PROKALTENG.CO-Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Mina dan Jamarat menjadi fase terberat dalam prosesi puncak ibadah haji tahun ini.
Tak sedikit jamaah yang tumbang akibat kelelahan. Ditambah lagi jamaah yang lupa arah pulang menuju tenda mereka di Mina seusai melontar jumrah.
Ada pula jamaah yang terpisah dari rombongan karena padatnya lautan manusia yang hendak menuju Jamarat.
Jamarat punya karakteristik berbeda dengan ibadah di Masjidil Haram, wukuf di Arafah, maupun mabit di Muzdalifah.
Di ketiga lokasi itu, jamaah haji lebih banyak diam di tempatnya. Sementara di Mina, terutama di Jamarat, jamaah haji terus menerus bergerak dan berjalan nyaris tanpa henti.
Dimulai dari keluar dari tenda Mina, berjalan berkilo-kilometer menuju Jamarat, melontar jumrah, lalu berjalan lagi menuju tenda di Mina.
Waktu jamaah lebih banyak habis di perjalanan. Sementara, waktu melontar jumrahnya sangat singkat.
Untuk satu jumrah, jamaah hanya butuh waktu kurang dari satu menit, bahkan tak sampai 30 detik untuk melontar tujuh batu.
Kemudian ia harus bergerak ke dua jumrah berikutnya, lalu bergegas keluar dari area jamarat karena ada puluhan ribu jamaah haji lain di belakangnya yang juga hendak melontar jumrah.
Kepala Satuan Operasi Armuzna Letkol Surnadi menjelaskan, sesuai hasil koordinasi dengan otoritas Arab Saudi, pihaknya telah melarang jamaah haji untuk keluar dari tenda, apalagi menuju Jamarat antara pukul 10.00-14.00.
Karena cuaca musim panas Arab Saudi di Siang hari kurang bersahabat bagi mayoritas jamaah haji Indonesia.
Jamaah juga harus menyiapkan bekal untuk mengantisipasi dinamika situasi di jamarat. Baik saat perjalanan dari tenda menuju jamarat maupun saat berada di area lontar jumrah.
“Jangan lupa membawa air minum untuk pada saat kita haus langsung minum,” ujarnya di area Jamarat, Kamis (28/5).
Sejauh ini, lanjut Surnadi, jamaah haji Indonesia tergolong cukup tertib dalam melontar jumrah.
Pihaknya sudah menetapkan bawha jamaah yang mabit di Mina melontar jumrah di lantai 3 Jamarat. Sementara, jamaah yang menjalani tanazul melontar di lantai 1 Jamarat.
“Kita lihat sendiri, di pukul 10.58 (Waktu Arab Saudi) Alhamdulillah jamaah Indonesia sudah mau mengikuti saran-saran atau aturan-aturan yang dikeluarkan dari pemerintah kita,” jelasnya.
Di tempat terpisah, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan, kejadian-kejadian jamaah lupa arah pulang dan tersasar lebih banyak terjadi di hari pertama.
Yakni saat melontar jumrah Aqabah. “Karena baru hari pertama, mereka sedang pengenalan lokasi. Karena mereka kan tiga hari mabit di Mina. Biasanya di Mina itu lebih meletihkan,” terangnya.
Bisa dibayangkan, pada hari pertama, jamaah yang sehari sebelumnya wukuf di Arafah lalu mabit di Muzdalifah, hanya punya waktu sejenak untuk beristirahat di tenda Mina.
Setelah itu, mereka harus bergegas pergi ke Jamarat dengan berjalan kaki untuk melontar jumrah Aqabah dan tahalul awal.
Di saat bersamaan, jutaan jamaah haji dari seluruh dunia juga melakukan hal yang sama. Jalur-jalur menuju jamarat untuk sementara dibuat sistem buka tutup dan memutar oleh askar untuk mengurangi kepadatan.
Akibatnya, jamaah haji harus memutar lebih jauh untuk menuju jamarat di tengah cuaca yang panas dan berdesakan dengan sesama jamaah.
Karena itu, Dahnil meminta jamaah haji tidak memaksakan diri. Terutama mereka yang berstatus lansia. “Kalau tidak sanggup, ada baiknya dibadalkan (lontar jumrah),” imbuhnya. (jpg)


