PROKALTENG.CO-Pengawasan pemasaran susu formula menghadapi tantangan baru. Jika sebelumnya promosi produk dapat ditemui dalam bentuk sampel atau bingkisan di fasilitas kesehatan, kini informasi produk juga dapat langsung masuk ke telepon genggam ibu melalui media sosial.
Konselor menyusui dr. Nanan Surya Perdana, Sp.A mengatakan pemasaran susu formula semestinya mengikuti kode etik pemasaran pengganti ASI. Namun, ia masih menemukan praktik pemberian sampel, bingkisan bermerek hingga komunikasi promosi melalui WhatsApp dan Instagram.
“Masih banyak terjadi. Akibatnya ibu dengan cepat mengubah pola pikirnya dan beralih menggunakan susu formula,” kata Nanan.
Menurut dia, kondisi di fasilitas kesehatan di Samarinda relatif membaik. Pembagian produk susu formula di rumah sakit, puskesmas maupun posyandu disebut sudah jauh berkurang. Tantangan justru bergeser ke ruang digital.
“Yang sulit kita kendalikan sekarang justru media sosial. Karena setiap hari media sosial membanjiri layar telepon genggam kita,” ujarnya.
Menurut Nanan, informasi mengenai susu formula yang beredar juga perlu diimbangi dengan pengetahuan mengenai ASI dan potensi risiko penggunaan pengganti ASI.
World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) dalam materi 21 Dangers of Infant Formula mencantumkan sejumlah risiko kesehatan yang dikaitkan dengan penggunaan susu formula. Daftar tersebut mencakup kondisi pada bayi dan ibu.
Bagi bayi dan anak, WABA mencantumkan:
* Asma
* Alergi
* Infeksi telinga
* Hipertensi dan penyakit jantung
* Infeksi saluran pernapasan
* Gangguan perkembangan kognitif
* Obesitas
* Anemia defisiensi besi
* Sindrom kematian bayi mendadak
* Diabetes tipe 1 dan tipe 2
* Gangguan pencernaan
* Kanker anak
* Risiko kontaminasi bahan berbahaya
* Henti napas saat tidur
* Gangguan gigi dan maloklusi
Sementara pada ibu, WABA mencantumkan:
* Diabetes gestasional dan diabetes tipe 2
* Kelebihan berat badan dan obesitas
* Osteoporosis
* Kanker payudara, ovarium dan rahim
* Hipertensi dan penyakit jantung
* Jarak kelahiran anak yang lebih pendek
Daftar tersebut merupakan risiko yang dicantumkan WABA, bukan berarti setiap anak atau ibu yang berkaitan dengan penggunaan susu formula pasti mengalami kondisi tersebut. Risiko kesehatan tetap dipengaruhi berbagai faktor dan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing individu.
Nanan pun tidak menempatkan susu formula sebagai sesuatu yang harus dipandang hina. Menurut dia, formula dapat diberikan apabila bayi memang memiliki indikasi dan setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
“Susu formula bukan sesuatu yang hina. Susu formula tetap boleh diberikan. Tetapi harus melalui konsultasi terlebih dahulu,” kata Nanan.
Karena itu, menurut dia, pengawasan pemasaran tetap diperlukan agar keputusan orang tua tidak semata-mata dibentuk oleh promosi produk, melainkan berdasarkan kebutuhan dan kondisi kesehatan bayi. (jpg)


