29.1 C
Jakarta
Sunday, April 6, 2025

Kurikulum dan Ijazah Sama Seperti Sekolah di Indonesia

SIDH menjadi jujukan WNI di seantero Eropa yang menginginkan anak-anak
mereka tak lagi harus mengulang kelas sekembali ke Indonesia kelak. Muridnya
ratusan, mulai SD sampai SMA, dengan guru-guru yang mesti mampu mengajar lintas
level.

 

DINARSA
KURNIAWAN
, Berlin, Jawa Pos

 

SEORANG anak
perempuan serius memandang layar laptop di hadapannya. Sesekali dia mencatat
sesuatu di buku catatan yang diletakkannya di sebelah komputer portabel
tersebut. Andrea Zivareta Ramadani, si upik tersebut, adalah siswi Sekolah
Indonesia Den Haag (SIDH), Belanda, yang sedang mengikuti pembelajaran jarak
jauh (PJJ) dari Berlin, Jerman. Siswi 10 tahun tersebut harus bergabung dengan
program PJJ karena memang dirinya tidak tinggal di satu tempat dengan SIDH. Dia
mengikuti berbagai pelajaran via Google Meet setiap sore,
mulai Senin sampai Jumat.

Kebetulan,
Jerman dan Belanda yang bertetangga berada dalam zona waktu yang sama. ’’Pelajarannya
sih sama seperti waktu masih sekolah di Indonesia. Sama-sama sekolah online
juga,’’ ungkap siswi kelas IV SD yang sebelumnya bersekolah di SDN Medokan Ayu
2 Surabaya itu.

Dia
berada di Jerman mengikuti bundanya, Ana Setyastuti, yang sedang mengambil
pendidikan doktoral di Universitas Humboldt, Berlin, Jerman. Menurut Ana,
dirinya menyekolahkan sang buah hati di SIDH agar setelah kembali ke tanah air
tidak perlu lagi melakukan penyesuaian jenjang pendidikan. Itu mengingat
kurikulum di sekolah lokal Jerman dengan di Indonesia sangat berbeda.

’’Walau
begitu, anak saya tetap saya sekolahkan di sini. Jadi, mereka sekarang sekolah
tatap muka sekaligus sekolah daring,’’ ucap alumnus Universitas Airlangga
Surabaya tersebut.

SIDH
memang menjadi satu-satunya pilihan bagi orang tua asal Indonesia yang ingin
menyekolahkan anak-anak mereka di Eropa, namun saat kembali tidak harus
mengulang kelas. Sebab, SIDH memiliki kurikulum yang sama dengan di Indonesia.

Baca Juga :  Pohon Pelangi, Pohon Langka yang Hanya Ada Satu di Surabaya

Jadi,
ketika kembali ke tanah air, mereka tinggal melanjutkan pendidikan ke jenjang
berikutnya. Begitu juga kalau lulus dari SIDH, ijazah yang mereka terima bisa
digunakan untuk mendaftarkan diri ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Herman
Tahir, kepala SIDH, saat diwawancarai melalui sambungan telepon menyatakan,
sama seperti sekolah-sekolah di tanah air, sekolah yang dipimpinnya juga berhak
menyelenggarakan ujian nasional (UN) yang menjadi syarat kelulusan siswa.
’’Namun, untuk tahun ini, sudah tidak ada UN, melainkan diganti dengan asesmen
kompetensi minimum,’’ kata pria 52 tahun itu. ’’Tapi, kami masih menunggu
juknisnya (petunjuk teknis) dari Kemendikbud,’’ imbuhnya.

Pria yang
tiba di Negeri Oranye pada Agustus lalu tersebut menerangkan, SIDH diresmikan
duta besar Indonesia untuk Belanda waktu itu, Soedjarwo Tjondronegoro, di
Rijksstraatweg 679, 2245 CB, Wassenaar, pada 17 Agustus 1965.Awalnya, sekolah
itu bernama Sekolah Indonesia Nederland. Kemudian berubah menjadi Sekolah
Kedutaan RI di Wassenaar sebelum kembali ke nama awal dan akhirnya diubah
namanya menjadi SIDH pada 2015. Lokasi SIDH berada di bangunan di bawah kuasa
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dalam hal ini KBRI di Belanda.

Saat ini
perangkat hukum yang mengatur sekolah itu adalah Peraturan Bersama Kementerian
Luar Negeri Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 7 Tahun 2015 dan Nomor 1 Tahun 2015. Herman mengatakan, saat ini SIDH
memiliki 177 siswa, mulai SD sampai SMA. Mereka terbagi menjadi siswa reguler
dan siswa PJJ. ’’Siswa regulernya 31. Mereka selama ini sekolah tatap muka.
Namun, karena pandemi Covid- 19, kami memilih sekolah dari rumah untuk
sementara,’’ ungkap dia.

Baca Juga :  Pelaku Fotografi Kerap Terjebak pada Industri Alat, Bukan Industri Kre

Mantan
kepala SMP Negeri 1 Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, itu menyatakan,
pihaknya memilih sekolah dari rumah meski pemerintah Belanda masih mengizinkan
sekolah tatap muka. Dia mengambil langkah tersebut karena melihat kenyataan
bahwa Den Haag merupakan salah satu pusat persebaran Covid-19 di Belanda.

Para guru
tersebut mengajar para siswa pada pukul 09.00 sampai 13.00 untuk jenjang SD.
Kemudian, untuk siswa SMP dan SMA, mereka belajar pada pukul 09.00 sampai
16.00. Di samping menerima pelajaran layaknya sekolah-sekolah di Indonesia,
mereka mendapat pelajaran bahasa asing selain bahasa Inggris. Yakni, bahasa
Belanda dan Prancis.

Sementara
itu, mengenai PJJ, Herman mengatakan bahwa murid-muridnya tersebar di berbagai
negara di Eropa. Misalnya, Andrea yang mengikuti kelas PJJ SIDH dari ibu kota
Jerman. Guru yang menangani mereka pun berbeda dengan yang mengajar di kelas
reguler. Jumlah seluruhnya 20 orang yang mengajar murid pada jenjang SD, SMP,
dan SMA. Di antara mereka, ada dua yang mengajar dari Jakarta.

Dia
mengakui, memang belum banyak orang yang mengetahui tentang SIDH. Karena itu,
dia merasa harus melakukan publikasi lebih luas. Ana, misalnya, mengaku
mengetahui SIDH melalui info dari mulut ke mulut.

Karena
itulah, lanjut Herman, pihaknya sering mengikutkan anak-anak ke berbagai
kegiatan. ’’Kami juga sering melakukan road show ke berbagai kota di Belanda
dan bertemu dengan para diaspora Indonesia,’’ ujarnya.

Herman sangat berharap pandemi segera berlalu
dan anak-anak bisa kembali ke sekolah. ’’Saya dan guru-guru ingin ketemu
anak-anak lagi. Sudah kangen sama mereka. Karena kami di sini sudah seperti
keluarga,’’ katanya.

SIDH menjadi jujukan WNI di seantero Eropa yang menginginkan anak-anak
mereka tak lagi harus mengulang kelas sekembali ke Indonesia kelak. Muridnya
ratusan, mulai SD sampai SMA, dengan guru-guru yang mesti mampu mengajar lintas
level.

 

DINARSA
KURNIAWAN
, Berlin, Jawa Pos

 

SEORANG anak
perempuan serius memandang layar laptop di hadapannya. Sesekali dia mencatat
sesuatu di buku catatan yang diletakkannya di sebelah komputer portabel
tersebut. Andrea Zivareta Ramadani, si upik tersebut, adalah siswi Sekolah
Indonesia Den Haag (SIDH), Belanda, yang sedang mengikuti pembelajaran jarak
jauh (PJJ) dari Berlin, Jerman. Siswi 10 tahun tersebut harus bergabung dengan
program PJJ karena memang dirinya tidak tinggal di satu tempat dengan SIDH. Dia
mengikuti berbagai pelajaran via Google Meet setiap sore,
mulai Senin sampai Jumat.

Kebetulan,
Jerman dan Belanda yang bertetangga berada dalam zona waktu yang sama. ’’Pelajarannya
sih sama seperti waktu masih sekolah di Indonesia. Sama-sama sekolah online
juga,’’ ungkap siswi kelas IV SD yang sebelumnya bersekolah di SDN Medokan Ayu
2 Surabaya itu.

Dia
berada di Jerman mengikuti bundanya, Ana Setyastuti, yang sedang mengambil
pendidikan doktoral di Universitas Humboldt, Berlin, Jerman. Menurut Ana,
dirinya menyekolahkan sang buah hati di SIDH agar setelah kembali ke tanah air
tidak perlu lagi melakukan penyesuaian jenjang pendidikan. Itu mengingat
kurikulum di sekolah lokal Jerman dengan di Indonesia sangat berbeda.

’’Walau
begitu, anak saya tetap saya sekolahkan di sini. Jadi, mereka sekarang sekolah
tatap muka sekaligus sekolah daring,’’ ucap alumnus Universitas Airlangga
Surabaya tersebut.

SIDH
memang menjadi satu-satunya pilihan bagi orang tua asal Indonesia yang ingin
menyekolahkan anak-anak mereka di Eropa, namun saat kembali tidak harus
mengulang kelas. Sebab, SIDH memiliki kurikulum yang sama dengan di Indonesia.

Baca Juga :  Pohon Pelangi, Pohon Langka yang Hanya Ada Satu di Surabaya

Jadi,
ketika kembali ke tanah air, mereka tinggal melanjutkan pendidikan ke jenjang
berikutnya. Begitu juga kalau lulus dari SIDH, ijazah yang mereka terima bisa
digunakan untuk mendaftarkan diri ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Herman
Tahir, kepala SIDH, saat diwawancarai melalui sambungan telepon menyatakan,
sama seperti sekolah-sekolah di tanah air, sekolah yang dipimpinnya juga berhak
menyelenggarakan ujian nasional (UN) yang menjadi syarat kelulusan siswa.
’’Namun, untuk tahun ini, sudah tidak ada UN, melainkan diganti dengan asesmen
kompetensi minimum,’’ kata pria 52 tahun itu. ’’Tapi, kami masih menunggu
juknisnya (petunjuk teknis) dari Kemendikbud,’’ imbuhnya.

Pria yang
tiba di Negeri Oranye pada Agustus lalu tersebut menerangkan, SIDH diresmikan
duta besar Indonesia untuk Belanda waktu itu, Soedjarwo Tjondronegoro, di
Rijksstraatweg 679, 2245 CB, Wassenaar, pada 17 Agustus 1965.Awalnya, sekolah
itu bernama Sekolah Indonesia Nederland. Kemudian berubah menjadi Sekolah
Kedutaan RI di Wassenaar sebelum kembali ke nama awal dan akhirnya diubah
namanya menjadi SIDH pada 2015. Lokasi SIDH berada di bangunan di bawah kuasa
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dalam hal ini KBRI di Belanda.

Saat ini
perangkat hukum yang mengatur sekolah itu adalah Peraturan Bersama Kementerian
Luar Negeri Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 7 Tahun 2015 dan Nomor 1 Tahun 2015. Herman mengatakan, saat ini SIDH
memiliki 177 siswa, mulai SD sampai SMA. Mereka terbagi menjadi siswa reguler
dan siswa PJJ. ’’Siswa regulernya 31. Mereka selama ini sekolah tatap muka.
Namun, karena pandemi Covid- 19, kami memilih sekolah dari rumah untuk
sementara,’’ ungkap dia.

Baca Juga :  Pelaku Fotografi Kerap Terjebak pada Industri Alat, Bukan Industri Kre

Mantan
kepala SMP Negeri 1 Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, itu menyatakan,
pihaknya memilih sekolah dari rumah meski pemerintah Belanda masih mengizinkan
sekolah tatap muka. Dia mengambil langkah tersebut karena melihat kenyataan
bahwa Den Haag merupakan salah satu pusat persebaran Covid-19 di Belanda.

Para guru
tersebut mengajar para siswa pada pukul 09.00 sampai 13.00 untuk jenjang SD.
Kemudian, untuk siswa SMP dan SMA, mereka belajar pada pukul 09.00 sampai
16.00. Di samping menerima pelajaran layaknya sekolah-sekolah di Indonesia,
mereka mendapat pelajaran bahasa asing selain bahasa Inggris. Yakni, bahasa
Belanda dan Prancis.

Sementara
itu, mengenai PJJ, Herman mengatakan bahwa murid-muridnya tersebar di berbagai
negara di Eropa. Misalnya, Andrea yang mengikuti kelas PJJ SIDH dari ibu kota
Jerman. Guru yang menangani mereka pun berbeda dengan yang mengajar di kelas
reguler. Jumlah seluruhnya 20 orang yang mengajar murid pada jenjang SD, SMP,
dan SMA. Di antara mereka, ada dua yang mengajar dari Jakarta.

Dia
mengakui, memang belum banyak orang yang mengetahui tentang SIDH. Karena itu,
dia merasa harus melakukan publikasi lebih luas. Ana, misalnya, mengaku
mengetahui SIDH melalui info dari mulut ke mulut.

Karena
itulah, lanjut Herman, pihaknya sering mengikutkan anak-anak ke berbagai
kegiatan. ’’Kami juga sering melakukan road show ke berbagai kota di Belanda
dan bertemu dengan para diaspora Indonesia,’’ ujarnya.

Herman sangat berharap pandemi segera berlalu
dan anak-anak bisa kembali ke sekolah. ’’Saya dan guru-guru ingin ketemu
anak-anak lagi. Sudah kangen sama mereka. Karena kami di sini sudah seperti
keluarga,’’ katanya.

Terpopuler

Artikel Terbaru