PROKALTENG.CO-Tidak semua partikel yang terlihat seperti asap memiliki perilaku yang sama di udara. Kajian ilmiah menunjukkan aerosol yang diembuskan dari rokok elektronik atau vape dapat menguap dalam sekitar 10–15 detik, sementara partikel dari asap rokok membutuhkan waktu lebih lama untuk menghilang dan dalam kondisi tertentu dapat bertahan hingga berjam-jam di lingkungan dalam ruangan.
Perbedaan ini terutama dipengaruhi oleh sifat partikel yang dihasilkan. Aerosol vape memiliki komponen yang lebih mudah menguap, sedangkan asap rokok mengandung partikel non-volatil dan semi-volatil yang cenderung lebih stabil di udara.
Temuan tersebut menjelaskan mengapa menyamakan aerosol vape dengan asap rokok secara fisik tidak sepenuhnya tepat, meski keduanya sama-sama merupakan emisi yang dilepaskan ke lingkungan.
Aerosol vape bisa hilang dalam hitungan detik
Lantas, apa yang membuat aerosol vape lebih cepat menghilang?
Kajian berjudul ‘Characterization of the Spatial and Temporal Dispersion Differences Between Exhaled E-Cigarette Mist and Cigarette Smoke’ menemukan bahwa partikel yang diembuskan pengguna vape mengalami proses penguapan dalam waktu sekitar 10–15 detik.
“Aerosol vape berubah menjadi senyawa organik yang mudah menguap (volatil). Karakteristik tersebut membuat aerosol vape memiliki pola penyebaran yang berbeda dibandingkan asap rokok,” demikian tertulis dalam laporan yang disusun oleh Dainius Martuzevicius dkk, dikutip Kamis (10/9).
Dengan kata lain, partikel aerosol yang berada di udara tidak memiliki ketahanan yang sama dengan partikel dari asap hasil pembakaran tembakau. Sifat volatil membuat aerosol vape lebih cepat mengalami perubahan dan menghilang dari udara.
Namun, cepat menghilangnya aerosol tidak berarti emisi tersebut otomatis bebas dari kandungan kimia atau risiko. Durasi keberadaan partikel di udara hanyalah salah satu aspek dalam melihat karakter paparan.
Perbedaan aerosol dan asap juga berkaitan dengan paparan sekitar
Perbedaan karakteristik tersebut turut menjadi bagian dari pembahasan mengenai paparan terhadap orang lain di sekitar pengguna.
Founder Center of Excellence for the Acceleration of Harm Reduction (CoEHAR) dari University of Catania, Riccardo Polosa, menyebut aerosol vape memiliki pola penyebaran yang berbeda karena lebih mudah menguap.
“Aerosol yang diembuskan dari vape menyebar dalam waktu yang sangat singkat dan bersifat mudah menguap. Emisi kimia dari vape jauh lebih sedikit zat bahayanya dibandingkan dengan rokok yang dibakar,” tegasnya.
National Health Service (NHS) Inggris juga membedakan aerosol rokok elektronik dari asap tembakau. Lembaga tersebut menyatakan rokok elektronik tidak menghasilkan asap tembakau seperti rokok konvensional.
“Menggunakan rokok elektronik tidak menghasilkan asap tembakau sehingga risiko perokok pasif tidak berlaku untuk produk ini. Rokok elektronik melepaskan jumlah nikotin yang sangat kecil ke atmosfer dan sejumlah bukti yang tersedia menunjukkan risiko perokok pasif terhadap orang di sekitarnya cukup kecil dibandingkan dengan rokok,” seperti dikutip dari laman resmi NHS.
Meski demikian, perbedaan tersebut perlu dibaca secara proporsional. Aerosol vape bukan sekadar ‘udara biasa’ setelah diembuskan, sehingga keberadaan zat kimia di dalam emisi tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Mengapa asap rokok bisa bertahan lebih lama?
Kondisinya berbeda pada asap rokok. Partikel yang dihasilkan melalui proses pembakaran tembakau sebagian besar bersifat non-volatil atau semi-volatil.
Dalam kajian yang sama disebutkan, karakter tersebut membuat partikel asap rokok lebih stabil dibandingkan partikel yang berasal dari aerosol rokok elektronik.
“Proses hilangnya partikel dalam asap rokok memakan waktu jauh lebih lama (beberapa menit) dan sangat bergantung pada tingkat ventilasi di dalam ruangan,” demikian tertulis dalam penelitian tersebut.
Ventilasi menjadi faktor penting karena menentukan seberapa cepat partikel di dalam ruangan terdilusi dan keluar dari area tersebut. Semakin buruk sirkulasi udara, semakin lama partikel dapat bertahan.
NHS bahkan menyebut asap rokok dapat bertahan hingga berjam-jam meskipun jendela atau pintu terbuka. Asap tersebut merupakan campuran kompleks yang terdiri dari ribuan senyawa, dengan sejumlah zat yang berisiko terhadap kesehatan.
Masalahnya, keberadaan asap tidak selalu dapat diketahui hanya dengan melihat atau mencium udara. Sebagian besar asap rokok tidak terlihat dan tidak selalu berbau.
“Meskipun seseorang dapat membatasi aktivitas merokoknya hanya di satu ruangan, asapnya akan menyebar ke seluruh bagian rumah dan terhirup oleh orang lain,” demikian tertulis di laman resmi NHS.
Jadi, apa perbedaan utamanya?
Jika diringkas, aerosol vape dan asap rokok sama-sama merupakan emisi, tetapi karakter partikel dan perilakunya di udara berbeda.
Aerosol vape yang diembuskan dapat mengalami penguapan dalam sekitar 10–15 detik karena karakteristik komponennya yang lebih volatil. Sebaliknya, partikel asap rokok lebih stabil sehingga proses menghilangnya membutuhkan waktu lebih lama dan sangat dipengaruhi kondisi ventilasi.
Perbedaan ini penting karena istilah ‘asap’ sering digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis emisi secara umum, padahal secara ilmiah karakter aerosol dan asap tidak selalu sama.
Di sisi lain, cepat menghilangnya aerosol tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu produk sepenuhnya aman. Kandungan emisi, tingkat paparan, durasi, serta kondisi lingkungan tetap menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan ketika membahas dampaknya terhadap kesehatan dan orang-orang di sekitar.(jpg)


