Ketegangan AS dan Iran Kembali Picu Lonjakan Harga Minyak

PROKALTENG.CO – Harga minyak mentah dunia dunia kembali naik pada perdagangan Jumat (17/7) akibat Teheran meminta Houti Yaman Bersiap untuk menutup jalur eskpor minyak di Laut Merah.

Melansir Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,35 persen ke level 85,23 dollar per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,22 persen ke level 79,92 dollar per barel.

Dilansir CNBC, Iran meminta Houthi untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur listrik Iran. Pasalnya, pada pekan ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengulangi ancaman untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran.

“Dengan Selat Hormuz yang sudah tertutup, ancaman ini meningkatkan risiko serius terganggunya kedua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah secara bersamaan,” ujar Direktur di perusahaan pialang StoneX, Alex Hodes.

Baca Juga :  Nancy Pelosi Kembali Pimpin DPR AS

Adapun, total volume minyak bumi yang melewati Bab el-Mandeb mencapai 7,4 juta barel per hari pada bulan Juni, atau sekitar 7 persen dari produksi minyak global, menurut data Kpler, naik dari 4,2 juta barel per hari tahun lalu.

“Gangguan simultan yang memengaruhi Hormuz dan Bab el-Mandeb akan secara signifikan memperkuat tekanan rantai pasokan, meningkatkan kendala ketersediaan kapal tanker, dan menaikkan premi asuransi,” ujar Financial Markets Strategist Lead Exness, Wael Makarem.

Dilansir Reuters, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 1,7 juta barrel pada pekan lalu. Angka itu lebih kecil dibandingkan perkiraan analis yang turun sebesar 2,6 juta barrel.

Electronic money exchangers listing

Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan, pelaku pasar mulai terbiasa menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah sehingga dampaknya terhadap harga minyak tidak sebesar sebelumnya

Baca Juga :  Harga Minyakkita Tembus Rp17 Ribu di Palangka Raya, Pemko Minta Bulog Turun Tangan

“Tampaknya ada perasaan bahwa kita pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya, Dan ada kesan dari laporan EIA bahwa pasokan, alih-alih terus menyusut, justru mulai stabil,” ujar Flynn.

EIA juga melaporkan persediaan produk distilat, seperti solar dan minyak pemanas, meningkat 4,6 juta barrel pada pekan lalu. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan kenaikan sebesar 100.000 barrel.

Di sisi geopolitik, AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan melancarkan serangan udara pada malam hari. Langkah itu memicu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menutup seluruh jalur ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya.(jpg)

 

PROKALTENG.CO – Harga minyak mentah dunia dunia kembali naik pada perdagangan Jumat (17/7) akibat Teheran meminta Houti Yaman Bersiap untuk menutup jalur eskpor minyak di Laut Merah.

Melansir Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,35 persen ke level 85,23 dollar per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,22 persen ke level 79,92 dollar per barel.

Dilansir CNBC, Iran meminta Houthi untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur listrik Iran. Pasalnya, pada pekan ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengulangi ancaman untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran.

Electronic money exchangers listing

“Dengan Selat Hormuz yang sudah tertutup, ancaman ini meningkatkan risiko serius terganggunya kedua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah secara bersamaan,” ujar Direktur di perusahaan pialang StoneX, Alex Hodes.

Baca Juga :  Nancy Pelosi Kembali Pimpin DPR AS

Adapun, total volume minyak bumi yang melewati Bab el-Mandeb mencapai 7,4 juta barel per hari pada bulan Juni, atau sekitar 7 persen dari produksi minyak global, menurut data Kpler, naik dari 4,2 juta barel per hari tahun lalu.

“Gangguan simultan yang memengaruhi Hormuz dan Bab el-Mandeb akan secara signifikan memperkuat tekanan rantai pasokan, meningkatkan kendala ketersediaan kapal tanker, dan menaikkan premi asuransi,” ujar Financial Markets Strategist Lead Exness, Wael Makarem.

Dilansir Reuters, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 1,7 juta barrel pada pekan lalu. Angka itu lebih kecil dibandingkan perkiraan analis yang turun sebesar 2,6 juta barrel.

Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan, pelaku pasar mulai terbiasa menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah sehingga dampaknya terhadap harga minyak tidak sebesar sebelumnya

Baca Juga :  Harga Minyakkita Tembus Rp17 Ribu di Palangka Raya, Pemko Minta Bulog Turun Tangan

“Tampaknya ada perasaan bahwa kita pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya, Dan ada kesan dari laporan EIA bahwa pasokan, alih-alih terus menyusut, justru mulai stabil,” ujar Flynn.

EIA juga melaporkan persediaan produk distilat, seperti solar dan minyak pemanas, meningkat 4,6 juta barrel pada pekan lalu. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan kenaikan sebesar 100.000 barrel.

Di sisi geopolitik, AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan melancarkan serangan udara pada malam hari. Langkah itu memicu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menutup seluruh jalur ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya.(jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru