Dalam pameran tunggal ini, seniman Oky Rey Montha melakukan kilas balik perjalanan artistiknya. Ada hal-hal yang baru disadari saat ini. Dan, hal itu kemudian memperkaya setiap karya-karyanya.
”SAYA ingin melihat pertumbuhan kreativitas berkarya diri sendiri,” ujar Oky. Memang 42 karya seni rupa berupa lukisan, patung, dan instalasi yang disajikan mengesankan bagaimana perjalanan kekaryaan seorang Oky. Pameran bertajuk Pilgrimage tersebut berlangsung pada 25 November hingga 14 Desember lalu di Spac8 Astha District 8, Jakarta.
Di pintu masuk pameran, tampak sebuah lukisan berjudul Metal Shield. Lukisan itu menggambarkan karakter yang menutup telinganya. Dengan kacamata yang tecermin lingkungannya, pepohonan dan bangunan. Warnanya didominasi hitam putih. Seakan menggambarkan tak ingin mendengar apa kata orang, tapi terus menerjemahkan apa pun yang dipandang.
Oky menuturkan, karyanya berjudul Metal Shield itu merupakan karya terakhir yang dibuat untuk pameran tersebut. Ada review, ada kesimpulan, ada pula harapan yang terkandung. ”Lukisan ini menggambarkan posisi saya yang menikmati saja,” terangnya.
Oky telah berkarya hampir 15 tahun dengan jatuh bangunnya dan ’’gesekan’’ yang dialami selama berkesenian. ”Sekarang tinggal menikmati semua, menikmati proses kreatif. Ya, saya seperti mendengarkan musik,” ujar Oky, lantas tertawa.
Ada juga karyanya berjudul Drive. Lukisan acrylic on canvas yang berukuran 150 x 200 cm itu menggambarkan sosok berkepala rumah, menduduki kerbau, dan di tangannya ada semacam burung. Di sekitar sosok tersebut, ramai akan simbol. Memandang lukisan itu membuat imajinasi lari ke mana-mana.
Oky mengatakan, lukisan Drive tersebut sebenarnya adalah cermin dirinya. Kepala rumah itu merupakan rumah adat Karo, yang merepresentasikan asal muasalnya sebagai orang Karo. ”Menduduki kerbau itu juga merupakan kebiasaan di sana,” urainya.
Dengan pameran tunggal tersebut, Oky menyadari betul bagaimana perjalanan berkesenian. Oky menyadari ada hal baru, yang selama ini tidak diketahuinya. ”Aku berkarya itu kadang on fire, kadang pengen sombong, dan ada perulangan dalam setiap pameran. Jadi, lebih mengerti diri sendiri lagi,” tutur Oky.
Sementara itu, kurator pameran Bob Edrian menjelaskan mengapa menyebut karya-karya Oky riuh tapi tenang. Menurut dia, karya Oky itu hampir selalu ramai unsur narasi. Ada keriuhan narasi di dalam lukisan.
Dalam pameran tersebut, situasi Oky itu juga bisa dibilang mencapai sebuah ketenangan. ”Dari yang awalnya ingin membuat ini, tidak jadi. Ternyata arahnya ke sini, ada kelegaan,” jelas Bob. Sebagai kurator, Bob pun menyadari dalam karya Oky yang menuju 15 tahun berkarya itu terdapat karakter kuat.
Karakter karya Oky disebut Bob sangat teatrikal. Dalam satu lukisan, terdapat pemeran masing-masing. Ada dialog, bahkan ada panggungnya. Semua itu sangat konsisten dimunculkan Oky. ”Dengan pameran ini semakin muncul itu karena ada instalasi meja, ada rumah, ada patung, bahkan ada dapurnya Oky berupa drawing. Itu clue lumayan besar yang muncul,” papar Bob. (idr/c7/dra/jpg/hnd)