Fenomena “Boti” Kian Marak, Ini Penjelasan Psikolog

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena laki-laki yang berperilaku atau berpenampilan feminin, yang di masyarakat kerap disebut “boti”, perlu disikapi secara bijak tanpa stigma maupun penghakiman. Psikolog sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, menegaskan bahwa laki-laki yang tampak feminin tidak bisa langsung disimpulkan mengalami gangguan, penyimpangan, ataupun memiliki orientasi seksual tertentu.

Menurut Ari, perilaku seperti gaya bicara, gerak tubuh, pilihan pakaian, hingga cara bergaul dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari temperamen yang lembut, pola asuh, lingkungan pergaulan, pengalaman masa kecil, media sosial, figur yang ditiru, hingga kebutuhan untuk diterima dalam kelompok tertentu.

“Pada masa anak dan remaja, proses meniru perilaku orang lain cukup kuat. Anak bisa meniru gaya bicara, ekspresi tubuh, atau kebiasaan dari orang yang sering dilihat dan dianggap menarik,” ujarnya kepada Prokalteng.co, Jumat (12/6/2026).

Baca Juga :  Bentuk Perhatian, Babinsa di Wilayah Terpencil dan Daerah Terluar Lamandau dapat Bingkisan

Meski demikian, Ari menekankan bahwa orang tua tetap perlu memberikan arahan agar anak memahami nilai, batasan, dan peran sosial yang berlaku di keluarga maupun masyarakat. Ia menilai sikap orang tua dan lingkungan harus tetap berpegang pada nilai agama, budaya, dan norma sosial, namun proses pembinaan sebaiknya dilakukan tanpa hinaan, ejekan, maupun kekerasan.

“Pendekatan yang lebih tepat adalah berbicara secara pribadi, mendengarkan alasannya, memahami lingkungan pergaulannya, lalu memberi nasihat secara tegas tetapi tetap manusiawi,” katanya.

Terkait anggapan bahwa perilaku feminin dapat “menular”, Ari menegaskan istilah tersebut kurang tepat digunakan dalam psikologi. Menurutnya, istilah yang lebih sesuai adalah pengaruh sosial.

Ia menjelaskan, anak atau remaja memang dapat meniru gaya bicara, cara berpakaian, bahasa tubuh, maupun kebiasaan teman sebaya. Namun, pengaruh tersebut tidak otomatis mengubah seseorang secara menyeluruh.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Manfaat Bersepeda yang Patut Diketahui dan Pertimbangkan untuk Menjadikannya Rutinitas

“Ada anak yang hanya ikut-ikutan gaya teman, ada yang sedang mencari identitas, ada yang ingin terlihat berbeda, dan ada pula yang memang sudah memiliki kecenderungan ekspresi diri tertentu sejak kecil,” jelasnya.

Karena itu, Ari menyarankan orang tua tidak hanya berfokus pada larangan bergaul, tetapi juga membangun komunikasi yang baik, kedekatan emosional, serta pengawasan yang sehat terhadap anak.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya mewaspadai dampak stigma, perundungan, dan penolakan terhadap individu yang dianggap berbeda. Menurutnya, ejekan dan perlakuan diskriminatif dapat memicu berbagai masalah psikologis, seperti rendah diri, kecemasan, kesulitan bersosialisasi, hingga gangguan perkembangan kepribadian.

“Perilaku boleh dikoreksi, tetapi harga diri anak tetap harus dijaga. Bimbingan yang baik adalah bimbingan yang tegas dalam nilai, tetapi tidak kasar dalam cara,” pungkasnya. (jef)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena laki-laki yang berperilaku atau berpenampilan feminin, yang di masyarakat kerap disebut “boti”, perlu disikapi secara bijak tanpa stigma maupun penghakiman. Psikolog sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, menegaskan bahwa laki-laki yang tampak feminin tidak bisa langsung disimpulkan mengalami gangguan, penyimpangan, ataupun memiliki orientasi seksual tertentu.

Menurut Ari, perilaku seperti gaya bicara, gerak tubuh, pilihan pakaian, hingga cara bergaul dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari temperamen yang lembut, pola asuh, lingkungan pergaulan, pengalaman masa kecil, media sosial, figur yang ditiru, hingga kebutuhan untuk diterima dalam kelompok tertentu.

“Pada masa anak dan remaja, proses meniru perilaku orang lain cukup kuat. Anak bisa meniru gaya bicara, ekspresi tubuh, atau kebiasaan dari orang yang sering dilihat dan dianggap menarik,” ujarnya kepada Prokalteng.co, Jumat (12/6/2026).

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Bentuk Perhatian, Babinsa di Wilayah Terpencil dan Daerah Terluar Lamandau dapat Bingkisan

Meski demikian, Ari menekankan bahwa orang tua tetap perlu memberikan arahan agar anak memahami nilai, batasan, dan peran sosial yang berlaku di keluarga maupun masyarakat. Ia menilai sikap orang tua dan lingkungan harus tetap berpegang pada nilai agama, budaya, dan norma sosial, namun proses pembinaan sebaiknya dilakukan tanpa hinaan, ejekan, maupun kekerasan.

“Pendekatan yang lebih tepat adalah berbicara secara pribadi, mendengarkan alasannya, memahami lingkungan pergaulannya, lalu memberi nasihat secara tegas tetapi tetap manusiawi,” katanya.

Terkait anggapan bahwa perilaku feminin dapat “menular”, Ari menegaskan istilah tersebut kurang tepat digunakan dalam psikologi. Menurutnya, istilah yang lebih sesuai adalah pengaruh sosial.

Ia menjelaskan, anak atau remaja memang dapat meniru gaya bicara, cara berpakaian, bahasa tubuh, maupun kebiasaan teman sebaya. Namun, pengaruh tersebut tidak otomatis mengubah seseorang secara menyeluruh.

Baca Juga :  Manfaat Bersepeda yang Patut Diketahui dan Pertimbangkan untuk Menjadikannya Rutinitas

“Ada anak yang hanya ikut-ikutan gaya teman, ada yang sedang mencari identitas, ada yang ingin terlihat berbeda, dan ada pula yang memang sudah memiliki kecenderungan ekspresi diri tertentu sejak kecil,” jelasnya.

Karena itu, Ari menyarankan orang tua tidak hanya berfokus pada larangan bergaul, tetapi juga membangun komunikasi yang baik, kedekatan emosional, serta pengawasan yang sehat terhadap anak.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya mewaspadai dampak stigma, perundungan, dan penolakan terhadap individu yang dianggap berbeda. Menurutnya, ejekan dan perlakuan diskriminatif dapat memicu berbagai masalah psikologis, seperti rendah diri, kecemasan, kesulitan bersosialisasi, hingga gangguan perkembangan kepribadian.

“Perilaku boleh dikoreksi, tetapi harga diri anak tetap harus dijaga. Bimbingan yang baik adalah bimbingan yang tegas dalam nilai, tetapi tidak kasar dalam cara,” pungkasnya. (jef)

Terpopuler

Artikel Terbaru