Pameran Lima Seniman Muda STKW Surabaya Angkat Kritik Sosial hingga Trauma Pribadi

PROKALTENG.CO-Galeri Prabangkara menjadi ruang bagi lima seniman muda untuk mengekspresikan pengalaman hidup, kritik sosial, hingga pergulatan batin melalui karya seni rupa. Pameran bersama yang berlangsung hingga 11 Juli itu menghadirkan 52 karya Rajut, Masalah Sosial, The Third Chamber, Distorsi, dan All You Can Eat.

Kelima perupa tersebut Arbi Romado Miftachul Hadi, Selawandana Putra, Ali Rohmatulloh, Faizal Dharmawan, dan Zulfikar Alwiansyah. Mereka mahasiswa Program Studi Seni Rupa STKW Surabaya.

Salah seorang peserta pameran, Selawandana Putra, mengatakan bahwa pameran tersebut menjadi wadah untuk mengubah pengalaman pribadi menjadi karya yang dapat dinikmati publik.

Menurut dia, setiap seniman memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda sehingga menghasilkan gagasan dan karakter visual yang beragam.

“Teman-teman, termasuk saya, mewujudkan ide ini dari pengalaman pribadi. Ruang hidup selalu bergerak dinamis hingga memunculkan ledakan ide, baik berupa kritik sosial maupun penyaluran energi kreatif,” ujarnya.

Baca Juga :  Pameran Lukisan Siswa Lotus Art Courses Warnai Balai Pemuda Surabaya

Seluruh karya yang dipamerkan mengajak pengunjung membaca berbagai isu, mulai identitas diri, refleksi terhadap kondisi sosial, hingga eksplorasi visual bergaya grafis dengan nuansa pop. Masing-masing seniman menampilkan karya dalam jumlah berbeda, mulai tujuh hingga belasan karya.

Selawandana sendiri menghadirkan tujuh karya yang banyak mengangkat fenomena sosial masa kini. Ia menyoroti budaya kapitalisme, fenomena fear of missing out (FOMO), hingga praktik buzzer yang dinilainya kerap membangun narasi positif untuk menutupi berbagai penyimpangan.

Electronic money exchangers listing

“Karya-karya saya berangkat dari fenomena sosial hari ini. Misalnya, Buzzer, saya ingin bercerita bahwa saat ini rupiah sering kali dianggap lebih berharga daripada tuntunan hati nurani,” katanya.

Ali Rohmatulloh, asal Bangkalan, menuangkan pengalaman traumatis melalui lukisan monokrom yang didominasi bentuk menyerupai kepulan asap membentuk lekuk tubuh. Visual tersebut menjadi simbol bayang-bayang trauma yang terus membekas dalam perjalanan hidupnya.

Baca Juga :  Sulam Silam: Pameran dalam Stoples

Menurut Ali, proses berkarya menjadi media untuk mengenali sekaligus menerima pengalaman masa lalu. Ia mencoba menelusuri kembali berbagai peristiwa yang membentuk kepribadiannya hingga saat ini.

“Ada rasa lega ketika bisa menceritakan trauma. Dalam proses berkarya, saya mencoba menerka ulang keberadaan diri saya hari ini. Misalnya, kenapa saya menjadi pribadi yang pemalu. Ternyata saya mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami, termasuk hal-hal sederhana yang membentuk rasa minder,” tuturnya. (sam/jpg)

 

PROKALTENG.CO-Galeri Prabangkara menjadi ruang bagi lima seniman muda untuk mengekspresikan pengalaman hidup, kritik sosial, hingga pergulatan batin melalui karya seni rupa. Pameran bersama yang berlangsung hingga 11 Juli itu menghadirkan 52 karya Rajut, Masalah Sosial, The Third Chamber, Distorsi, dan All You Can Eat.

Kelima perupa tersebut Arbi Romado Miftachul Hadi, Selawandana Putra, Ali Rohmatulloh, Faizal Dharmawan, dan Zulfikar Alwiansyah. Mereka mahasiswa Program Studi Seni Rupa STKW Surabaya.

Salah seorang peserta pameran, Selawandana Putra, mengatakan bahwa pameran tersebut menjadi wadah untuk mengubah pengalaman pribadi menjadi karya yang dapat dinikmati publik.

Electronic money exchangers listing

Menurut dia, setiap seniman memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda sehingga menghasilkan gagasan dan karakter visual yang beragam.

“Teman-teman, termasuk saya, mewujudkan ide ini dari pengalaman pribadi. Ruang hidup selalu bergerak dinamis hingga memunculkan ledakan ide, baik berupa kritik sosial maupun penyaluran energi kreatif,” ujarnya.

Baca Juga :  Pameran Lukisan Siswa Lotus Art Courses Warnai Balai Pemuda Surabaya

Seluruh karya yang dipamerkan mengajak pengunjung membaca berbagai isu, mulai identitas diri, refleksi terhadap kondisi sosial, hingga eksplorasi visual bergaya grafis dengan nuansa pop. Masing-masing seniman menampilkan karya dalam jumlah berbeda, mulai tujuh hingga belasan karya.

Selawandana sendiri menghadirkan tujuh karya yang banyak mengangkat fenomena sosial masa kini. Ia menyoroti budaya kapitalisme, fenomena fear of missing out (FOMO), hingga praktik buzzer yang dinilainya kerap membangun narasi positif untuk menutupi berbagai penyimpangan.

“Karya-karya saya berangkat dari fenomena sosial hari ini. Misalnya, Buzzer, saya ingin bercerita bahwa saat ini rupiah sering kali dianggap lebih berharga daripada tuntunan hati nurani,” katanya.

Ali Rohmatulloh, asal Bangkalan, menuangkan pengalaman traumatis melalui lukisan monokrom yang didominasi bentuk menyerupai kepulan asap membentuk lekuk tubuh. Visual tersebut menjadi simbol bayang-bayang trauma yang terus membekas dalam perjalanan hidupnya.

Baca Juga :  Sulam Silam: Pameran dalam Stoples

Menurut Ali, proses berkarya menjadi media untuk mengenali sekaligus menerima pengalaman masa lalu. Ia mencoba menelusuri kembali berbagai peristiwa yang membentuk kepribadiannya hingga saat ini.

“Ada rasa lega ketika bisa menceritakan trauma. Dalam proses berkarya, saya mencoba menerka ulang keberadaan diri saya hari ini. Misalnya, kenapa saya menjadi pribadi yang pemalu. Ternyata saya mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami, termasuk hal-hal sederhana yang membentuk rasa minder,” tuturnya. (sam/jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru