PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pekatnya kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan yang menyelimuti kawasan Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya melumpuhkan armada udara yang bertugas memadamkan api.
Kondisi jarak pandang (visibility) yang memburuk sejak Jumat (11/9/2026) dilaporkan tidak hanya menahan laju penerbangan pesawat komersial, tetapi juga menyasar penerbangan darurat untuk operasi penanganan Karhutla.
General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Tjilik Riwut, I Made Dermawan, membeberkan bahwa armada khusus yang disiagakan pemerintah terpaksa dikandangkan sementara waktu demi alasan keselamatan.
“Untuk operasi modifikasi cuaca, kemudian water bombing, dan patroli ini memiliki dampak juga. Pesawat yang disiapkan untuk penanganan Karhutla ini belum bisa terbang. Jadi kondisinya sama dengan pesawat yang komersil,” ujar Made saat diwawancarai awak media di Bandara Tjilik Riwut, Sabtu (12/9/2026).
Lumpuhnya aktivitas udara penting seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pengeboman air (water bombing) ini tak lepas dari minimnya jarak pandang di landasan pacu yang anjlok secara ekstrem.
Kondisi ini membuat pesawat penanggulangan bencana tidak diizinkan lepas landas karena risiko penerbangan yang sangat tinggi.
Mengenai standar keselamatan terbang, Made menggarisbawahi bahwa penerbangan membutuhkan jarak pandang yang jauh lebih tinggi daripada kondisi aktual di lapangan saat ini. Â Ia mencontohkan standar minimal yang diterapkan pada penerbangan pesawat penumpang biasa.
“Kalau jarak aman untuk pesawat komersil itu antara 2.000 sampai 2.500 (meter),” paparnya.
Meskipun teknologi aviasi saat ini semakin modern, otoritas penerbangan tetap tidak bisa berkompromi dengan jarak pandang yang tertutup asap pekat. Made menjelaskan bahwa informasi cuaca di lapangan akan selalu disuplai oleh pihak navigasi penerbangan untuk menentukan kelayakan terbang.
“Ini tergantung juga teman-teman AirNav memberikan informasi kepada kapten pilot. Karena standarnya pesawat kan sekarang sudah canggih nih. Nah tergantung lagi keputusannya tetap ada di kapten pilotnya,” pungkas Made.
Tertahannya helikopter patroli dan pesawat pemadam kebakaran udara ini dikhawatirkan akan menghambat laju penanggulangan titik api (hotspot) di wilayah Kalteng. Selama jarak pandang belum berangsur pulih dan memenuhi standar aman, upaya pemadaman dari jalur udara pun terpaksa ditunda. (her)


