Harga Minyak Naik Lagi, Gangguan Pipa Arab Saudi Ancam Pasokan Global

PROKALTENG.CO-Harga minyak mentah dunia kompak naik pada perdagangan Selasa (15/9) pagi akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan masih berlanjut setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi membuat pipa East-West milik kerajaan tersebut tidak beroperasi.

Melansir Investing pada pukul 08.35 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,27 poin atau 0,24 persen ke level USD 106,59 per barel. Atau lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Senin (14/9) pagi sebesar USD 107,68 per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,09 poin atau 1,10 persen ke level USD 102,49 per barel. Atau lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Senin (14/9) pagi sebesar USD 102,81 per barel.

Dilansir Reuters, Pasukan Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi pada Senin. Sementara itu, negara-negara Arab di kawasan Teluk menunda pembicaraan yang telah direncanakan dengan Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas dan mengganggu pasokan minyak global.

Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap pangkalan udara militer Khamis Mushait di wilayah selatan Arab Saudi. Serangan tersebut menyasar hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi sebagai aksi balasan atas serangan Arab Saudi di Yaman.

Baca Juga :  Ketegangan AS dan Iran Kembali Picu Lonjakan Harga Minyak

Serangan tersebut terjadi setelah serangan pada Jumat terhadap Arab Saudi yang oleh Riyadh dituduhkan dilakukan kelompok yang didukung Iran di Irak. Serangan itu mengganggu operasional pipa East-West milik Arab Saudi, yang memungkinkan ekspor minyak dialihkan untuk menghindari Selat Hormuz yang diblokade.

“Para pedagang minyak menganggap setiap serangan baru atau kerusakan terhadap infrastruktur sebagai tambahan risiko terhadap pasokan. Mereka juga sangat sensitif terhadap setiap tanda bahwa operasional pipa East-West atau arus minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali normal,” kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer.

Electronic money exchangers listing

Selain itu, lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz turun menjadi kurang dari 10 pelayaran per hari selama akhir pekan, dari rata-rata 14 pelayaran dalam 10 hari terakhir. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur strategis yang sebelum perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari biasanya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga :  Wow…! Bonus Emas Asian Games 2026 Naik, Prabowo Janjikan Rp3 Miliar

Arab Saudi berpotensi mulai kehabisan minyak yang tersedia untuk ekspor dalam beberapa hari ke depan jika operasional pipa East-West tidak segera dipulihkan. Gangguan tersebut berpotensi menghilangkan hingga 4 persen pasokan minyak global dari pasar, menurut pembeli dan pedagang minyak Arab Saudi.

Sebagai eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi menggunakan pipa tersebut untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4 persen dari pasokan global, menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

“Pertanyaan besar bagi para pedagang saat ini adalah berapa lama gangguan pada pipa East-West akan berlangsung. Setiap gangguan berkepanjangan dan hilangnya pasokan yang menyertainya dapat dengan mudah mendorong harga ke level yang lebih tinggi,” ujar Waterer.

Secara terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pada Senin bahwa Kyiv siap mendukung proposal Amerika Serikat untuk melakukan gencatan senjata Rusia-Ukraina yang hanya mencakup fasilitas energi. Namun, dukungan tersebut diberikan dengan syarat Washington dapat memastikan Moskow benar-benar siap mengakhiri perang di Ukraina. (jpc)

PROKALTENG.CO-Harga minyak mentah dunia kompak naik pada perdagangan Selasa (15/9) pagi akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan masih berlanjut setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi membuat pipa East-West milik kerajaan tersebut tidak beroperasi.

Melansir Investing pada pukul 08.35 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,27 poin atau 0,24 persen ke level USD 106,59 per barel. Atau lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Senin (14/9) pagi sebesar USD 107,68 per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,09 poin atau 1,10 persen ke level USD 102,49 per barel. Atau lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Senin (14/9) pagi sebesar USD 102,81 per barel.

Electronic money exchangers listing

Dilansir Reuters, Pasukan Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi pada Senin. Sementara itu, negara-negara Arab di kawasan Teluk menunda pembicaraan yang telah direncanakan dengan Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas dan mengganggu pasokan minyak global.

Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap pangkalan udara militer Khamis Mushait di wilayah selatan Arab Saudi. Serangan tersebut menyasar hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi sebagai aksi balasan atas serangan Arab Saudi di Yaman.

Baca Juga :  Ketegangan AS dan Iran Kembali Picu Lonjakan Harga Minyak

Serangan tersebut terjadi setelah serangan pada Jumat terhadap Arab Saudi yang oleh Riyadh dituduhkan dilakukan kelompok yang didukung Iran di Irak. Serangan itu mengganggu operasional pipa East-West milik Arab Saudi, yang memungkinkan ekspor minyak dialihkan untuk menghindari Selat Hormuz yang diblokade.

“Para pedagang minyak menganggap setiap serangan baru atau kerusakan terhadap infrastruktur sebagai tambahan risiko terhadap pasokan. Mereka juga sangat sensitif terhadap setiap tanda bahwa operasional pipa East-West atau arus minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali normal,” kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer.

Selain itu, lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz turun menjadi kurang dari 10 pelayaran per hari selama akhir pekan, dari rata-rata 14 pelayaran dalam 10 hari terakhir. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur strategis yang sebelum perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari biasanya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga :  Wow…! Bonus Emas Asian Games 2026 Naik, Prabowo Janjikan Rp3 Miliar

Arab Saudi berpotensi mulai kehabisan minyak yang tersedia untuk ekspor dalam beberapa hari ke depan jika operasional pipa East-West tidak segera dipulihkan. Gangguan tersebut berpotensi menghilangkan hingga 4 persen pasokan minyak global dari pasar, menurut pembeli dan pedagang minyak Arab Saudi.

Sebagai eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi menggunakan pipa tersebut untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4 persen dari pasokan global, menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

“Pertanyaan besar bagi para pedagang saat ini adalah berapa lama gangguan pada pipa East-West akan berlangsung. Setiap gangguan berkepanjangan dan hilangnya pasokan yang menyertainya dapat dengan mudah mendorong harga ke level yang lebih tinggi,” ujar Waterer.

Secara terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pada Senin bahwa Kyiv siap mendukung proposal Amerika Serikat untuk melakukan gencatan senjata Rusia-Ukraina yang hanya mencakup fasilitas energi. Namun, dukungan tersebut diberikan dengan syarat Washington dapat memastikan Moskow benar-benar siap mengakhiri perang di Ukraina. (jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru