30.2 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Mendidik Anak-Anak Itu Lebih Baik Daripada Memperbaiki Orang Dewasa

PALANGKA RAYA- Mendapat dan menyalurkan ilmu tak mengenal ruang
dan waktu. Tak harus formal. Yang penting nyaman. Itulah yang dilakukan sekelompok
muda-mudi yang tergabung dalam Sohib Literasi Indonesia (Solid).
Aktivitas rutin
setiap Jumat sore. Anak-anak Flamboyan Bawah, Kelurahan Langkai, Kecamatan
Jekan Raya, Kota Palangka Raya menyisihkan 90 menit waktunya bergabung bersama Solid.
Duduk beralaskan terpal di salah satu PAUD, tepat di depan Masjid Al Muttaqin.

Anak-anak antusias
mendengarkan perempuan berkerudung abu-abu berbahasa Inggris. Ia berada di
kerumunan para generasi muda yang duduk membentuk setengah lingkaran.
“Drawing
book,” ucap perempuan yang disapa Gerry itu, lalu ditirukan anak-anak.

Mereka antusias
menjawab setiap pertanyaan dan tebakan yang dilontarkan. Interaksi dua arah
tercipta, karena Gerry membimbing anak-anak itu dengan ramah.

Setiap Jumat sore,
Solid meluangkan waktu memberikan literasi kepada para generasi negeri ini.
Literasi yang dilakukan mulai dari membaca, berhitung, berbahasa, hingga
aktivitas-aktivitas lain yang mengedukasi.

Para relawan ini
berawal dari sekelompok teman tongkrong. Memiliki kesukaan yang sama yakni
bersosial dengan masyarakat. Akhirnya muncul ide membentuk komunitas bertajuk
sosial. Keanggotaan pun tidak tetap, karena kelompok ini diisi oleh siapa pun
yang berkeinginan berbagi ilmu. Anggotanya merupakan siswa-siswi SMA dan
komunitas-komunitas lain.

Perempuan bernama
lengkap Gerry Olvina Faz itu merupakan salah satu penggerak Solid. Aktivitas yang
dilaksanakan sekali dalam sepekan ini sudah berjalan satu tahun. Kemarin, Jumat
(28/2) merupakan pekan ke-68 sejak didirikan. Memilih tempat-tempat dengan
aktivitas padat anak-anak bermain saat sore hari. Wilayah permukiman Flamboyan Bawah
dianggap wilayah paling tepat.

“Kami bersyukur di
tempat ini kami diterima dengan baik. Kami diberikan tempat untuk menyalurkan
ilmu yang kami miliki kepada adik-adik di wilayah ini,” katanya saat
dibincangi Kalteng Pos, kemarin sore.

Baca Juga :  Rumah Sakit Swasta di Kalteng "Ancam" Tolak Rawat Pasien Covid-19

Literasi ini dilakukan
setiap sore selama 90 menit. Waktu yang cukup singkat ini sudah memberikan
perubahan-perubahan kepada anak-anak selama 68 pekan berjalan. Literasi yang
Solid berikan tidak hanya terkait pendidikan akademik, tetapi juga ilmu-ilmu
nonakademik seperti perilaku dan karakter.

“Mendidik anak-anak
itu lebih baik daripada memperbaiki orang dewasa. Investasi waktu untuk
anak-anak jauh lebih bermakna dan berdampak daripada saat diterapkan ketika
sudah dewasa dan karakternya pun sudah terbentuk,” ungkapnya.

Kebetulan, lanjut dia,
penggerak utama Solid ini terdiri dari orang-orang dengan latar belakang
pendidikan yang sesuai. Seperti guru dan Gerry pun sebagai seorang psikolog dan
dosen.

“Kebetulan kami
memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan kesukaan. Daripada menongkrong,
mending memberikan sesuatu yang berguna untuk masyarakat,” ucapnya.

Penggerak Solid
ternyata tidak hanya memberikan ilmu selama 68 pekan ini, melainkan juga
menerima sesuatu dari anak-anak itu. Mereka menerima penghargaan yang
menjadikan kepuasan tersendiri bagi orang-orang yang bernotabene bergelut
dengan pendidikan dan anak-anak.

“Kami juga banyak
belajar dari mereka. Kami seorang pendidik. Selain sebagai psikolog, saya juga
dosen di IAIN Palangka Raya. Teman-teman saya juga ada yang berprofesi sebagai
guru. Dalam kegiatan ini, ada banyak karakter anak yang kami temukan. Kami
dapat belajar agar menjadi lebih baik lagi dalam memperlakukan anak-anak,”
ujar dosen IAIN Palangka Raya ini.

Adalah suatu kepuasan
tersendiri bagi seorang pendidik, ketika apa yang dijelaskan diperhatikan dan
dipahami anak-anak. Dari yang susah membaca menjadi lancar. Dari anak pemalu
menjadi percaya diri. Yang sering berkata kasar, berubah jadi anak yang baik.

“Itulah yang kami
terima dari mereka. Ini adalah kepuasan batin yang pasti dirasakan ketika niat
dan tujuan tercapai, yakni memberikan literasi dan perubahan meskipun dari
hal-hal kecil,” tegas perempuan yang lahir pada Mei 1989 ini.

Baca Juga :  Lama Berpisah, Tetap Harmonis

Mimpi mereka besar.
Mereka ingin Solid yang dibangun ini menjadi Solid Indonesia. Mereka ingin gerakan
ini bukan hanya hidup di Kalteng, melainkan juga digencarkan se-Indonesia.
Memang ini tidaklah mudah, tapi bukankah menggantungkan mimpi itu harus setinggi
langit?

“Berawal dari
hal-hal kecil Solid sudah terlihat, mampu mengubah perilaku. Contoh saja,
anak-anak di wilayah Flamboyan saat ini sudah rutin datang setiap Jumat sore
untuk belajar. Artinya, anak-anak sudah memiliki kesadaran ingin belajar lebih,”
kisah Gerry.

Meski berawal dari
hal-hal kecil, Gerry menyebut impian akhir Solid adalah pemberdayaan
masyarakat. Ia optimistis bahwa Solid tidak hanya mampu memberikan literasi
kepada anak-anak, tetapi juga kepada lapisan-lapisan masyarakat.

“Jadi, goal-nya
kami ingin memberdayakan masyarakat. Awalnya memang dari Flamboyan Bawah ini
dan khusus anak-anak. Namun, sasaran ke depan adalah masyarakat, tidak lagi hanya
di Flamboyan Bawah, tapi juga wilayah-wilayah lain,” kata perempuan berusia
31 tahun ini.

Berawal dari pendekatan
kepada anak-anak, selanjutnya kepada orang tua. Apabila dua sasaran ini telah
dicapai, maka langkah berikut adalah mengelola taman baca yang dibangun oleh
masyarakat untuk masyarakat. Dalam hal ini, Solid hanyalah sebagai pemantiknya.

“Harapan kami
demikian. Di setiap lingkungan masyarakat memiliki taman baca yang dibangun
atas kesadaran masyarakat dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Setelah itu
terwujud di suatu tempat, maka kami akan berpindah ke tempat lain dan dengan
proses yang sama,” bebernya.

Saat ini, sambung dia,
para orang tua sudah mulai terlibat dalam kegiatan literasi anak-anak. Pihaknya
berharap, kelak para orang tua dapat aktif bergabung dalam kegiatan ini. Dengan
demikian, tujuan Solid pun pada waktunya bisa terwujud. (
abw/ram)

PALANGKA RAYA- Mendapat dan menyalurkan ilmu tak mengenal ruang
dan waktu. Tak harus formal. Yang penting nyaman. Itulah yang dilakukan sekelompok
muda-mudi yang tergabung dalam Sohib Literasi Indonesia (Solid).
Aktivitas rutin
setiap Jumat sore. Anak-anak Flamboyan Bawah, Kelurahan Langkai, Kecamatan
Jekan Raya, Kota Palangka Raya menyisihkan 90 menit waktunya bergabung bersama Solid.
Duduk beralaskan terpal di salah satu PAUD, tepat di depan Masjid Al Muttaqin.

Anak-anak antusias
mendengarkan perempuan berkerudung abu-abu berbahasa Inggris. Ia berada di
kerumunan para generasi muda yang duduk membentuk setengah lingkaran.
“Drawing
book,” ucap perempuan yang disapa Gerry itu, lalu ditirukan anak-anak.

Mereka antusias
menjawab setiap pertanyaan dan tebakan yang dilontarkan. Interaksi dua arah
tercipta, karena Gerry membimbing anak-anak itu dengan ramah.

Setiap Jumat sore,
Solid meluangkan waktu memberikan literasi kepada para generasi negeri ini.
Literasi yang dilakukan mulai dari membaca, berhitung, berbahasa, hingga
aktivitas-aktivitas lain yang mengedukasi.

Para relawan ini
berawal dari sekelompok teman tongkrong. Memiliki kesukaan yang sama yakni
bersosial dengan masyarakat. Akhirnya muncul ide membentuk komunitas bertajuk
sosial. Keanggotaan pun tidak tetap, karena kelompok ini diisi oleh siapa pun
yang berkeinginan berbagi ilmu. Anggotanya merupakan siswa-siswi SMA dan
komunitas-komunitas lain.

Perempuan bernama
lengkap Gerry Olvina Faz itu merupakan salah satu penggerak Solid. Aktivitas yang
dilaksanakan sekali dalam sepekan ini sudah berjalan satu tahun. Kemarin, Jumat
(28/2) merupakan pekan ke-68 sejak didirikan. Memilih tempat-tempat dengan
aktivitas padat anak-anak bermain saat sore hari. Wilayah permukiman Flamboyan Bawah
dianggap wilayah paling tepat.

“Kami bersyukur di
tempat ini kami diterima dengan baik. Kami diberikan tempat untuk menyalurkan
ilmu yang kami miliki kepada adik-adik di wilayah ini,” katanya saat
dibincangi Kalteng Pos, kemarin sore.

Baca Juga :  Rumah Sakit Swasta di Kalteng "Ancam" Tolak Rawat Pasien Covid-19

Literasi ini dilakukan
setiap sore selama 90 menit. Waktu yang cukup singkat ini sudah memberikan
perubahan-perubahan kepada anak-anak selama 68 pekan berjalan. Literasi yang
Solid berikan tidak hanya terkait pendidikan akademik, tetapi juga ilmu-ilmu
nonakademik seperti perilaku dan karakter.

“Mendidik anak-anak
itu lebih baik daripada memperbaiki orang dewasa. Investasi waktu untuk
anak-anak jauh lebih bermakna dan berdampak daripada saat diterapkan ketika
sudah dewasa dan karakternya pun sudah terbentuk,” ungkapnya.

Kebetulan, lanjut dia,
penggerak utama Solid ini terdiri dari orang-orang dengan latar belakang
pendidikan yang sesuai. Seperti guru dan Gerry pun sebagai seorang psikolog dan
dosen.

“Kebetulan kami
memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan kesukaan. Daripada menongkrong,
mending memberikan sesuatu yang berguna untuk masyarakat,” ucapnya.

Penggerak Solid
ternyata tidak hanya memberikan ilmu selama 68 pekan ini, melainkan juga
menerima sesuatu dari anak-anak itu. Mereka menerima penghargaan yang
menjadikan kepuasan tersendiri bagi orang-orang yang bernotabene bergelut
dengan pendidikan dan anak-anak.

“Kami juga banyak
belajar dari mereka. Kami seorang pendidik. Selain sebagai psikolog, saya juga
dosen di IAIN Palangka Raya. Teman-teman saya juga ada yang berprofesi sebagai
guru. Dalam kegiatan ini, ada banyak karakter anak yang kami temukan. Kami
dapat belajar agar menjadi lebih baik lagi dalam memperlakukan anak-anak,”
ujar dosen IAIN Palangka Raya ini.

Adalah suatu kepuasan
tersendiri bagi seorang pendidik, ketika apa yang dijelaskan diperhatikan dan
dipahami anak-anak. Dari yang susah membaca menjadi lancar. Dari anak pemalu
menjadi percaya diri. Yang sering berkata kasar, berubah jadi anak yang baik.

“Itulah yang kami
terima dari mereka. Ini adalah kepuasan batin yang pasti dirasakan ketika niat
dan tujuan tercapai, yakni memberikan literasi dan perubahan meskipun dari
hal-hal kecil,” tegas perempuan yang lahir pada Mei 1989 ini.

Baca Juga :  Lama Berpisah, Tetap Harmonis

Mimpi mereka besar.
Mereka ingin Solid yang dibangun ini menjadi Solid Indonesia. Mereka ingin gerakan
ini bukan hanya hidup di Kalteng, melainkan juga digencarkan se-Indonesia.
Memang ini tidaklah mudah, tapi bukankah menggantungkan mimpi itu harus setinggi
langit?

“Berawal dari
hal-hal kecil Solid sudah terlihat, mampu mengubah perilaku. Contoh saja,
anak-anak di wilayah Flamboyan saat ini sudah rutin datang setiap Jumat sore
untuk belajar. Artinya, anak-anak sudah memiliki kesadaran ingin belajar lebih,”
kisah Gerry.

Meski berawal dari
hal-hal kecil, Gerry menyebut impian akhir Solid adalah pemberdayaan
masyarakat. Ia optimistis bahwa Solid tidak hanya mampu memberikan literasi
kepada anak-anak, tetapi juga kepada lapisan-lapisan masyarakat.

“Jadi, goal-nya
kami ingin memberdayakan masyarakat. Awalnya memang dari Flamboyan Bawah ini
dan khusus anak-anak. Namun, sasaran ke depan adalah masyarakat, tidak lagi hanya
di Flamboyan Bawah, tapi juga wilayah-wilayah lain,” kata perempuan berusia
31 tahun ini.

Berawal dari pendekatan
kepada anak-anak, selanjutnya kepada orang tua. Apabila dua sasaran ini telah
dicapai, maka langkah berikut adalah mengelola taman baca yang dibangun oleh
masyarakat untuk masyarakat. Dalam hal ini, Solid hanyalah sebagai pemantiknya.

“Harapan kami
demikian. Di setiap lingkungan masyarakat memiliki taman baca yang dibangun
atas kesadaran masyarakat dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Setelah itu
terwujud di suatu tempat, maka kami akan berpindah ke tempat lain dan dengan
proses yang sama,” bebernya.

Saat ini, sambung dia,
para orang tua sudah mulai terlibat dalam kegiatan literasi anak-anak. Pihaknya
berharap, kelak para orang tua dapat aktif bergabung dalam kegiatan ini. Dengan
demikian, tujuan Solid pun pada waktunya bisa terwujud. (
abw/ram)

Terpopuler

Artikel Terbaru