alexametrics
24.8 C
Palangkaraya
Thursday, August 18, 2022

5 Tips Mudah Jaga Jarak di Transportasi Umum Untuk Cegah Covid-19

Vaksin
untuk mengatasi pandemi virus Korona masih menjadi penelitian di berbagai
negara dan dalam tahap uji coba. Salah satu kebijakan yang ampuh dilakukan
untuk menekan angka penularan adalah dengan pembatasan fisik atau yang sering
disebut dengan physical distancing atau menjaga jarak aman. Sayangnya,
kondisinya sulit jika dilakukan saat naik transportasi umum yang biasanya
berdesakan.

Jaga
jarak aman yang dianjurkan adalah 2 meter. Selain itu, masyarakat juga diimbau
memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan lain seperti mencuci tangan
pakai sabun.

Menurut
Pemerhati Kesehatan dari Gerakan Mencegah Daripada Mengobati di Jakarta Timur,
Michele Agnesia Tambayong physical distancing atau pembatasan fisik antara
individu semakin gencar dilakukan pada kendaraan umum. Hal ini dikarenakan pada
kendaraan umum seperti di TransJakarta, kereta, pesawat, individu sangat rentan
untuk melakukan kontak fisik dengan berdekatan.

Faktor
pendukungnya adalah dikarenakan ruang didalam angkutan umum sangat minim dengan
sirkulasi udara yang terbatas. Sehingga masyarakat harus bersinggungan satu sama
lain dengan penumpang lain.

“Sehingga
physical distancing merupakan pola baru yang harus diterapkan selama pendemi
berlangsung. Masyarakat harus bersedia menerima pola baru yang termasuk kedalam
era new normal,” katanya kepada JawaPos.com, Jumat (16/10).

Baca Juga :  Pakar IPB Sebut Galon Isi Ulang Tak Bahayakan Kesehatan

Menurutnya,
pola physical distancing merupakan pola kehidupan yang baru, di mana masyarakat
yang sudah terbiasa melakukan interaksi secara fisik terhadap orang lain
kemudian harus membiasakan diri untuk tidak berinteraksi secara fisik. Hal ini,
kata Michelle, membutuhkan adaptasi dan pola pendekatan yang baik, dikarenakan
apabila masyarakat dipaksa untuk melakukan pola physical distancing tanpa
dibarengi dengan cara beradaptasi maka akan mengganggu kesehatan mental
masyarakat secara global.

Menurutnya,
faktor yang menyebabkan belum terlaksananya physical distancing pada angkutan
umum adalah faktor ekonomi. Sebab apabila dilakukan pembatasan, artinya
mengurangi kapasitas muatan. Pengurangan kapasitas muatan ini artinya akan
berdampak pada pendapatan atau ekonomi angkutan umum dan menyebabkan
terganggunya pendapatan masyarakat yang berperan sebagai sopir angkutan umum.

Sehingga
untuk menerapkan physical distancing pemerintah harus bekerja sama dengan pihak
angkutan umum untuk melakukan pembatasan fisik dengan menerapkan protokol
kesehatan yang ketat. Michelle memberikan 3 tips yang dapat dilakukan dalam
menerapkan jaga jarak saat naik transportasi umum.

Baca Juga :  5 Mitos Pil KB yang Membuat Perempuan Ragu

1.
Utamakan Masker

Patuh
pada protokol kesehatan. Tetap menggunakan masker, atau face shield,
menyemprotkan cairan pembersih seperti hand sanitizer.

2.
Patuhi Tanda

Memastikan
penumpang menempati tempat yang sudah disediakan. Artinya tidak duduk ditempat
yang sudah diberikan tanda dilarang duduk.

3.
Patuhi Cek Suhu

Kooperatif
saat suhu tubuh penumpang dicek. Sehingga yang memiliki keluhan sakit seperti
flu, demam, atau batuk tidak dibenarkan menaiki kendaraan umum.

4.
Tambah Armada

Selain
itu, penerapan physical distancing juga dapat dilakukan dengan menambah armada
angkutan. Pemerintah daerah dengan perusahaan penyedia armada saling bahu
membahu untuk menambah armada sehingga penumpang tetap diberikan pelayanan
dengan tingkat keselamatan yang baik.

5.
Adaptasi

Memang
tak mudah. Harus tanamkan pada diri sendiri bahwa saat ini sudah eranya
Adaptasi Kebiasaan Baru.

Artinya
untuk menerapkan physical distancing dibutuhkan pemahaman yang baik oleh
masyarakat.

Vaksin
untuk mengatasi pandemi virus Korona masih menjadi penelitian di berbagai
negara dan dalam tahap uji coba. Salah satu kebijakan yang ampuh dilakukan
untuk menekan angka penularan adalah dengan pembatasan fisik atau yang sering
disebut dengan physical distancing atau menjaga jarak aman. Sayangnya,
kondisinya sulit jika dilakukan saat naik transportasi umum yang biasanya
berdesakan.

Jaga
jarak aman yang dianjurkan adalah 2 meter. Selain itu, masyarakat juga diimbau
memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan lain seperti mencuci tangan
pakai sabun.

Menurut
Pemerhati Kesehatan dari Gerakan Mencegah Daripada Mengobati di Jakarta Timur,
Michele Agnesia Tambayong physical distancing atau pembatasan fisik antara
individu semakin gencar dilakukan pada kendaraan umum. Hal ini dikarenakan pada
kendaraan umum seperti di TransJakarta, kereta, pesawat, individu sangat rentan
untuk melakukan kontak fisik dengan berdekatan.

Faktor
pendukungnya adalah dikarenakan ruang didalam angkutan umum sangat minim dengan
sirkulasi udara yang terbatas. Sehingga masyarakat harus bersinggungan satu sama
lain dengan penumpang lain.

“Sehingga
physical distancing merupakan pola baru yang harus diterapkan selama pendemi
berlangsung. Masyarakat harus bersedia menerima pola baru yang termasuk kedalam
era new normal,” katanya kepada JawaPos.com, Jumat (16/10).

Baca Juga :  Bikin Pria Kaget, Air Rebusan Kulit Petai Ternyata Khasiatnya Ajaib

Menurutnya,
pola physical distancing merupakan pola kehidupan yang baru, di mana masyarakat
yang sudah terbiasa melakukan interaksi secara fisik terhadap orang lain
kemudian harus membiasakan diri untuk tidak berinteraksi secara fisik. Hal ini,
kata Michelle, membutuhkan adaptasi dan pola pendekatan yang baik, dikarenakan
apabila masyarakat dipaksa untuk melakukan pola physical distancing tanpa
dibarengi dengan cara beradaptasi maka akan mengganggu kesehatan mental
masyarakat secara global.

Menurutnya,
faktor yang menyebabkan belum terlaksananya physical distancing pada angkutan
umum adalah faktor ekonomi. Sebab apabila dilakukan pembatasan, artinya
mengurangi kapasitas muatan. Pengurangan kapasitas muatan ini artinya akan
berdampak pada pendapatan atau ekonomi angkutan umum dan menyebabkan
terganggunya pendapatan masyarakat yang berperan sebagai sopir angkutan umum.

Sehingga
untuk menerapkan physical distancing pemerintah harus bekerja sama dengan pihak
angkutan umum untuk melakukan pembatasan fisik dengan menerapkan protokol
kesehatan yang ketat. Michelle memberikan 3 tips yang dapat dilakukan dalam
menerapkan jaga jarak saat naik transportasi umum.

Baca Juga :  Pakar IPB Sebut Galon Isi Ulang Tak Bahayakan Kesehatan

1.
Utamakan Masker

Patuh
pada protokol kesehatan. Tetap menggunakan masker, atau face shield,
menyemprotkan cairan pembersih seperti hand sanitizer.

2.
Patuhi Tanda

Memastikan
penumpang menempati tempat yang sudah disediakan. Artinya tidak duduk ditempat
yang sudah diberikan tanda dilarang duduk.

3.
Patuhi Cek Suhu

Kooperatif
saat suhu tubuh penumpang dicek. Sehingga yang memiliki keluhan sakit seperti
flu, demam, atau batuk tidak dibenarkan menaiki kendaraan umum.

4.
Tambah Armada

Selain
itu, penerapan physical distancing juga dapat dilakukan dengan menambah armada
angkutan. Pemerintah daerah dengan perusahaan penyedia armada saling bahu
membahu untuk menambah armada sehingga penumpang tetap diberikan pelayanan
dengan tingkat keselamatan yang baik.

5.
Adaptasi

Memang
tak mudah. Harus tanamkan pada diri sendiri bahwa saat ini sudah eranya
Adaptasi Kebiasaan Baru.

Artinya
untuk menerapkan physical distancing dibutuhkan pemahaman yang baik oleh
masyarakat.

Most Read

Artikel Terbaru

Merdeka Kepundungan

Momen HUT RI, Bangkit dari Keterpurukan

Gangguan Kesenangan

/