Gencatan Senjata AS-Iran Terancam: Serangan Israel ke Lebanon Picu Krisis Baru

PROKALTENG.CO-Upaya perdamaian di Timur Tengah yang sempat membuka harapan kembali berada di ujung tanduk.

Itu setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, hanya beberapa saat setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.

Serangan intens yang masih dilancarkan hingga Kamis (9/4) tersebut menewaskan lebih dari 300 orang dalam satu hari, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak konflik meluas awal Maret.

Beirut Hancur, Warga Sipil Jadi Korban

Kondisi di Beirut digambarkan seperti zona perang total. Tim penyelamat bekerja sepanjang malam mencari korban di antara reruntuhan bangunan.

Seorang tenaga medis di Rumah Sakit American University Beirut menggambarkan situasi yang ia saksikan.

“Asap, api, dan teriakan ada di mana-mana. Rasanya seperti film, tapi ini nyata,” ujarnya mengutip NBC News.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Indra Sjafri Gagal Total Bawa Garuda Muda Tampil Meyakinkan di SEA Games 2025

Rumah sakit dipenuhi korban, termasuk bayi yang datang tanpa orang tua dalam kondisi trauma.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan ratusan korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka, dengan angka yang diperkirakan terus bertambah.

Gencatan Senjata Terancam Runtuh

Serangan ini langsung mengancam kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya diumumkan Presiden AS, Donald Trump.

Kesepakatan tersebut awalnya diharapkan menjadi pintu masuk menuju negosiasi damai antara Washington dan Teheran.

Namun, perbedaan tafsir terkait cakupan gencatan senjata, terutama soal Lebanon—membuat implementasinya menjadi kacau.

Iran dan Pakistan menyebut Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara Israel dan AS menegaskan sebaliknya.

Gelombang kecaman internasional terhadap Israel jug terus meningkat.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut eskalasi terbaru ‘sangat merusak’.

Sementara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan sulit membenarkan serangan tersebut sebagai tindakan membela diri.

Baca Juga :  Jelang Peluncuran Pesawat KFX-IFX, Prabowo Temui Presiden Korsel

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, bahkan menyebut serangan itu ‘tidak dapat diterima’ dan menegaskan Lebanon harus masuk dalam gencatan senjata.

Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa serangan ke Lebanon akan membawa ‘konsekuensi nyata dan respons kuat’.

Ia menegaskan tidak ada ruang untuk menyangkal bahwa Lebanon seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

AS Minta Israel Menahan Diri

Di tengah situasi ini, pemerintahan AS disebut telah meminta Israel untuk mengurangi intensitas serangan demi menjaga peluang negosiasi.

Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tetap bersikukuh melanjutkan operasi militer, sembari membuka kemungkinan negosiasi langsung dengan Lebanon di masa depan. (byu/jpg)

 

PROKALTENG.CO-Upaya perdamaian di Timur Tengah yang sempat membuka harapan kembali berada di ujung tanduk.

Itu setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, hanya beberapa saat setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.

Serangan intens yang masih dilancarkan hingga Kamis (9/4) tersebut menewaskan lebih dari 300 orang dalam satu hari, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak konflik meluas awal Maret.

Electronic money exchangers listing

Beirut Hancur, Warga Sipil Jadi Korban

Kondisi di Beirut digambarkan seperti zona perang total. Tim penyelamat bekerja sepanjang malam mencari korban di antara reruntuhan bangunan.

Seorang tenaga medis di Rumah Sakit American University Beirut menggambarkan situasi yang ia saksikan.

“Asap, api, dan teriakan ada di mana-mana. Rasanya seperti film, tapi ini nyata,” ujarnya mengutip NBC News.

Baca Juga :  Indra Sjafri Gagal Total Bawa Garuda Muda Tampil Meyakinkan di SEA Games 2025

Rumah sakit dipenuhi korban, termasuk bayi yang datang tanpa orang tua dalam kondisi trauma.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan ratusan korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka, dengan angka yang diperkirakan terus bertambah.

Gencatan Senjata Terancam Runtuh

Serangan ini langsung mengancam kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya diumumkan Presiden AS, Donald Trump.

Kesepakatan tersebut awalnya diharapkan menjadi pintu masuk menuju negosiasi damai antara Washington dan Teheran.

Namun, perbedaan tafsir terkait cakupan gencatan senjata, terutama soal Lebanon—membuat implementasinya menjadi kacau.

Iran dan Pakistan menyebut Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara Israel dan AS menegaskan sebaliknya.

Gelombang kecaman internasional terhadap Israel jug terus meningkat.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut eskalasi terbaru ‘sangat merusak’.

Sementara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan sulit membenarkan serangan tersebut sebagai tindakan membela diri.

Baca Juga :  Jelang Peluncuran Pesawat KFX-IFX, Prabowo Temui Presiden Korsel

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, bahkan menyebut serangan itu ‘tidak dapat diterima’ dan menegaskan Lebanon harus masuk dalam gencatan senjata.

Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa serangan ke Lebanon akan membawa ‘konsekuensi nyata dan respons kuat’.

Ia menegaskan tidak ada ruang untuk menyangkal bahwa Lebanon seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

AS Minta Israel Menahan Diri

Di tengah situasi ini, pemerintahan AS disebut telah meminta Israel untuk mengurangi intensitas serangan demi menjaga peluang negosiasi.

Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tetap bersikukuh melanjutkan operasi militer, sembari membuka kemungkinan negosiasi langsung dengan Lebanon di masa depan. (byu/jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru