Fajar pagi di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau dalam beberapa hari ini kerap menyajikan pemandangan yang mengkhawatirkan. Anak-anak di bawah umur, dengan seragam sekolah, melaju dengan sepeda listrik di jalan raya tanpa pengawasan orang tua.
HABIBULLAH, LAMANDAU
MEREKA tidak memakai helm. Berboncengan lebih dari kapasitas, dan bahkan saling kejar-kejaran atau beriringan dengan kecepatan tinggi.
“Sering kaget kalau pas nyetir mobil tiba-tiba ada anak kecil naik sepeda listrik motong jalan tanpa sen. Mana enggak pakai helm. Kecepatannya juga lumayan kencang. Kita yang dewasa ngeri juga kalau menabrak,” kata Rahman, seorang pengendara roda empat saat dimintai tanggapan, Selasa (23/6/2026).
Menyikapi kondisi fenomena yang kian mengkhawatirkan ini, aparat kepolisian lantas tidak mau tinggal diam. Kapolres Lamandau melalui Kasatlantas Polres Lamandau, AKP Dindin Mahmudin, turun ke jalan memberikan imbauan tegas namun penuh empati kepada masyarakat.
Khususnya kepada para orang tua untuk tidak membiarkan anak-anak mereka mengendarai sepeda listrik di jalan raya.
“Anak-anak belum memiliki stabilitas emosi dan pemahaman yang matang tentang rambu-rambu serta etika lalu lintas,” ujarnya.
Untuk itu, AKP Dindin Mahmudin sangat meminta orang tua untuk lebih bijak dan tidak membiarkan anak-anak mereka menantang bahaya di jalan raya.
“Tolong awasi anak-anak kita. Jangan tunggu sampai terjadi kecelakaan atau hal-hal yang tidak kita inginkan, baru menyesal. Kasih sayang kepada anak bukan berarti membebaskan mereka menantang bahaya di jalan raya,” tegasnya.
Jalan raya Kota Nanga Bulik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua orang. Kini, bola panas berada di tangan para orang tua. Apakah akan tetap membiarkan ego sang anak memacu gas, atau menarik rem demi menyelamatkan nyawa buah hati mereka.(*)


