Analisis Insiden Virgo Transport 8: Cuaca Buruk dan Masalah Manifest Penumpang

PROKALTENG.CO-Kecelakaan yang melibatkan Kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa mendapat perhatian dari akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Pengamat Transportasi Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perencanaan ITS, Putu Rudy Setiawan, Ir., M.Sc., menilai terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian dalam insiden kapal yang membawa ratusan penumpang tersebut.

Kapal Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9). Kapal sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Banjarmasin pada Sabtu (12/9).

Data Basarnas kapal tersebut mengangkut 234 penumpang. Hingga Senin (14/9), proses pencarian dan penyelamatan masih dilakukan oleh pihak terkait.

Sementara itu, keluarga penumpang terus berdatangan ke sejumlah posko informasi di Terminal Gapura Surya Nusantara untuk mendapatkan kabar mengenai kondisi anggota keluarga mereka.

Putu mengatakan, dari sisi usia, Kapal Virgo Transport 8 sebenarnya masih tergolong layak untuk beroperasi. Ia juga menyebut kapal tersebut disebut rutin menjalani proses docking.

“Dari beberapa informasi yang saya baca di media, kapal juga rutin melakukan dock,” kata Putu saat dikonfirmasi, Senin (14/9).

Electronic money exchangers listing

Menurutnya, salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam insiden tersebut adalah kondisi cuaca. Cuaca buruk dapat menyebabkan gelombang tinggi dan berpotensi mengganggu stabilitas kapal hingga mengalami kemiringan.

Namun, selain faktor alam, Putu menyoroti aspek komunikasi keselamatan antara kru kapal dan penumpang.

Baca Juga :  Pengakuan Perwira Brimob dalam Insiden Driver Ojol: Baru Tahu Melindas setelah Video Viral

Dia menduga terdapat persoalan dalam penyampaian peringatan kepada penumpang sebelum situasi menjadi semakin berbahaya.

“Yang menjadi sorotan saya adalah diduga tidak adanya warning dari kapten kapal kepada penumpang. Informasi tersebut banyak disebutkan di media sosial oleh penumpang yang selamat,” ujarnya.

Putu juga menyoroti waktu terjadinya insiden yang diperkirakan sekitar pukul 02.00 WIB.

Menurutnya, waktu kejadian menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses evakuasi. Pada jam tersebut, sebagian besar penumpang kemungkinan masih beristirahat di kamar.

“Bisa jadi yang separuh ini masih ada di dalam kamar, karena kapal ini termasuk kapal yang cukup luxury, dan ada kamar-kamarnya, bisa memuat orang dan kendaraan,” jelasnya.

Ia menduga minimnya informasi atau peringatan sebelum kejadian membuat sebagian penumpang tidak sempat keluar dari kamar ketika kondisi kapal mulai mengalami masalah.

“Karena kejadiannya sekitar jam 02.00 WIB, tidak ada indikasi peringatan, maka saat peristiwa banyak penumpang yang masih tidur di dalam kamar,” imbuh Putu.

Kondisi tersebut, lanjutnya, perlu menjadi perhatian karena apabila masih terdapat penumpang yang terjebak di dalam kapal, jumlah korban dapat bertambah.

Selain faktor keselamatan, Putu turut menyinggung persoalan data penumpang atau manifest kapal.

Baca Juga :  Gelar Perkara Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Ditunda, Dijadwalkan Ulang 9 Juli

Adanya informasi mengenai penumpang yang diduga tidak tercatat dalam manifest, menurutnya, menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam sistem transportasi laut di Indonesia.

Ia menilai persoalan tersebut bukan hal baru dan perlu dibenahi secara serius agar proses pencarian maupun identifikasi korban dapat dilakukan secara lebih cepat.

“Soal itu kan penyakit lama dari transportasi laut. Transportasi yang teliti bagi saya adalah transportasi udara dan transportasi kereta api,” katanya.

Menurut Putu, manifest memiliki peran penting karena menjadi dasar pencatatan jumlah dan identitas orang yang berada di dalam kapal.

Dengan data yang akurat, petugas akan lebih mudah melakukan pencarian, sementara keluarga juga dapat memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai keberadaan kerabat mereka.

Ia menyebut potensi adanya penumpang yang tidak tercatat bisa terjadi karena sejumlah faktor, termasuk adanya orang yang masuk melalui hubungan dengan kru kapal.

“Karena ada beberapa penumpang kru kapal yang artinya dia punya kenalan, atau penumpang gelap yang punya kenalan kru kapal dan sebagainya, sehingga dia bisa masuk dan kemudian tidak tercatat di dalam manifest,” tandasnya.

Putu berharap insiden KM Virgo Transport 8 menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan pelayaran, sistem pendataan penumpang, serta mekanisme pemberian peringatan kepada penumpang dalam kondisi darurat.(jpg)

PROKALTENG.CO-Kecelakaan yang melibatkan Kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa mendapat perhatian dari akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Pengamat Transportasi Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perencanaan ITS, Putu Rudy Setiawan, Ir., M.Sc., menilai terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian dalam insiden kapal yang membawa ratusan penumpang tersebut.

Kapal Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9). Kapal sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Banjarmasin pada Sabtu (12/9).

Electronic money exchangers listing

Data Basarnas kapal tersebut mengangkut 234 penumpang. Hingga Senin (14/9), proses pencarian dan penyelamatan masih dilakukan oleh pihak terkait.

Sementara itu, keluarga penumpang terus berdatangan ke sejumlah posko informasi di Terminal Gapura Surya Nusantara untuk mendapatkan kabar mengenai kondisi anggota keluarga mereka.

Putu mengatakan, dari sisi usia, Kapal Virgo Transport 8 sebenarnya masih tergolong layak untuk beroperasi. Ia juga menyebut kapal tersebut disebut rutin menjalani proses docking.

“Dari beberapa informasi yang saya baca di media, kapal juga rutin melakukan dock,” kata Putu saat dikonfirmasi, Senin (14/9).

Menurutnya, salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam insiden tersebut adalah kondisi cuaca. Cuaca buruk dapat menyebabkan gelombang tinggi dan berpotensi mengganggu stabilitas kapal hingga mengalami kemiringan.

Namun, selain faktor alam, Putu menyoroti aspek komunikasi keselamatan antara kru kapal dan penumpang.

Baca Juga :  Pengakuan Perwira Brimob dalam Insiden Driver Ojol: Baru Tahu Melindas setelah Video Viral

Dia menduga terdapat persoalan dalam penyampaian peringatan kepada penumpang sebelum situasi menjadi semakin berbahaya.

“Yang menjadi sorotan saya adalah diduga tidak adanya warning dari kapten kapal kepada penumpang. Informasi tersebut banyak disebutkan di media sosial oleh penumpang yang selamat,” ujarnya.

Putu juga menyoroti waktu terjadinya insiden yang diperkirakan sekitar pukul 02.00 WIB.

Menurutnya, waktu kejadian menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses evakuasi. Pada jam tersebut, sebagian besar penumpang kemungkinan masih beristirahat di kamar.

“Bisa jadi yang separuh ini masih ada di dalam kamar, karena kapal ini termasuk kapal yang cukup luxury, dan ada kamar-kamarnya, bisa memuat orang dan kendaraan,” jelasnya.

Ia menduga minimnya informasi atau peringatan sebelum kejadian membuat sebagian penumpang tidak sempat keluar dari kamar ketika kondisi kapal mulai mengalami masalah.

“Karena kejadiannya sekitar jam 02.00 WIB, tidak ada indikasi peringatan, maka saat peristiwa banyak penumpang yang masih tidur di dalam kamar,” imbuh Putu.

Kondisi tersebut, lanjutnya, perlu menjadi perhatian karena apabila masih terdapat penumpang yang terjebak di dalam kapal, jumlah korban dapat bertambah.

Selain faktor keselamatan, Putu turut menyinggung persoalan data penumpang atau manifest kapal.

Baca Juga :  Gelar Perkara Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Ditunda, Dijadwalkan Ulang 9 Juli

Adanya informasi mengenai penumpang yang diduga tidak tercatat dalam manifest, menurutnya, menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam sistem transportasi laut di Indonesia.

Ia menilai persoalan tersebut bukan hal baru dan perlu dibenahi secara serius agar proses pencarian maupun identifikasi korban dapat dilakukan secara lebih cepat.

“Soal itu kan penyakit lama dari transportasi laut. Transportasi yang teliti bagi saya adalah transportasi udara dan transportasi kereta api,” katanya.

Menurut Putu, manifest memiliki peran penting karena menjadi dasar pencatatan jumlah dan identitas orang yang berada di dalam kapal.

Dengan data yang akurat, petugas akan lebih mudah melakukan pencarian, sementara keluarga juga dapat memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai keberadaan kerabat mereka.

Ia menyebut potensi adanya penumpang yang tidak tercatat bisa terjadi karena sejumlah faktor, termasuk adanya orang yang masuk melalui hubungan dengan kru kapal.

“Karena ada beberapa penumpang kru kapal yang artinya dia punya kenalan, atau penumpang gelap yang punya kenalan kru kapal dan sebagainya, sehingga dia bisa masuk dan kemudian tidak tercatat di dalam manifest,” tandasnya.

Putu berharap insiden KM Virgo Transport 8 menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan pelayaran, sistem pendataan penumpang, serta mekanisme pemberian peringatan kepada penumpang dalam kondisi darurat.(jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru