Warga Lamandau Mengeluh, Gas LPG 3 Kg Langka dan Harganya Melambung Tinggi di Pangkalan

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Selain BBM jenis Pertalite eceran yang dilaporkan kosong, masyarakat Kabupaten Lamandau, kini juga dihadapkan pada kesulitan baru.

Gas LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram (kg) dilaporkan langka dan mengalami lonjakan harga yang signifikan, bahkan di tingkat pangkalan resmi.

Keluhan ini disampaikan oleh salah satu warga Kabupaten Lamandau berinisial GT. Ia mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan tabung gas “melon” tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

“Saya beli kemarin, pihak pangkalan mengatakan bahwa stok habis. Padahal saya tahu masih ada, tapi alasannya sudah dipesan orang lain,” ungkap GT kepada media di Nanga Bulik, Jumat (17/7).

Tidak hanya langka, GT juga membeberkan bahwa sejumlah pangkalan saat ini terkesan memanfaatkan situasi dengan berani menjual LPG 3 kg jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga :  Tarik 500 Tentara dari Suriah, AS Serahkan Pangkalan ke Pasukan Lokal

Di wilayah perkotaan Nanga Bulik, harga di pangkalan resmi sudah menyentuh angka puluhan ribu rupiah.

“Harga Normal Baru di Pangkalan berkisar antara Rp35.000 hingga Rp 40.000 per tabung,” ungkapnya.

Electronic money exchangers listing

“Harga Khusus warga Desa Berkisar antara Rp 43.000 hingga Rp 45.000 per tabung,” lanjutnya.

Menurut GT, pangkalan sengaja mematok harga lebih tinggi hingga mencapai Rp45.000 apabila ada masyarakat atau pedagang dari wilayah pedesaan yang datang langsung untuk membeli atau memesan di Kota Nanga Bulik.

“Sampai 43 ribu hingga 45 ribu mas kalau orang dari desa yang ngambil di pangkalan wilayah kota Nanga Bulik ini. Pangkalan sekarang sudah berani jual harga tinggi,” jelasnya memungkasi.

Baca Juga :  Memanas Lagi! AS Gempur Lebih dari 80 Target Iran, Teheran Balas Serang Pangkalan Militer di Kuwait dan Bahrain

Masyarakat berharap pihak dinas terkait dan aparat penegak hokum, segera turun tangan melakukan pengawasan dan menindak tegas oknum pangkalan nakal yang menimbun atau menjual barang subsidi di atas kewajaran, demi menjaga stabilitas harga dan daya beli warga. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Selain BBM jenis Pertalite eceran yang dilaporkan kosong, masyarakat Kabupaten Lamandau, kini juga dihadapkan pada kesulitan baru.

Gas LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram (kg) dilaporkan langka dan mengalami lonjakan harga yang signifikan, bahkan di tingkat pangkalan resmi.

Keluhan ini disampaikan oleh salah satu warga Kabupaten Lamandau berinisial GT. Ia mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan tabung gas “melon” tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Electronic money exchangers listing

“Saya beli kemarin, pihak pangkalan mengatakan bahwa stok habis. Padahal saya tahu masih ada, tapi alasannya sudah dipesan orang lain,” ungkap GT kepada media di Nanga Bulik, Jumat (17/7).

Tidak hanya langka, GT juga membeberkan bahwa sejumlah pangkalan saat ini terkesan memanfaatkan situasi dengan berani menjual LPG 3 kg jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga :  Tarik 500 Tentara dari Suriah, AS Serahkan Pangkalan ke Pasukan Lokal

Di wilayah perkotaan Nanga Bulik, harga di pangkalan resmi sudah menyentuh angka puluhan ribu rupiah.

“Harga Normal Baru di Pangkalan berkisar antara Rp35.000 hingga Rp 40.000 per tabung,” ungkapnya.

“Harga Khusus warga Desa Berkisar antara Rp 43.000 hingga Rp 45.000 per tabung,” lanjutnya.

Menurut GT, pangkalan sengaja mematok harga lebih tinggi hingga mencapai Rp45.000 apabila ada masyarakat atau pedagang dari wilayah pedesaan yang datang langsung untuk membeli atau memesan di Kota Nanga Bulik.

“Sampai 43 ribu hingga 45 ribu mas kalau orang dari desa yang ngambil di pangkalan wilayah kota Nanga Bulik ini. Pangkalan sekarang sudah berani jual harga tinggi,” jelasnya memungkasi.

Baca Juga :  Memanas Lagi! AS Gempur Lebih dari 80 Target Iran, Teheran Balas Serang Pangkalan Militer di Kuwait dan Bahrain

Masyarakat berharap pihak dinas terkait dan aparat penegak hokum, segera turun tangan melakukan pengawasan dan menindak tegas oknum pangkalan nakal yang menimbun atau menjual barang subsidi di atas kewajaran, demi menjaga stabilitas harga dan daya beli warga. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru