Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menemui para pemain Naegohyang Women’s FC di Pyongyang setelah klub tersebut mencetak sejarah dengan menjuarai AFC Women’s Champions League 2026.
Keberhasilan tim putri Korea Utara itu menjadi sorotan karena mereka menjadi klub pertama dari negaranya yang meraih gelar tertinggi sepak bola perempuan Asia sekaligus mengamankan tiket ke FIFA Women’s Champions Cup tahun depan.
Momen pertemuan itu berlangsung penuh emosi. Para pemain terlihat menangis haru, melompat kegirangan, dan berpose bersama Kim Jong-un yang turut memberikan ucapan selamat atas pencapaian bersejarah tersebut.
Bagaimana Naegohyang Women’s FC Mencetak Sejarah di Asia?
Naegohyang Women’s FC mengukir sejarah pada 23 Mei 2026 setelah mengalahkan Tokyo Verdy Beleza asal Jepang dengan skor 1-0 di partai final AFC Women’s Champions League.
Kemenangan itu menjadikan mereka klub Korea Utara pertama yang berhasil mengangkat trofi kompetisi antarklub putri paling bergengsi di Asia.
Prestasi tersebut memiliki arti besar bagi sepak bola Korea Utara.
Selain membawa pulang gelar juara, keberhasilan itu juga memastikan Naegohyang Women’s FC lolos ke FIFA Women’s Champions Cup yang akan digelar tahun depan.
Perjalanan menuju gelar juara tidak berlangsung mudah. Naegohyang harus melewati babak semifinal dan final dengan hasil positif sebelum akhirnya berdiri di podium tertinggi sepak bola putri Asia.
Keberhasilan itu mendapat perhatian luas di dalam negeri. Media pemerintah Korea Utara menempatkan pencapaian tersebut sebagai salah satu prestasi olahraga paling membanggakan dalam beberapa tahun terakhir.
Mengapa Pertemuan dengan Kim Jong-un Menjadi Sorotan?
Kim Jong-un secara langsung menyambut para pemain di Pyongyang beberapa hari setelah keberhasilan mereka menjuarai Asia.
Dalam sejumlah foto yang dipublikasikan media pemerintah, sang pemimpin terlihat bersalaman dengan pemain dan berfoto bersama seluruh anggota tim.
Suasana emosional terlihat jelas selama acara berlangsung. Para pemain tampak berlinang air mata ketika bertemu Kim Jong-un, sementara beberapa lainnya melompat kegirangan merayakan kehadiran pemimpin negara tersebut.
Pertemuan itu bukan sekadar seremoni penghormatan. Kim Jong-un juga memberikan ucapan selamat atas keberhasilan tim yang dianggap mengharumkan nama Korea Utara di level internasional.
Media pemerintah melaporkan Kim Jong-un turut menyaksikan pertandingan persahabatan antara Naegohyang Women’s FC dan tim nasional putri U-17 Korea Utara.
Tim U-17 tersebut sebelumnya juga meraih prestasi dengan menjuarai AFC Under-17 Women’s Asian Cup.
Kehadiran Kim Jong-un memperlihatkan pentingnya pencapaian Naegohyang Women’s FC bagi negara.
Prestasi olahraga internasional kerap mendapatkan perhatian besar karena dianggap merepresentasikan citra dan kebanggaan nasional.
Pujian Media Pemerintah untuk Sang Juara Asia
Kesuksesan Naegohyang Women’s FC mendapat sambutan hangat dari media resmi Korea Utara. Surat kabar Rodong Sinmun yang merupakan corong Partai Buruh Korea memuji para pemain atas perjuangan mereka sepanjang turnamen.
Dilansir dari Extra.ie, Rodong Sinmun menyebut skuad tersebut sebagai “Putri-putri kebanggaan tanah air yang sekali lagi dengan gagah berani menunjukkan semangat dan ketangguhan rakyat Korea dengan kemenangan beruntun di semifinal dan final.”
Kutipan itu menggambarkan bagaimana kemenangan tim diposisikan sebagai simbol kekuatan dan semangat rakyat Korea.
Pemberitaan media pemerintah juga menyoroti konsistensi tim dalam menghadapi lawan-lawan kuat sepanjang kompetisi.
Gelar juara dianggap sebagai bukti kualitas sepak bola perempuan Korea Utara yang selama ini dikenal kompetitif di level Asia.
Sorotan besar terhadap keberhasilan tersebut menunjukkan nilai strategis olahraga di Korea Utara. Prestasi internasional sering dijadikan simbol keberhasilan nasional yang mampu menyatukan kebanggaan masyarakat.
Perjalanan Bersejarah ke Korea Selatan Setelah Delapan Tahun
Salah satu aspek paling menarik dari keberhasilan Naegohyang Women’s FC adalah lokasi penyelenggaraan turnamen. Untuk menuntaskan perjalanan menuju gelar juara, tim harus bertanding di Korea Selatan.
Keikutsertaan itu menandai pertama kalinya pesepak bola Korea Utara melakukan perjalanan ke negara tetangga tersebut sejak Asian Games Incheon 2014.
Fakta itu membuat kampanye juara Naegohyang memiliki nilai sejarah yang melampaui sepak bola semata.
Meski demikian, terdapat sejumlah momen yang menarik perhatian selama turnamen berlangsung.
Pelatih Naegohyang, Ri Yu-il, dilaporkan meninggalkan konferensi pers setelah seorang jurnalis menyebut timnya sebagai “the North side”.
Media pemerintah Korea Utara juga tidak menyebutkan dalam laporannya pertandingan digelar di Korea Selatan.
Detail tersebut menjadi perhatian karena memperlihatkan sensitivitas politik yang masih mewarnai hubungan kedua negara.
Terlepas dari berbagai dinamika tersebut, performa Naegohyang Women’s FC tetap menjadi pusat perhatian.
Mereka berhasil menutup turnamen dengan trofi juara dan membawa pulang salah satu prestasi terbesar dalam sejarah sepak bola perempuan Korea Utara.
Ucapan Selamat dari Presiden Korea Selatan
Keberhasilan Naegohyang Women’s FC ternyata juga mendapat respons positif dari Korea Selatan. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyampaikan ucapan selamat setelah final berakhir.
Dalam pernyataannya, Lee Jae Myung mengatakan, “Saya berharap kompetisi ini, terlepas dari menang atau kalah, menjadi kesempatan yang bermakna untuk mendorong kemajuan olahraga Asia dan merefleksikan nilai-nilai olahraga, yang dikenal sebagai simbol perdamaian dan harmoni.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah berbagai upaya diplomatik yang dilakukan pemerintah Korea Selatan untuk membuka ruang pendekatan dengan Korea Utara.
Karena itu, keberhasilan Naegohyang Women’s FC turut dipandang sebagai momentum yang menunjukkan bagaimana olahraga dapat menghadirkan pesan perdamaian di tengah perbedaan politik.
Pada akhirnya, trofi AFC Women’s Champions League 2026 bukan hanya menjadi simbol supremasi Naegohyang Women’s FC di Asia.
Gelar itu juga menghadirkan kisah emosional, sejarah baru bagi sepak bola Korea Utara, dan momen langka yang mempertemukan olahraga dengan dinamika hubungan antarnegara di Semenanjung Korea.(jpc)


