Kinerja tidak cukup dinilai dari besarnya pendapatan, laba, atau jumlah pelanggan yang dilayani. Indikator keandalan seperti frekuensi dan durasi pemadaman harus menjadi ukuran utama.
Tidak ada artinya mencatat kinerja keuangan yang baik jika masyarakat masih harus menghadapi pemadaman berulang yang menghambat aktivitas ekonomi.
Kalimantan Tengah dan berbagai daerah lainnya saat ini sedang berupaya meningkatkan daya saing ekonomi, menarik investasi, dan mempercepat transformasi digital.
Seluruh agenda tersebut membutuhkan pasokan listrik yang andal. Investor dapat menunda investasi, pelaku usaha dapat kehilangan pendapatan, dan masyarakat dapat menanggung biaya tambahan ketika pasokan listrik tidak stabil.
Karena itu, pemadaman listrik yang terjadi hari ini tidak boleh dipandang sebagai gangguan sesaat yang akan dilupakan setelah sistem kembali normal.
Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi semua pihak bahwa keandalan listrik bergantung pada kualitas pengelolaan aset yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya.
Jika ingin mencegah krisis serupa di masa depan, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuka secara transparan kondisi aset pembangkit dan melakukan audit umur ekonomis secara berkala.
Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan. Masyarakat hanya menginginkan kepastian bahwa ketika mereka membayar tagihan listrik setiap bulan, ada komitmen yang sama kuat dari penyedia layanan untuk memastikan bahwa pembangkit yang menopang kehidupan dan perekonomian bangsa tidak dibiarkan menua tanpa pengawasan yang memadai.
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya dan Ketua Dewan  Pengarah ISEI Cabang Palangka Raya untuk Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.
Kinerja tidak cukup dinilai dari besarnya pendapatan, laba, atau jumlah pelanggan yang dilayani. Indikator keandalan seperti frekuensi dan durasi pemadaman harus menjadi ukuran utama.
Tidak ada artinya mencatat kinerja keuangan yang baik jika masyarakat masih harus menghadapi pemadaman berulang yang menghambat aktivitas ekonomi.
Kalimantan Tengah dan berbagai daerah lainnya saat ini sedang berupaya meningkatkan daya saing ekonomi, menarik investasi, dan mempercepat transformasi digital.
Seluruh agenda tersebut membutuhkan pasokan listrik yang andal. Investor dapat menunda investasi, pelaku usaha dapat kehilangan pendapatan, dan masyarakat dapat menanggung biaya tambahan ketika pasokan listrik tidak stabil.
Karena itu, pemadaman listrik yang terjadi hari ini tidak boleh dipandang sebagai gangguan sesaat yang akan dilupakan setelah sistem kembali normal.
Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi semua pihak bahwa keandalan listrik bergantung pada kualitas pengelolaan aset yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya.
Jika ingin mencegah krisis serupa di masa depan, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuka secara transparan kondisi aset pembangkit dan melakukan audit umur ekonomis secara berkala.
Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan. Masyarakat hanya menginginkan kepastian bahwa ketika mereka membayar tagihan listrik setiap bulan, ada komitmen yang sama kuat dari penyedia layanan untuk memastikan bahwa pembangkit yang menopang kehidupan dan perekonomian bangsa tidak dibiarkan menua tanpa pengawasan yang memadai.
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya dan Ketua Dewan  Pengarah ISEI Cabang Palangka Raya untuk Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.