PENYAKIT gusi yang selama ini dianggap sepele ternyata dapat memicu berbagai penyakit serius, mulai dari diabetes, komplikasi kehamilan, hingga stroke.
Bahkan, bakteri dari gusi yang terinfeksi dapat masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ tubuh lain, meningkatkan risiko penyakit sistemik yang membahayakan.
Pakar kesehatan gigi dan mulut, Prof. Dr. Muhammad Luthfi, drg., M.Kes., mengungkapkan bahwa kerusakan gusi yang tidak ditangani sejak dini dapat menimbulkan dampak permanen.
“Jika kerusakan sudah mencapai tulang dan jaringan pendukung gusi, kondisi tersebut sering kali bersifat irreversibel. Gigi akan menjadi goyang dan pada akhirnya tanggal.
Yang perlu diwaspadai, bakteri dari gusi yang terinfeksi dapat masuk ke aliran darah dan meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti jantung, stroke, diabetes, infeksi pernapasan, hingga komplikasi kehamilan,” ujarnya, Selasa (30/12).
Penyakit Gusi, Masalah Kesehatan Serius yang Sering Terabaikan
Prof. Luthfi menjelaskan bahwa penyakit gusi merupakan permasalahan kesehatan gigi terbesar kedua di Indonesia setelah gigi berlubang.
Ironisnya, penyakit ini sering kali tidak disadari karena tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal. Kondisi inilah yang membuat penyakit gusi dijuluki sebagai “silent killer”.
“Gejalanya muncul perlahan dan tidak terasa, padahal jika dibiarkan dapat membahayakan kesehatan tubuh secara menyeluruh,” tegas Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga tersebut.
Tahapan Penyakit Gusi yang Perlu Diwaspadai
Menurutnya, penyakit gusi memiliki dua tahapan utama. Tahap pertama adalah gingivitis, yang ditandai dengan gusi bengkak, merah, dan mudah berdarah. Pada tahap ini, penyakit masih dapat disembuhkan dengan perawatan yang tepat.
Namun, jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi periodontitis, yang menyebabkan kerusakan jaringan pendukung gigi secara permanen dan berujung pada kehilangan gigi.
Data Kemenkes: Keluhan Gigi dan Gusi Tertinggi di Semua Usia
Data terbaru dari Program Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan RI yang telah menjangkau hampir 40 juta penduduk menunjukkan bahwa keluhan gigi dan gusi menempati peringkat tertinggi di seluruh kelompok usia.
Temuan ini menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perawatan kesehatan gigi dan mulut.
Untuk itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi dengan asosiasi profesi dan pelaku usaha dalam berbagai program edukasi, promotif, dan preventif guna menekan angka penyakit gigi dan gusi di Indonesia. (rmt/jpg)


