Fleksibilitas dan kemampuan membaca tren pasar menjadi senjata utama Kreasi Kayukuu untuk terus bertumbuh. Tidak lagi monoton memproduksi kaligrafi keagamaan, Fatta melebarkan sayap bisnisnya ke ranah dekorasi pesta pernikahan (wedding decoration), aksesori ulang tahun, papan nama kantor, hingga berbagai produk pajangan sesuai pesanan khusus (custom).
Saat ini, workshop Kreasi Kayukuu mengandalkan empat pilar bahan baku utama plywood (kayu lapis), akrilik, kertas premium, dan kayu pinus
Dari kombinasi bahan tersebut, Fatta bersama timnya sukses melahirkan hampir 600 jenis variasi produk. Dinamika bisnis ini pun berdampak masif pada ekonomi lingkungan sekitar. Usaha yang awalnya hanya digerakkan oleh dua orang ini, sekarang telah mempekerjakan lebih dari 50 karyawan lokal. Omzet penjualannya pun melesat ugal-ugalan, menyentuh angka rata-rata Rp700 juta hingga Rp800 juta per bulan.
Lompatan kelas Kreasi Kayukuu dari skala rumahan menuju korporasi ekspor tidak lepas dari campur tangan kebijakan pemerintah daerah. Fatta mengaku sangat terbantu dengan berbagai program pelatihan ekspor, digitalisasi pemasaran, serta fasilitasi pameran bergengsi berskala internasional seperti Inacraft pada Februari 2026 lalu yang dijembatani oleh Dekranasda Jawa Tengah.
“Kami sangat terbantu dengan fasilitas pemerintah. Bagi saya, pemerintah itu memberikan pemantik atau apinya, sementara kami sebagai pelaku usaha yang harus terus belajar, bergerak, dan mengembangkan diri di lapangan,” kata Fatta bijak.
Fleksibilitas dan kemampuan membaca tren pasar menjadi senjata utama Kreasi Kayukuu untuk terus bertumbuh. Tidak lagi monoton memproduksi kaligrafi keagamaan, Fatta melebarkan sayap bisnisnya ke ranah dekorasi pesta pernikahan (wedding decoration), aksesori ulang tahun, papan nama kantor, hingga berbagai produk pajangan sesuai pesanan khusus (custom).
Saat ini, workshop Kreasi Kayukuu mengandalkan empat pilar bahan baku utama plywood (kayu lapis), akrilik, kertas premium, dan kayu pinus
Dari kombinasi bahan tersebut, Fatta bersama timnya sukses melahirkan hampir 600 jenis variasi produk. Dinamika bisnis ini pun berdampak masif pada ekonomi lingkungan sekitar. Usaha yang awalnya hanya digerakkan oleh dua orang ini, sekarang telah mempekerjakan lebih dari 50 karyawan lokal. Omzet penjualannya pun melesat ugal-ugalan, menyentuh angka rata-rata Rp700 juta hingga Rp800 juta per bulan.
Lompatan kelas Kreasi Kayukuu dari skala rumahan menuju korporasi ekspor tidak lepas dari campur tangan kebijakan pemerintah daerah. Fatta mengaku sangat terbantu dengan berbagai program pelatihan ekspor, digitalisasi pemasaran, serta fasilitasi pameran bergengsi berskala internasional seperti Inacraft pada Februari 2026 lalu yang dijembatani oleh Dekranasda Jawa Tengah.
“Kami sangat terbantu dengan fasilitas pemerintah. Bagi saya, pemerintah itu memberikan pemantik atau apinya, sementara kami sebagai pelaku usaha yang harus terus belajar, bergerak, dan mengembangkan diri di lapangan,” kata Fatta bijak.