Rupiah Terancam Melemah ke Rp 18.060, Pasar Respons Negatif Pengunduran Diri Gubernur BI

PROKALTENG.CO– Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7), setelah sebelummya ditutup melemah melemah 46 poin menjadi Rp 18.009 per dollar AS pada perdagangan Senin (27/7).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri

“Untuk perdagangan (28/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.010-Rp 18.060,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (28/7).

Ibrahim mengatakan, pengunduran Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mendapatkan respon negatif dari pasar.

Menurutnya, Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara AS dan Iran, membuat Presiden, pemerintah dan DPR sering melakukan intervensi terhadap independensi Bank Indonesia bahkan tidak jauh dari kata mundur untuk Perry Warjiyo.

Baca Juga :  Jurnalis Kalteng Masuk ke Dapur Uang RI, Begini Ketatnya Proses Cetak Rupiah di Peruri

“Pasar merespon negatif terhadap mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dari jabatannya. Surat pengunduran diri diajukan Pery ke Presiden Prabowo Subianto per kemarin,” ujarnya.

Selain itu, rasio utang Indonesia yang berada di kisaran 40 persen terhadap produk domestic bruto (PDB) perlu dilihat bersama dengan kemampuan pemerintah dalam membayar utang serta kualitas penggunaan utang tersebut. Rasio utang pemerintah terhadap PDB tidak bisa dilihat secara sederhana hanya berdasarkan angka persentasenya.

Electronic money exchangers listing

Indikator rasio utang terhadap PDB memang menjadi salah satu ukuran yang lazim digunakan oleh lembaga internasional seperti IMF. Namun, indikator tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kesehatan fiskal suatu negara.

Baca Juga :  BRI Gelar Buka Puasa Bersama Pemred, Bahas Ekonomi hingga Masa Depan Media

“Indikator yang lebih penting untuk diperhatikan adalah rasio pembayaran utang beserta bunganya terhadap pendapatan negara. Indikator tersebut, lebih menggambarkan kemampuan riil pemerintah dalam memenuhi kewajiban utangnya,” ucapnya.(jpg)

 

PROKALTENG.CO– Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7), setelah sebelummya ditutup melemah melemah 46 poin menjadi Rp 18.009 per dollar AS pada perdagangan Senin (27/7).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri

“Untuk perdagangan (28/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.010-Rp 18.060,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (28/7).

Electronic money exchangers listing

Ibrahim mengatakan, pengunduran Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mendapatkan respon negatif dari pasar.

Menurutnya, Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara AS dan Iran, membuat Presiden, pemerintah dan DPR sering melakukan intervensi terhadap independensi Bank Indonesia bahkan tidak jauh dari kata mundur untuk Perry Warjiyo.

Baca Juga :  Jurnalis Kalteng Masuk ke Dapur Uang RI, Begini Ketatnya Proses Cetak Rupiah di Peruri

“Pasar merespon negatif terhadap mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dari jabatannya. Surat pengunduran diri diajukan Pery ke Presiden Prabowo Subianto per kemarin,” ujarnya.

Selain itu, rasio utang Indonesia yang berada di kisaran 40 persen terhadap produk domestic bruto (PDB) perlu dilihat bersama dengan kemampuan pemerintah dalam membayar utang serta kualitas penggunaan utang tersebut. Rasio utang pemerintah terhadap PDB tidak bisa dilihat secara sederhana hanya berdasarkan angka persentasenya.

Indikator rasio utang terhadap PDB memang menjadi salah satu ukuran yang lazim digunakan oleh lembaga internasional seperti IMF. Namun, indikator tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kesehatan fiskal suatu negara.

Baca Juga :  BRI Gelar Buka Puasa Bersama Pemred, Bahas Ekonomi hingga Masa Depan Media

“Indikator yang lebih penting untuk diperhatikan adalah rasio pembayaran utang beserta bunganya terhadap pendapatan negara. Indikator tersebut, lebih menggambarkan kemampuan riil pemerintah dalam memenuhi kewajiban utangnya,” ucapnya.(jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru