Dia menegaskan, investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada angka keuntungan yang ditawarkan, tetapi juga memahami model bisnis di balik investasi tersebut.
- Mulai dari nominal kecil secara konsisten
Banyak orang menunda investasi karena merasa belum memiliki modal besar. Padahal, menurut Lolita, kebiasaan berinvestasi jauh lebih penting dibandingkan besarnya nominal di awal.
“Dulu orang berpikir harus punya uang banyak dulu baru bisa mulai investasi. Padahal sekarang aksesnya sudah jauh lebih mudah dan nominalnya juga semakin terjangkau. Jadi, tidak perlu menunggu punya modal besar. Semakin cepat seseorang mulai berinvestasi, semakin besar peluang imbal hasil tersebut berkembang dalam jangka panjang,” ujar Lolita Setyawati.
- Ketahui ke mana dana investasi disalurkan
Selain mempertimbangkan keuntungan, sebagian investor kini juga mulai memperhatikan dampak ekonomi dari investasi yang mereka pilih.
“Bagi mereka yang kebutuhan keuangan dasarnya sudah terpenuhi, mulai muncul keinginan untuk memahami ke mana dana investasi ditempatkan dan dikelola, serta nilai tambah apa yang dapat dihasilkan. Investasi yang terhubung dengan pembiayaan produktif UMKM dapat menjadi pilihan selama investor tetap memahami legalitas, mekanisme, risiko, dan potensi imbal hasilnya,” kata Lolita.
Investasi Berbasis Pembiayaan UMKM
Salah satu platform yang menawarkan konsep tersebut adalah Amartha Prosper melalui produk Grassroots Growth Series (GGS). Produk ini menghubungkan dana investor dengan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.
Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie mengatakan, investasi berbasis ekonomi riil dapat menjadi alternatif diversifikasi portofolio di tengah kondisi pasar yang fluktuatif. Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, masyarakat perlu semakin cermat memilih produk investasi.
Dia menegaskan, investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada angka keuntungan yang ditawarkan, tetapi juga memahami model bisnis di balik investasi tersebut.
- Mulai dari nominal kecil secara konsisten
Banyak orang menunda investasi karena merasa belum memiliki modal besar. Padahal, menurut Lolita, kebiasaan berinvestasi jauh lebih penting dibandingkan besarnya nominal di awal.
“Dulu orang berpikir harus punya uang banyak dulu baru bisa mulai investasi. Padahal sekarang aksesnya sudah jauh lebih mudah dan nominalnya juga semakin terjangkau. Jadi, tidak perlu menunggu punya modal besar. Semakin cepat seseorang mulai berinvestasi, semakin besar peluang imbal hasil tersebut berkembang dalam jangka panjang,” ujar Lolita Setyawati.
- Ketahui ke mana dana investasi disalurkan
Selain mempertimbangkan keuntungan, sebagian investor kini juga mulai memperhatikan dampak ekonomi dari investasi yang mereka pilih.
“Bagi mereka yang kebutuhan keuangan dasarnya sudah terpenuhi, mulai muncul keinginan untuk memahami ke mana dana investasi ditempatkan dan dikelola, serta nilai tambah apa yang dapat dihasilkan. Investasi yang terhubung dengan pembiayaan produktif UMKM dapat menjadi pilihan selama investor tetap memahami legalitas, mekanisme, risiko, dan potensi imbal hasilnya,” kata Lolita.
Investasi Berbasis Pembiayaan UMKM
Salah satu platform yang menawarkan konsep tersebut adalah Amartha Prosper melalui produk Grassroots Growth Series (GGS). Produk ini menghubungkan dana investor dengan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.
Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie mengatakan, investasi berbasis ekonomi riil dapat menjadi alternatif diversifikasi portofolio di tengah kondisi pasar yang fluktuatif. Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, masyarakat perlu semakin cermat memilih produk investasi.