Mengalami peristiwa pahit di masa lalu, mulai dari kegagalan besar, penolakan emosional, hingga perlakuan tidak menyenangkan, seitring kali meninggalkan luka batin yang mendalam dan berpengaruh pada kesehatan mental.
uka ini, yang akrab disebut sebagai trauma, diam-diam kerap mendikte bagaimana seseorang bertindak, mengambil keputusan, hingga menjalin hubungan dengan orang lain di masa kini.
Banyak orang terjebak dalam lingkaran rasa bersalah, merasa bahwa diri mereka cacat atau tidak berdaya akibat masa lalu tersebut.
Padahal, satu prinsip penting yang harus dipahami adalah bahwa trauma yang anda alami murni bukan kesalahan anda.
Namun, keputusan untuk bangkit, merawat luka tersebut, dan memulihkan diri sepenuhnya merupakan tanggung jawab mutlak anda sendiri demi masa depan yang lebih bahagia.
Melansir dari laman YourTango pada Selasa (30/06), menyebutkan empat langkah pemulihan trauma yang dapat dilakukan dirumah menjaga kesehatan mental.
Proses pemulihan trauma tidak selalu harus dimulai dengan langkah-langkah besar atau mahal.
Pemulihan sejati justru bisa diinisiasi secara mandiri dari kenyamanan rumah melalui serangkaian kebiasaan kecil yang konsisten yang kerap diabaikan oleh banyak orang.
Salah satu studi yang diterbitkan dalam Journal of Traumatic Stress menunjukkan bahwa intervensi mandiri berbasis regulasi emosi, seperti latihan pernapasan, penulisan jurnal ekspresif, dan restrukturisasi kognitif, secara signifikan mampu menurunkan gejala post traumatic stress disorder (PTSD).
Studi ini menegaskan bahwa stimulasi sistem saraf parasimpatis secara mandiri dapat membantu otak memproses ulang memori traumatis dengan cara yang aman dan menenangkan.
Berikut adalah 4 langkah pemulihan diri akibat trauma yang sering diabaikan, dalam menjaga kesehatan mental :
1.Mengambil kendali penuh atas proses pemulihan (radical responsibility)
Langkah awal dan paling krusial adalah berhenti memposisikan diri sebagai korban yang pasif sepanjang hidup.
Menerima kenyataan bahwa masa lalu tidak bisa diubah, namun masa depan berada sepenuhnya di tangan anda, akan memberikan kekuatan emosional yang besar.
Sikap ini memicu internal locus of control yang mendorong anda aktif mencari cara untuk sembuh dari rumah.
2.Melatih regulasi sistem saraf melalui tubuh (somatic healing)
Trauma tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga mengendap di dalam jaringan tubuh dan sistem saraf.
Ketika cemas atau memori buruk melintas, cobalah lakukan latihan pernapasan dalam (deep breathing), yoga santai, atau teknik grounding.
Cara ini terbukti ilmiah mengirimkan sinyal aman ke otak untuk meredakan mode fight or flight.
3.Menulis jurnal ekspresif secara rutin
Alih-alih memendam emosi negatif yang justru akan memperparah trauma, tuangkan seluruh kemarahan, kesedihan, dan ketakutan anda ke dalam selembar kertas.
Menulis jurnal ekspresif tanpa sensor di dalam kamar membantu otak merapikan pikiran yang berantakan, mengenali pemicu (trigger), dan melepaskan beban emosional yang mengganjal secara perlahan.
4.Menciptakan ruang aman dan batasan yang tegas (setting boundaries)
Rumah harus menjadi tempat perlindungan utama anda. Mulailah menyembuhkan diri dengan menyaring informasi yang masuk.
Membatasi interaksi dengan lingkungan atau orang-orang yang beracun (toxic) lewat media sosial, serta belajar berkata tidak pada hal-hal yang menguras energi psikologis anda.
Batasan yang tegas ini memberi ruang bagi jiwa anda untuk beristirahat dan pulih tanpa gangguan.
Pada akhirnya, menyembuhkan trauma adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran ekstra terhadap diri sendiri.
Menyadari bahwa anda bertanggung jawab atas kebahagiaan anda sendiri adalah kunci utama untuk meruntuhkan belenggu masa lalu dan memulai lembaran hidup yang baru dan lebih sehat.(jpc)


