Semua orang bisa menderita berbagai penyakit, karena sehat itu bukanlah hal yang semudah itu didapatkan. Orang-orang dapat mengalami penyakit kronis atau akut yang umum terjadi namun mudah ditangani, dan ada juga mereka yang menderita penyakit langka dengan peluang sembuh sangat kecil.
Saraf memiliki tugas penting bagi tubuh. Melalui merekalah kita dapat menggunakan indra, menggerakkan tubuh, membantu otak berpikir dan mengontrol organ-organ kita. Namun apa jadinya jika mereka tidak dapat bekerja dengan baik.
Dilansir dari Halodoc, Sindrom Guillain-Barre (GBD) adalah penyakit saraf yang sangat langka dan menyerang sistem saraf tepi kita, atau sistem saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang.
Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja. Ia tidak memandang usia, kelamin, dan latar belakang lainnya. Diperkirakan GBS terjadi pada 100.000 orang setiap tahunnya.
Gejala
Dilansir dari Mayo Clinic, GBS sering terjadi pada awalnya dengan kaki terasa kesemutan dan melemah. Hal tersebut kemudian perlahan-lahan menyebar ke ke tubuh bagian atas pula.
Para penderita seringkali baru menyadari bahwa mereka sakit ketika gejala terjadi di bagian lengan dan wajah. Seiring berjalannya waktu, penyakit ini dapat membuat penderitanya mati rasa dan cacat.
Gejala-gejala yang terjadi bisa seperti:
Kesemutan pada jari kaki, pergelangan kaki dan tangan.
Lemas di kaki yang menyebar ke tubuh bagian atas.
Tidak dapat berjalan dengan seimbang dan kesulitan untuk menaiki tangga.
Kesulitan mengendalikan gerakan wajah, seperti berbicara, mengunyah dan menelan.
Penglihatan mendua hingga kesulitan untuk menggerakan mata.
Rasa nyeri hebat pada malam hari.
Kesulitan mengontrol kandung kemih.
Detak jantung cepat.
Tekanan darah tinggi atau rendah.
Kesulitan bernapas.
Pasien-pasien GBS biasanya baru menyadari lemas pada tubuh secara signifikan pada minggu kedua.
Penyebab
Dilansir dari GBS CIDP, penyebab sindrom ini masih belum diketahui. Namun, pada 50% kasus penyakit terjadi setelah mengalami infeksi umum, seperti flu atau keracunan makanan.
Beberapa teori mengatakan bahwa kondisi autoimun dapat memicu penyakit ini pula. Dimana sistem imunitas pasien yang seharusnya bekerja untuk menolong tubuh, malah merusaknya dan menyebabkan mati rasa serta kelelahan.
Dilansir dari Cleveland Clinic, para ahli telah mengidentifikasikan beberapa macam infeksi dan penyakit imun yang dapat memicu GBS:
Diare atau penyakit pernapasan: infeksi dari bakteri Campylobacter jejuni, yang menyebabkan diare, adalah salah satu bakteri pemicu GBS.
Virus: infeksi dari virus cytomegalovirus, Epstein-Barr virus, dan virus Zika ditemukan dapat memicu pula.
Vaksin: dalam kasus yang sangat langka, ditemukan beberapa orang yang mengalami GBS setelah menerima sejenis vaksin.
Operasi: hal ini juga terjadi sangat langka, namun ada beberapa kasus dimana pasien mengalami GBS setelah melakukan operasi.
Diagnosis
Dilansir dari NHS, tahap pertama pemeriksaan apabila ada kecurigaan atau kekhawatiran adanya GBS adalah tes pada refleks tubuh oleh dokter umum. Dengan begitu dokter dapat mengetahui apakah ada mati rasa atau kelemahan pada otot.
Apabila dokter umum menduga pasien memang memiliki kondisi ini, mereka akan merujuk pasien ke dokter spesialis saraf.
Kemudian, dokter saraf dapat melakukan beberapa macam tes seperti: tes aliran listrik pada saraf dan otot, tes pernapasan (spirometri), tes darah dan pengecekan cairan sumsum tulang belakang (lumbar puncture).
Pengobatan
Setelah dokter dapat memastikan bahwa pasien memang menderita GBS, pasien harus tinggal di rumah sakit untuk sementara waktu.
Pengobatan utama pasien adalah imunoterapi, yang digunakan untuk menghentikan sistem imun untuk terus menyerang saraf pasien. Pasien juga dapat menjalani imunoglobulin intravena (IVIG) atau pertukaran plasma.
Ada pula pengobatan atau alat terapi, seperti kaos kaki kompresi, untuk mengurangi resiko trombosis vena dalam (DVT), bagi pasien yang tidak bisa berjalan.
Dan bagi mereka yang mengalami kesulitan bernapas akan mendapatkan bantuan dari ventilator, serta pengawasan ketat di ICU.
Fisioterapi dapat membantu melawan kekakuan pada otot, dan membantu pasien dapat bergerak lebih mudah. Lalu ada terapi okupasional yang dapat membantu pasien belajar melakukan tugas-tugas harian mereka kembali.
Karena GBS dapat mengancam nyawa, pasien masih harus terus menemui dokter dan melakukan kontrol. Seorang pasien dapat dinyatakan sembuh dari GBS, namun seringkali penyakit ini akan kambuh dan pasien akan melakukan pengobatan kembali.(jpc)


