alexametrics
27.1 C
Palangkaraya
Tuesday, August 16, 2022

ITS Kembangkan Alat Deteksi Covid-19 Melalui Suara Batuk

PROKALTENG.CO – Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan alat diagnosis kesehatan elBicare Cough Analyzer yang dapat melakukan pemetaan penyakit menular Covid-19 melalui batuk berdasarkan suara paru-paru.

“Alat pendeksi Covid-19 ini bisa digunakan tanpa harus melakukan kontak langsung. Bila alat ini diimplementasikan di rumah sakit maka akan mampu memberikan perlindungan awal bagi tenaga kesehatan yang rentan tertular Covid-19 dari pasien,” kata Ketua Tim, Dr Dhany Arifianto.

Dhany menjelaskan, alat ini dikembangkan bukan hanya untuk Covid-19, tapi juga untuk penyakit pernapasan yang menular lainnya.

elBicare Cough Analyzer dilengkapi dengan mikrofon bersensor tipis dan kecil yang berguna untuk menangkap suara di sekitar alat. Suara yang masuk selanjutnya akan dianalisis, apakah termasuk suara batuk atau bukan oleh algoritma pada prosesor alat yang telah dirangkai tim peneliti.

“Daya jangkau tangkapan suara oleh alat ini mencapai 10 meter,” tambah Kepala Pusat Penelitian Internet of Things dan Teknologi Pertahanan ITS ini.

Lanjut Dhanny, suara batuk akan diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu batuk yang terindikasi Covid-19 dan non Covid-19. Batuk yang dikategorikan sebagai batuk non Covid-19 akan dideteksi lagi penyebabnya, misalnya batuk normal, batuk gejala tuberkulosis (TBC), bronkitis, dan gejala lainnya.

Baca Juga :  RS Bhayangkara Palangka Raya Siaga Hadapi Lonjakan Pasien Covid-19

Dosen Departemen Teknik Fisika ITS ini mengungkapkan, penemuan ini didasarkan pada penyesuaian frekuensi, amplitudo, dan komponen harmonik suara paru-paru.

Hasil analisis elBicare Cough Analyzer terhadap penyebab batuk akan tersimpan dan terintegrasi otomatis yang kemudian didistribusikan ke perangkat pengguna dengan bantuan Bluetooth.

Dhany bersama delapan anggota tim lainnya ini pun memastikan bahwa ke depannya tim akan mengembangkan distribusi data menggunakan bantuan wi-fi.

“elBicare Cough Analyzer mampu bertahan selama 20 jam penggunaan yang terus-menerus,” ungkap lelaki kelahiran Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.

Data pengelompokan batuk non Covid-19 sendiri didapatkan melalui penelitian mandiri tim. Anggota tim terdiri dari tiga mahasiswa ITS jenjang sarjana (S-1), dua mahasiswa ITS jenjang magister (S-2), dan tiga orang dokter (salah satunya spesialis paru) dari Universitas Airlangga (Unair).

Baca Juga :  Aturan Covid-19 Diperketat, Warga China Mulai Frustrasi

Sementara untuk data penelitian batuk gejala Covid-19 didapatkan melalui penelitian yang bekerja sama dengan University of Cambridge, Inggris.

“Penelitian alat ini memakan waktu hampir dua tahun lamanya yang pengujiannya dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA),” terang alumnus ITS angkatan 1992 ini.

Dalam penelitian ini pun, Dhany dan timnya sempat melalui beberapa kendala, salah satunya ialah sulitnya mencari mahasiswa maupun tenaga ahli di ITS yang tertarik dalam pengerjaan hardware alat.

Dhany mengungkapkan, saat ini bidang software memang lebih banyak diminati dibandingkan bidang hardware. Kendala lain ialah sulit mendapat pasien Covid-19 untuk melakukan uji coba alat.

Dhany berharap bahwa dengan hadirnya elBicare Cough Analyzer ini mampu membawa manfaat bagi masyarakat Indonesia, serta dapat memberikan fasilitas kesehatan yang layak dan akurat dengan harga yang lebih ekonomis.

“Kami juga berharap bahwa ke depannya mahasiswa dapat lebih terlibat aktif dalam penelitian yang kolaboratif seperti ini,” katanya. (jpg)

PROKALTENG.CO – Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan alat diagnosis kesehatan elBicare Cough Analyzer yang dapat melakukan pemetaan penyakit menular Covid-19 melalui batuk berdasarkan suara paru-paru.

“Alat pendeksi Covid-19 ini bisa digunakan tanpa harus melakukan kontak langsung. Bila alat ini diimplementasikan di rumah sakit maka akan mampu memberikan perlindungan awal bagi tenaga kesehatan yang rentan tertular Covid-19 dari pasien,” kata Ketua Tim, Dr Dhany Arifianto.

Dhany menjelaskan, alat ini dikembangkan bukan hanya untuk Covid-19, tapi juga untuk penyakit pernapasan yang menular lainnya.

elBicare Cough Analyzer dilengkapi dengan mikrofon bersensor tipis dan kecil yang berguna untuk menangkap suara di sekitar alat. Suara yang masuk selanjutnya akan dianalisis, apakah termasuk suara batuk atau bukan oleh algoritma pada prosesor alat yang telah dirangkai tim peneliti.

“Daya jangkau tangkapan suara oleh alat ini mencapai 10 meter,” tambah Kepala Pusat Penelitian Internet of Things dan Teknologi Pertahanan ITS ini.

Lanjut Dhanny, suara batuk akan diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu batuk yang terindikasi Covid-19 dan non Covid-19. Batuk yang dikategorikan sebagai batuk non Covid-19 akan dideteksi lagi penyebabnya, misalnya batuk normal, batuk gejala tuberkulosis (TBC), bronkitis, dan gejala lainnya.

Baca Juga :  Hati-hati dengan WhatsApp Pink, Semua Isi HP Bisa Dicuri

Dosen Departemen Teknik Fisika ITS ini mengungkapkan, penemuan ini didasarkan pada penyesuaian frekuensi, amplitudo, dan komponen harmonik suara paru-paru.

Hasil analisis elBicare Cough Analyzer terhadap penyebab batuk akan tersimpan dan terintegrasi otomatis yang kemudian didistribusikan ke perangkat pengguna dengan bantuan Bluetooth.

Dhany bersama delapan anggota tim lainnya ini pun memastikan bahwa ke depannya tim akan mengembangkan distribusi data menggunakan bantuan wi-fi.

“elBicare Cough Analyzer mampu bertahan selama 20 jam penggunaan yang terus-menerus,” ungkap lelaki kelahiran Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.

Data pengelompokan batuk non Covid-19 sendiri didapatkan melalui penelitian mandiri tim. Anggota tim terdiri dari tiga mahasiswa ITS jenjang sarjana (S-1), dua mahasiswa ITS jenjang magister (S-2), dan tiga orang dokter (salah satunya spesialis paru) dari Universitas Airlangga (Unair).

Baca Juga :  Ini Cara dan Syarat Jualan di TikTok Shop

Sementara untuk data penelitian batuk gejala Covid-19 didapatkan melalui penelitian yang bekerja sama dengan University of Cambridge, Inggris.

“Penelitian alat ini memakan waktu hampir dua tahun lamanya yang pengujiannya dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA),” terang alumnus ITS angkatan 1992 ini.

Dalam penelitian ini pun, Dhany dan timnya sempat melalui beberapa kendala, salah satunya ialah sulitnya mencari mahasiswa maupun tenaga ahli di ITS yang tertarik dalam pengerjaan hardware alat.

Dhany mengungkapkan, saat ini bidang software memang lebih banyak diminati dibandingkan bidang hardware. Kendala lain ialah sulit mendapat pasien Covid-19 untuk melakukan uji coba alat.

Dhany berharap bahwa dengan hadirnya elBicare Cough Analyzer ini mampu membawa manfaat bagi masyarakat Indonesia, serta dapat memberikan fasilitas kesehatan yang layak dan akurat dengan harga yang lebih ekonomis.

“Kami juga berharap bahwa ke depannya mahasiswa dapat lebih terlibat aktif dalam penelitian yang kolaboratif seperti ini,” katanya. (jpg)

Most Read

Artikel Terbaru

/