PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Tidak bisa dipungkiri. Akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sangat berdampak. Hal itu dialami oleh para pelaku UMKM di Kota Palangka Raya.
Pasalnya, dengan kondisi kabut asap masyarakat enggan untuk keluar. Bahkan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi mahasiswa, juga mengurangi aktivitas konsumen di sekitar lokasi usaha.
Kondisi tersebut dirasakan Santika Fhebyola. Salah seorang pelaku UMKM yang lokasi usahanya berada di sekitar lingkungan kampus.
Ia mengatakan. Saat ini konsumen lebih banyak memanfaatkan layanan pesan antar maupun melakukan pemesanan secara online, dibandingkan datang langsung ke tempat usaha.
“Sejauh ini kami lebih banyak menerima pesanan online atau pesan antar, dibandingkan bulan lalu,” ujar Santika, Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, perubahan pola pembelian tersebut cukup terasa dibandingkan sebelum kabut asap akibat karhutla semakin pekat. Sebelumnya, mahasiswa maupun masyarakat yang berada di sekitar lokasi usaha masih cukup banyak datang secara langsung untuk berbelanja.
Namun, kondisi kabut asap membuat masyarakat mulai mengurangi aktivitas di luar ruangan. Ditambah dengan suhu panas yang menyengat, masyarakat dinilai lebih memilih berada di dalam rumah dan menggunakan layanan pesan antar untuk memenuhi kebutuhan mereka.
“Efeknya, banyak orang malas untuk belanja di tempat. Sehingga kami perlu menambah karyawan untuk jasa antar. Kalau tidak demikian, target harian tidak terpenuhi, karena orang malas untuk keluar akibat karhutla dan panas menyengat,” katanya.
Santika menjelaskan. Kondisi tersebut secara langsung berpengaruh terhadap aktivitas penjualan. Terlebih, lokasi usahanya berada di kawasan yang selama ini cukup banyak dikunjungi mahasiswa.
“Kabut asap sangat mempengaruhi, karena dibandingkan sebelum karhutla banyak mahasiswa belanja di tempat maupun yang di lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Tak hanya kabut asap, penerapan PJJ juga menjadi faktor lain yang turut mengubah aktivitas konsumen. Sejak pertengahan bulan, mahasiswa mulai menjalani pembelajaran dari jarak jauh seiring kondisi karhutla yang terjadi di sejumlah titik.
Berkurangnya aktivitas mahasiswa di sekitar kampus membuat jumlah calon pembeli yang biasanya datang langsung ke tempat usaha ikut terdampak. Kondisi itu kemudian membuat layanan pesan antar menjadi salah satu alternatif agar aktivitas penjualan tetap berjalan.
“Betul, mahasiswa melakukan PJJ semenjak pertengahan bulan, karena karhutla semakin banyak di beberapa titik. Mengakibatkan asap semakin tebal, sehingga memungkinkan ISPA pada mahasiswa maupun masyarakat sekitar,” jelasnya.
Meski menghadapi perubahan pola pembelian, Santika tetap berusaha mempertahankan aktivitas usahanya dengan menyesuaikan layanan terhadap kondisi yang ada. Salah satunya dengan memperkuat layanan pesan antar untuk menjangkau konsumen yang memilih tidak keluar rumah.
Di sisi lain, ia berharap persoalan karhutla dapat segera ditangani. Menurutnya, kondisi kabut asap tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat, tetapi juga berpengaruh terhadap pelaku usaha yang bergantung pada aktivitas konsumen secara langsung.
Santika juga berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan terhadap pihak yang menjadi pemicu terjadinya karhutla.
“Harapannya, semoga pemerintah dapat mengambil kebijakan terkait pelaku yang mengakibatkan karhutla, karena karhutla tidak terjadi begitu saja jika tidak ada pemicu,” tuturnya.
Selain penanganan terhadap sumber karhutla. Ia turut menyoroti kondisi para relawan yang berada di lapangan. Ia berharap para relawan mendapatkan perlengkapan yang memadai untuk menunjang proses pemadaman dan menjaga keselamatan selama bertugas.
“Semoga para relawan diberikan alkes yang memadai serta alat-alat pemadam atau tangki yang digunakan lebih memadai, sehingga dapat menekan angka karhutla di lingkungan dan dapat segera mereda,” pungkasnya.(mg3)


