PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Sungai Kahayan tidak hanya menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat di Kota Palangka Raya, tetapi juga berbagai kisah mistis yang dipercaya sebagian masyarakat setempat hingga kini.
Damang Kepala Adat Kecamatan Pahandut, Wiliam Ngabe Soekah. Mengungkap sejumlah cerita yang berkembang di tengah masyarakat mengenai keberadaan sosok gaib di kawasan Sungai Kahayan, termasuk sekitar Jembatan Kahayan.
Salah satu yang dipercaya masyarakat adalah keberadaan pusaran air di bagian tertentu sungai. Pusaran tersebut diyakini memiliki daya sedot yang kuat dan dalam kepercayaan masyarakat adat, berkaitan dengan alam lain yang tidak kasat mata.
Selain itu, terdapat cerita mengenai sosok buaya putih yang dipercaya bukan sekadar hewan biasa. Masyarakat meyakini sosok tersebut merupakan penunggu sungai yang dapat mengambil wujud manusia.
“Dulu kalau ada kejadian orang tenggelam, biasanya dilakukan ritual. Tujuannya agar tidak berulah lagi atau tidak mengambil orang yang mandi di tempat tersebut,” ujar Wiliam pada Kamis (13/8/2026).
Kepercayaan lainnya berkaitan dengan pohon beringin yang berada di sekitar kawasan Jembatan Kahayan. Konon, terdapat sosok perempuan yang dipercaya sebagai penunggu pohon tersebut.
Wiliam bahkan menceritakan pengalaman yang pernah dialami seorang anggota Bhabinkamtibmas, ketika dirinya masih menjabat sebagai Lurah Pahandut Seberang.
Saat itu, seorang polisi tengah berjalan pada sore hari. Ia kemudian melihat sosok perempuan cantik dengan rambut panjang hingga mencapai kaki.
Sosok perempuan tersebut disebut memanggil anggota polisi itu. Namun, ketika diperhatikan lebih dekat, terdapat sesuatu yang membuatnya ketakutan.
“Kakinya tidak menapak tanah. Setelah melihat itu, dia langsung lari terbirit-birit,” ungkapnya.
Menurut Wiliam, cerita-cerita tersebut telah lama berkembang dan menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat. Ia menyebut, hampir setiap tahun selalu ada kejadian orang tenggelam di kawasan Sungai Kahayan.
Karena itu, dirinya menyarankan Pemerintah Kota Palangka Raya untuk mempertimbangkan kembali pelaksanaan ritual adat Mambaleh Bunu, yang secara tradisi dipercaya sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan dan alam sekitar.
Meski demikian, berbagai cerita mistis tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan cerita turun-temurun masyarakat. Sementara terkait kasus orang tenggelam, masyarakat tetap diimbau untuk mengutamakan keselamatan dan tidak melakukan aktivitas di kawasan sungai yang berbahaya, terutama di sekitar pusaran atau bagian sungai yang memiliki arus kuat. (jef)


