26 C
Jakarta
Saturday, March 14, 2026

Persebaya Surabaya Menjadi Satu-satunya Wakil Jatim yang Masih Mampu Menjaga Stabilitas

Klub-klub Jawa Timur makin kehilangan tajinya di Super League 2025/2026. Dari empat wakil yang tampil di kasta tertinggi, hanya Persebaya Surabaya yang masih mampu bertahan di papan tengah, sementara tiga lainnya terseok hingga zona degradasi.

Alih-alih menjadi kekuatan dominan seperti era sebelumnya, klub-klub Jawa Timur kini lebih sering menjadi penggembira kompetisi. Padahal, provinsi ini tercatat sebagai daerah dengan jumlah klub terbanyak di liga musim ini.

Persebaya Surabaya

Persebaya Surabaya menjadi satu-satunya tim yang masih menjaga marwah sepak bola Jawa Timur.Meski belum mampu menembus persaingan gelar juara, mereka setidaknya bertahan di posisi ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 39 poin dari 25 pertandingan.

Catatan tersebut menempatkan Persebaya Surabaya sebagai pemimpin tidak resmi bagi klub-klub Jawa Timur. Namun, posisi itu tetap jauh dari ekspektasi besar yang sempat diusung pada awal musim.

Arema FC

Sementara itu, Arema FC justru harus puas berkutat di papan tengah. Klub berjuluk Singo Edan tersebut menempati posisi ke-11 dengan 31 poin setelah menjalani 25 pertandingan.

Electronic money exchangers listing

Statistik Arema FC menunjukkan inkonsistensi yang cukup mencolok sepanjang musim. Mereka mencetak 36 gol dan kebobolan jumlah yang sama, menghasilkan selisih gol yang persis berada di angka nol.

Angka tersebut menggambarkan performa tim yang fluktuatif dari pekan ke pekan. Lini depan mampu mencetak gol secara reguler, tetapi pertahanan mereka terlalu mudah ditembus lawan.

Situasi itu membuat Arema FC sulit menembus papan atas. Di sisi lain, posisi mereka juga belum sepenuhnya aman dari ancaman zona degradasi jika performa tidak segera stabil.

Baca Juga :  Kiper Asal Palangka Raya Ini Berharap Masuk Persib Senior dan Timnas

Persik Kediri

Persik Kediri menghadapi situasi yang sedikit lebih mengkhawatirkan. Tim berjuluk Macan Putih kini berada di posisi ke-12 dengan koleksi 29 poin dari 25 pertandingan.

 

Masalah terbesar Persik Kediri terletak pada sektor pertahanan. Mereka sudah kebobolan 45 gol musim ini, menjadikannya salah satu lini belakang terburuk di kompetisi.

Jumlah kebobolan tersebut menghasilkan selisih gol minus 13. Statistik itu menunjukkan rapuhnya koordinasi lini belakang yang kerap gagal meredam serangan lawan.

Kondisi semakin sulit karena Persik Kediri sempat menjalani musim sebagai tim musafir. Stadion Brawijaya yang belum sepenuhnya memenuhi standar membuat mereka beberapa kali harus menggunakan stadion alternatif.

Situasi tersebut sedikit banyak memengaruhi mentalitas tim. Bermain di kandang rasa tandang membuat performa mereka tidak stabil sepanjang musim.Jika tidak segera memperbaiki organisasi pertahanan, Persik Kediri berpotensi semakin terseret ke papan bawah.

Apalagi jarak poin dengan tim-tim zona merah tidak terlalu jauh.

Madura United

Kondisi paling mengkhawatirkan justru dialami Madura United. Klub berjuluk Laskar Sape Kerrab kini terjebak di posisi ke-16 klasemen dengan 20 poin dari 25 laga.

Posisi tersebut menempatkan Madura United tepat di batas awal zona degradasi. Mereka bahkan memiliki poin yang sama dengan Persis Solo dan Semen Padang yang berada di sekitar zona merah.

Masalah utama Madura United terlihat jelas pada produktivitas gol yang sangat rendah. Dari 25 pertandingan, mereka hanya mampu mencetak 24 gol.

Catatan itu membuat mereka kesulitan memenangkan pertandingan. Dalam banyak laga, Madura United gagal memaksimalkan peluang yang seharusnya bisa menghasilkan poin penting.

Baca Juga :  Menyedihkan! Timnas Indonesia Dihajar Jepang 6-0 di Panasonic Stadium Suita

Pertahanan mereka juga tidak terlalu solid dengan kebobolan 42 gol. Kombinasi lini depan yang tumpul dan lini belakang yang rapuh menjadi faktor utama keterpurukan tim musim ini.

Situasi semakin rumit karena persaingan di papan bawah sangat ketat. Selisih poin antar tim hanya terpaut tipis sehingga setiap pertandingan bisa menentukan nasib mereka.

Jika tidak segera menemukan konsistensi, Madura United berpotensi benar-benar terdegradasi. Setiap laga sisa musim ini bisa dianggap sebagai pertandingan final bagi mereka.

 

Di tengah situasi tersebut, Persebaya Surabaya menjadi satu-satunya wakil Jawa Timur yang masih mampu menjaga stabilitas.

Namun, posisi mereka di papan tengah juga belum cukup membanggakan bagi provinsi dengan sejarah sepak bola besar.

Persebaya Surabaya sebenarnya memiliki pertahanan yang cukup solid dengan kebobolan 30 gol. Namun, jumlah hasil imbang yang mencapai sembilan pertandingan menjadi penghambat utama mereka untuk naik ke papan atas.

Jika mampu mengubah sebagian hasil seri menjadi kemenangan, peluang menembus lima besar masih terbuka. Konsistensi di laga-laga krusial akan menjadi kunci bagi Persebaya Surabaya.

Situasi ini sekaligus menjadi alarm bagi sepak bola Jawa Timur secara keseluruhan. Empat klub yang dulu dikenal sebagai kekuatan tradisional kini justru berjuang mempertahankan eksistensi di kasta tertinggi.

Dengan sisa pertandingan yang masih ada, peluang memperbaiki posisi tentu masih terbuka. Namun tanpa perubahan signifikan, musim ini bisa menjadi salah satu periode paling mengecewakan bagi klub-klub Jawa Timur di Super League.(jpc)

Klub-klub Jawa Timur makin kehilangan tajinya di Super League 2025/2026. Dari empat wakil yang tampil di kasta tertinggi, hanya Persebaya Surabaya yang masih mampu bertahan di papan tengah, sementara tiga lainnya terseok hingga zona degradasi.

Alih-alih menjadi kekuatan dominan seperti era sebelumnya, klub-klub Jawa Timur kini lebih sering menjadi penggembira kompetisi. Padahal, provinsi ini tercatat sebagai daerah dengan jumlah klub terbanyak di liga musim ini.

Persebaya Surabaya

Electronic money exchangers listing

Persebaya Surabaya menjadi satu-satunya tim yang masih menjaga marwah sepak bola Jawa Timur.Meski belum mampu menembus persaingan gelar juara, mereka setidaknya bertahan di posisi ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 39 poin dari 25 pertandingan.

Catatan tersebut menempatkan Persebaya Surabaya sebagai pemimpin tidak resmi bagi klub-klub Jawa Timur. Namun, posisi itu tetap jauh dari ekspektasi besar yang sempat diusung pada awal musim.

Arema FC

Sementara itu, Arema FC justru harus puas berkutat di papan tengah. Klub berjuluk Singo Edan tersebut menempati posisi ke-11 dengan 31 poin setelah menjalani 25 pertandingan.

Statistik Arema FC menunjukkan inkonsistensi yang cukup mencolok sepanjang musim. Mereka mencetak 36 gol dan kebobolan jumlah yang sama, menghasilkan selisih gol yang persis berada di angka nol.

Angka tersebut menggambarkan performa tim yang fluktuatif dari pekan ke pekan. Lini depan mampu mencetak gol secara reguler, tetapi pertahanan mereka terlalu mudah ditembus lawan.

Situasi itu membuat Arema FC sulit menembus papan atas. Di sisi lain, posisi mereka juga belum sepenuhnya aman dari ancaman zona degradasi jika performa tidak segera stabil.

Baca Juga :  Kiper Asal Palangka Raya Ini Berharap Masuk Persib Senior dan Timnas

Persik Kediri

Persik Kediri menghadapi situasi yang sedikit lebih mengkhawatirkan. Tim berjuluk Macan Putih kini berada di posisi ke-12 dengan koleksi 29 poin dari 25 pertandingan.

 

Masalah terbesar Persik Kediri terletak pada sektor pertahanan. Mereka sudah kebobolan 45 gol musim ini, menjadikannya salah satu lini belakang terburuk di kompetisi.

Jumlah kebobolan tersebut menghasilkan selisih gol minus 13. Statistik itu menunjukkan rapuhnya koordinasi lini belakang yang kerap gagal meredam serangan lawan.

Kondisi semakin sulit karena Persik Kediri sempat menjalani musim sebagai tim musafir. Stadion Brawijaya yang belum sepenuhnya memenuhi standar membuat mereka beberapa kali harus menggunakan stadion alternatif.

Situasi tersebut sedikit banyak memengaruhi mentalitas tim. Bermain di kandang rasa tandang membuat performa mereka tidak stabil sepanjang musim.Jika tidak segera memperbaiki organisasi pertahanan, Persik Kediri berpotensi semakin terseret ke papan bawah.

Apalagi jarak poin dengan tim-tim zona merah tidak terlalu jauh.

Madura United

Kondisi paling mengkhawatirkan justru dialami Madura United. Klub berjuluk Laskar Sape Kerrab kini terjebak di posisi ke-16 klasemen dengan 20 poin dari 25 laga.

Posisi tersebut menempatkan Madura United tepat di batas awal zona degradasi. Mereka bahkan memiliki poin yang sama dengan Persis Solo dan Semen Padang yang berada di sekitar zona merah.

Masalah utama Madura United terlihat jelas pada produktivitas gol yang sangat rendah. Dari 25 pertandingan, mereka hanya mampu mencetak 24 gol.

Catatan itu membuat mereka kesulitan memenangkan pertandingan. Dalam banyak laga, Madura United gagal memaksimalkan peluang yang seharusnya bisa menghasilkan poin penting.

Baca Juga :  Menyedihkan! Timnas Indonesia Dihajar Jepang 6-0 di Panasonic Stadium Suita

Pertahanan mereka juga tidak terlalu solid dengan kebobolan 42 gol. Kombinasi lini depan yang tumpul dan lini belakang yang rapuh menjadi faktor utama keterpurukan tim musim ini.

Situasi semakin rumit karena persaingan di papan bawah sangat ketat. Selisih poin antar tim hanya terpaut tipis sehingga setiap pertandingan bisa menentukan nasib mereka.

Jika tidak segera menemukan konsistensi, Madura United berpotensi benar-benar terdegradasi. Setiap laga sisa musim ini bisa dianggap sebagai pertandingan final bagi mereka.

 

Di tengah situasi tersebut, Persebaya Surabaya menjadi satu-satunya wakil Jawa Timur yang masih mampu menjaga stabilitas.

Namun, posisi mereka di papan tengah juga belum cukup membanggakan bagi provinsi dengan sejarah sepak bola besar.

Persebaya Surabaya sebenarnya memiliki pertahanan yang cukup solid dengan kebobolan 30 gol. Namun, jumlah hasil imbang yang mencapai sembilan pertandingan menjadi penghambat utama mereka untuk naik ke papan atas.

Jika mampu mengubah sebagian hasil seri menjadi kemenangan, peluang menembus lima besar masih terbuka. Konsistensi di laga-laga krusial akan menjadi kunci bagi Persebaya Surabaya.

Situasi ini sekaligus menjadi alarm bagi sepak bola Jawa Timur secara keseluruhan. Empat klub yang dulu dikenal sebagai kekuatan tradisional kini justru berjuang mempertahankan eksistensi di kasta tertinggi.

Dengan sisa pertandingan yang masih ada, peluang memperbaiki posisi tentu masih terbuka. Namun tanpa perubahan signifikan, musim ini bisa menjadi salah satu periode paling mengecewakan bagi klub-klub Jawa Timur di Super League.(jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru

/