BUNTOK, PROKALTENG.CO – Wakil Bupati (Wabup) Barito Selatan (Barsel), Khristianto Yudha, secara resmi meluncurkan Sekolah Lansia “MANDIRI” di Kelurahan Hilir Sper, jumat (17/7) pagi.
Sekolah Lansia sendiri sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup para lanjut usia melalui pendidikan sepanjang hayat.
Kegiatan tersebut berlangsung sederhana dihadiri oleh Lansia di lingkungan Kelurahan Hilir Sper.
Wabup Barsel, Khristianto Yudha menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kabupaten Barsel, pengurus Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL), Pemerintah Kelurahan Hilir Sper, para kader, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi mewujudkan program tersebut.
” Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras sehingga Sekolah Lansia ‘MANDIRI’ ini dapat diwujudkan. Ini merupakan bentuk kepedulian bersama dalam meningkatkan kesejahteraan para lanjut usia di Kabupaten Barito Selatan,” ujar Khristianto Yudha.
Menurut Khristianto Yudha, meningkatnya angka harapan hidup merupakan indikator keberhasilan pembangunan.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga diikuti dengan bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia sehingga pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan para lansia tetap sehat, mandiri, produktif, bermartabat, dan bahagia menjalani masa tuanya.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari panjangnya usia masyarakat, tetapi bagaimana para lansia dapat menikmati masa tua dengan kualitas hidup yang baik serta tetap memiliki peran dalam keluarga dan masyarakat,” kata Khristianto Yudha.
Sekolah Lansia menjadi inovasi strategis karena tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga wadah berbagi pengalaman, menjaga kesehatan fisik dan mental, meningkatkan pengetahuan, memperluas pergaulan sosial, serta membangun rasa percaya diri para lansia.
Wabup Barsel juga menegaskan pentingnya mewujudkan konsep Lansia Tangguh dengan Tujuh Dimensi, yakni spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, profesional atau vokasional, serta lingkungan.
“Apabila ketujuh dimensi tersebut berkembang secara seimbang, maka lansia akan menjadi pribadi yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan tetap memiliki peran penting dalam pembangunan keluarga maupun masyarakat. Sekolah Lansia bisa dijadikan pusat pembelajaran yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial,” terangnya.
“Saya menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dengan melibatkan Dinas Kesehatan, puskesmas, pemerintah kecamatan dan kelurahan, PKK, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dunia usaha hingga masyarakat,” imbuhnya.
Wabyp Barsel berharap Sekolah Lansia “MANDIRI” di Kelurahan Hilir Sper dapat menjadi percontohan bagi desa dan kelurahan lain di Barsel sehingga semakin banyak sekolah lansia yang tumbuh dan berkembang.
Ia juga berpesan kepada seluruh peserta didik agar tetap semangat menimba ilmu meski telah memasuki usia lanjut. (ena/kpg)


