Sekilas, festival ini tampak seperti lelucon massal. Patung penis raksasa, permen berbentuk vulgar, hingga parade yang memancing tawa turis.
Tapi Kanamara Festival di Kawasaki, Jepang, punya cerita yang jauh lebih serius. Di balik tampilannya yang nyeleneh, festival ini lahir dari isu kesehatan seksual dan pesan inklusivitas.
Seperti dikutip dari The Japan Times, Minggu (24/5), festival ini digelar setiap Minggu pertama April di Kuil Kanayama, Kawasaki. Acara tersebut rutin menarik 40 ribu hingga 50 ribu pengunjung.
Yang paling terkenal adalah mikoshi atau kuil portabel berbentuk falus. Salah satunya bahkan berwarna merah muda mencolok setinggi sekitar dua meter dan bernama Elizabeth.
Bagi banyak turis asing, festival ini tampak absurd. Namun pendeta wanita Kuil Kanayama, Hisae Machida, menegaskan ada makna yang dalam di baliknya.
Akar festival ini ternyata berasal dari era Edo. Saat itu, pekerja seks di penginapan sekitar datang untuk memohon perlindungan dari penyakit menular seksual dan kesembuhan bagi yang sudah terinfeksi.
Festival itu sempat meredup. Baru pada 1977, ayah Machida, Hirohiko Nakamura, menghidupkannya kembali dengan misi yang lebih luas.
Nakamura bukan sekadar pemuka agama. Ia juga seorang dokter hewan yang sangat peduli isu kemanusiaan.
Ketika epidemi AIDS mulai menjadi perhatian global pada 1980-an, ia khawatir diskriminasi terhadap kelompok tertentu akan membesar. Dari situlah festival ini berkembang menjadi ruang edukasi dan penerimaan.
Mikoshi Elizabeth sendiri bukan kebetulan. Ikon itu merupakan donasi dari kelompok drag queen untuk membantu menarik perhatian publik sekaligus menyampaikan pesan keterbukaan.
Kini, festival itu juga membagikan pamflet isu hak asasi manusia, dukungan LGBTQ+, dan pesan inklusivitas. Bendera pelangi pun terlihat terbuka di area festival.
Meski ada warga yang mengeluhkan membeludaknya turis asing, banyak warga lokal justru melihat dampak ekonominya. Festival itu ikut menghidupkan bisnis sekitar.
Machida mengatakan festival ini bukan tentang membuat orang tertawa karena hal vulgar. Tujuannya adalah membuat orang merasa diterima, lebih ringan, dan sedikit lebih bahagia saat pulang.(jpc)


