Akibatnya, daerah kaya sumber daya tetap menghadapi keterbatasan dalam membiayai pembangunan, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, maupun membangun infrastruktur dasar.
Ironisnya, ketergantungan fiskal daerah terhadap transfer pusat masih sangat tinggi.
Data fiskal menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen pendapatan APBD di Kalimantan Tengah masih berasal dari transfer pemerintah pusat.
Ketika transfer tersebut menurun, kemampuan daerah untuk menjalankan program pembangunan ikut terganggu.
Padahal, pada saat yang sama, penerimaan negara dari aktivitas ekonomi di Kalimantan Tengah masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Penerimaan pajak, bea keluar, serta aktivitas korporasi pada sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan tetap memberikan kontribusi signifikan bagi APBN.
Di sinilah letak ketimpangannya.
Negara memperoleh manfaat dari kekayaan daerah, tetapi daerah belum sepenuhnya memperoleh manfaat yang proporsional dari kekayaan yang dihasilkannya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Indonesia berisiko terjebak dalam fenomena resource curse atau kutukan sumber daya alam.
Pertumbuhan ekonomi memang tercipta, tetapi kesejahteraan tidak tersebar secara merata. Daerah penghasil menjadi lokasi eksploitasi, sementara nilai tambah dan manfaat fiskal lebih banyak mengalir ke luar daerah.
Akibatnya, daerah kaya sumber daya tetap menghadapi keterbatasan dalam membiayai pembangunan, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, maupun membangun infrastruktur dasar.
Ironisnya, ketergantungan fiskal daerah terhadap transfer pusat masih sangat tinggi.
Data fiskal menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen pendapatan APBD di Kalimantan Tengah masih berasal dari transfer pemerintah pusat.
Ketika transfer tersebut menurun, kemampuan daerah untuk menjalankan program pembangunan ikut terganggu.
Padahal, pada saat yang sama, penerimaan negara dari aktivitas ekonomi di Kalimantan Tengah masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Penerimaan pajak, bea keluar, serta aktivitas korporasi pada sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan tetap memberikan kontribusi signifikan bagi APBN.
Di sinilah letak ketimpangannya.
Negara memperoleh manfaat dari kekayaan daerah, tetapi daerah belum sepenuhnya memperoleh manfaat yang proporsional dari kekayaan yang dihasilkannya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Indonesia berisiko terjebak dalam fenomena resource curse atau kutukan sumber daya alam.
Pertumbuhan ekonomi memang tercipta, tetapi kesejahteraan tidak tersebar secara merata. Daerah penghasil menjadi lokasi eksploitasi, sementara nilai tambah dan manfaat fiskal lebih banyak mengalir ke luar daerah.