29.2 C
Jakarta
Friday, July 12, 2024
spot_img

Obat Covid-19 Mulai Diujikan, Tapi Ini Resikonya

KANDIDAT obat untuk pasien virus corona baru atau COVID-19,
hydroxychloroquine diuji klinis pada manusia pada pekan ini, menurut National
Institute of Health (NIH) di Amerika Serikat.

NIH, seperti dilansir Medical
Daily, mengatakan uji klinis hydroxychloroquine dimulai dengan melibatkan
peserta yang terdaftar di Vanderbilt University Medical Center di Nashville,
Tennessee, Amerika Serikat.

Sekitar 500 orang dewasa yang saat
ini dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 atau di unit gawat darurat juga
menjadi partisipan uji klinis.

Selama uji coba, beberapa pasien
akan diobati dengan hydroxychloroquine sementara yang lain tidak. Namun, semua
peserta dalam penelitian ini akan menerima perawatan klinis sesuai indikasi
untuk kondisi mereka.

Baca Juga :  Peringatan Ahli, Virus Nipah 75 Kali Lebih Mematikan daripada Covid-19

Hydroxychloroquine disebut-sebut
berpotensi menjadi obat untuk COVID-19 tetapi efektivitasnya masih menjadi
perdebatan para ahli kesehatan. Beberapa ahli memperingatkan masih terlalu dini
untuk memutuskan obat malaria ini pilihan yang manjur untuk pasien COVID-19.

Studi pendahuluan menunjukkan
obat ini melindungi sel-sel dari virus. Percobaan klinis pada manusia dilakukan
untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitasnya dalam merawat pasien virus
corona.

“Obat ini telah menunjukkan
aktivitas antivirus, kemampuan untuk memodifikasi aktivitas sistem kekebalan
tubuh, dan memiliki profil keamanan pada dosis yang sesuai, yang mengarah pada
hipotesis obat ini juga berguna dalam pengobatan COVID-19,” kata pihak NIH.

Meskipun begitu,
hydroxychloroquine bukannya tanpa risiko karena penggunaan jangka pendek pun
dapat menyebabkan aritmia jantung, kejang, reaksi dermatologis dan
hipoglikemia.

Baca Juga :  Makanan Ini yang Bisa Buat Gemuk 4 Kali Lipat Lebih Cepat

“Hydroxychloroquine menjanjikan
dalam pengaturan laboratorium terhadap SARS-CoV-2 dan laporan awal menunjukkan
potensi kemanjuran. Namun, kami benar-benar membutuhkan data uji klinis untuk
menentukan apakah hydroxychloroquine efektif dan aman dalam mengobati COVID-19,”
kata direktur Penyakit Paru di National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI),
James P. Kiley.

KANDIDAT obat untuk pasien virus corona baru atau COVID-19,
hydroxychloroquine diuji klinis pada manusia pada pekan ini, menurut National
Institute of Health (NIH) di Amerika Serikat.

NIH, seperti dilansir Medical
Daily, mengatakan uji klinis hydroxychloroquine dimulai dengan melibatkan
peserta yang terdaftar di Vanderbilt University Medical Center di Nashville,
Tennessee, Amerika Serikat.

Sekitar 500 orang dewasa yang saat
ini dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 atau di unit gawat darurat juga
menjadi partisipan uji klinis.

Selama uji coba, beberapa pasien
akan diobati dengan hydroxychloroquine sementara yang lain tidak. Namun, semua
peserta dalam penelitian ini akan menerima perawatan klinis sesuai indikasi
untuk kondisi mereka.

Baca Juga :  Peringatan Ahli, Virus Nipah 75 Kali Lebih Mematikan daripada Covid-19

Hydroxychloroquine disebut-sebut
berpotensi menjadi obat untuk COVID-19 tetapi efektivitasnya masih menjadi
perdebatan para ahli kesehatan. Beberapa ahli memperingatkan masih terlalu dini
untuk memutuskan obat malaria ini pilihan yang manjur untuk pasien COVID-19.

Studi pendahuluan menunjukkan
obat ini melindungi sel-sel dari virus. Percobaan klinis pada manusia dilakukan
untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitasnya dalam merawat pasien virus
corona.

“Obat ini telah menunjukkan
aktivitas antivirus, kemampuan untuk memodifikasi aktivitas sistem kekebalan
tubuh, dan memiliki profil keamanan pada dosis yang sesuai, yang mengarah pada
hipotesis obat ini juga berguna dalam pengobatan COVID-19,” kata pihak NIH.

Meskipun begitu,
hydroxychloroquine bukannya tanpa risiko karena penggunaan jangka pendek pun
dapat menyebabkan aritmia jantung, kejang, reaksi dermatologis dan
hipoglikemia.

Baca Juga :  Makanan Ini yang Bisa Buat Gemuk 4 Kali Lipat Lebih Cepat

“Hydroxychloroquine menjanjikan
dalam pengaturan laboratorium terhadap SARS-CoV-2 dan laporan awal menunjukkan
potensi kemanjuran. Namun, kami benar-benar membutuhkan data uji klinis untuk
menentukan apakah hydroxychloroquine efektif dan aman dalam mengobati COVID-19,”
kata direktur Penyakit Paru di National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI),
James P. Kiley.

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru