena tersebut tidak dapat diartikan sebagai tanda pasti bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Pengamatan terhadap slow slip event tetap membutuhkan penelitian dan data jangka panjang untuk memahami hubungan antara proses tersebut dengan gempa besar.

Indonesia, menurut Heki, memiliki peluang untuk memperkuat sistem pemantauan seperti yang dikembangkan dalam penelitian kegempaan di Jepang.

Baca Juga :  15 Pemain Timnas Indonesia Latihan Perdana di Bahrain, Ada Thom Haye

Jaringan GNSS yang semakin luas dan pengukuran geodesi dasar laut dapat membantu peneliti memperoleh gambaran lebih rinci mengenai perubahan kerak bumi di zona subduksi.

Pentingnya pemantauan tersebut semakin terlihat jika melihat potensi magnitudo maksimum yang tercantum dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.

Salah satu zona yang memiliki potensi magnitudo maksimum terbesar adalah Megathrust Aceh-Andaman, dengan potensi mencapai magnitudo 9,2.

Selain Aceh-Andaman, Megathrust Jawa juga memiliki potensi gempa besar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,1.

Terpopuler

Artikel Terbaru