PROKALTENG.CO- Sepanjang 2026, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng) telah mencapai 366,32 hektare hingga 11 Oktober. Jumlah tersebut tercatat dari 213 kejadian. Akibatnya, kabut asap di Kota Nanga Bulik dan sekitarnya semakin pekat.
“Luas kebakaran hutan dan lahan tahun 2026 per 11 Oktober mencapai 366,32 hektare dari 213 kejadian di wilayah Kabupaten Lamandau,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau Hendikel seperti dikutip dari Radar Sampit (Jawa Pos Grup), Selasa (13/10).
Ia mengatakan, tingginya jumlah kejadian karhutla membuat tim gabungan terus memantau titik rawan kebakaran dan bergerak melakukan pemadaman serta pendinginan setelah menerima laporan masyarakat maupun hasil pemantauan satelit.
“Petugas di lapangan hampir tidak ada jeda karena titik api muncul bergantian di beberapa kecamatan. Keterbatasan akses dan kondisi tanah gambut di beberapa titik juga menjadi tantangan utama kami saat proses pemadaman,” tutur Hendikel.
Oleh karena itu, Hendikel mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca kering yang berpotensi memicu munculnya titik api baru.
“Kami tidak bosan-bosannya mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak membakar lahan. Penanganan karhutla memerlukan peran aktif seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (jpg)
PROKALTENG.CO- Sepanjang 2026, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng) telah mencapai 366,32 hektare hingga 11 Oktober. Jumlah tersebut tercatat dari 213 kejadian. Akibatnya, kabut asap di Kota Nanga Bulik dan sekitarnya semakin pekat.
“Luas kebakaran hutan dan lahan tahun 2026 per 11 Oktober mencapai 366,32 hektare dari 213 kejadian di wilayah Kabupaten Lamandau,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau Hendikel seperti dikutip dari Radar Sampit (Jawa Pos Grup), Selasa (13/10).
Ia mengatakan, tingginya jumlah kejadian karhutla membuat tim gabungan terus memantau titik rawan kebakaran dan bergerak melakukan pemadaman serta pendinginan setelah menerima laporan masyarakat maupun hasil pemantauan satelit.
“Petugas di lapangan hampir tidak ada jeda karena titik api muncul bergantian di beberapa kecamatan. Keterbatasan akses dan kondisi tanah gambut di beberapa titik juga menjadi tantangan utama kami saat proses pemadaman,” tutur Hendikel.
Oleh karena itu, Hendikel mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca kering yang berpotensi memicu munculnya titik api baru.
“Kami tidak bosan-bosannya mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak membakar lahan. Penanganan karhutla memerlukan peran aktif seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (jpg)