Ini Kata Sederhana agar Pegawai Merasa Dihargai Menurut Psikologi

PROKALTENG.CO-Ada satu hal yang sering dilupakan oleh seorang pemimpin. Pekerja tidak hanya datang ke kantor untuk mendapatkan gaji.

Mereka juga ingin merasa bahwa keberadaan mereka berarti.

Mereka ingin tahu bahwa usaha mereka dilihat. Mereka ingin merasa aman untuk berbicara. Mereka ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar angka dalam laporan produktivitas.

Dan menariknya, untuk membangun perasaan seperti itu, seorang pemimpin tidak selalu membutuhkan program besar, pelatihan mahal, atau bonus tambahan.

Terkadang, semuanya bisa dimulai dari beberapa kata sederhana yang diucapkan dengan tulus.

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), rnam kata sederhana ini mungkin terdengar biasa. Namun, ketika diucapkan secara spesifik, tulus, dan konsisten, kalimat seperti ini dapat membantu membangun budaya kerja yang membuat seseorang merasa kontribusinya diperhatikan.

Electronic money exchangers listing

Psikologi organisasi telah lama membahas pentingnya pengakuan, rasa memiliki, hubungan interpersonal yang positif, serta persepsi bahwa seseorang dihargai di tempat kerja.

Masalahnya, banyak pemimpin menganggap penghargaan harus selalu berbentuk sesuatu yang besar.

Padahal, bagi seorang pekerja, terkadang yang paling membekas justru adalah momen kecil ketika atasannya berhenti sejenak dan berkata:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Mengapa enam kata sederhana bisa begitu berarti?

Bayangkan seorang karyawan bekerja lembur untuk menyelesaikan masalah yang muncul secara tiba-tiba.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada penghargaan resmi.

Tidak ada bonus langsung.

Keesokan harinya, semua orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Kemudian atasannya datang dan berkata:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Sederhana.

Tetapi pesan yang diterima karyawan sebenarnya jauh lebih besar daripada enam kata tersebut.

Pesannya adalah:

“Saya melihat apa yang kamu lakukan.”

Dan perasaan dilihat sebagai manusia memiliki arti penting dalam hubungan kerja.

Manusia pada dasarnya membutuhkan pengakuan sosial. Kita ingin mengetahui bahwa kontribusi kita memiliki arti bagi kelompok tempat kita berada.

Karena itu, ketika seseorang merasa usahanya tidak pernah diperhatikan, motivasi dapat perlahan menurun.

Sebaliknya, ketika seseorang mendapatkan pengakuan yang tulus, ia dapat merasa bahwa pekerjaannya memiliki makna.

Bukan berarti setiap pujian otomatis meningkatkan produktivitas.

Dan bukan berarti seorang pemimpin harus memuji semua hal.

Justru sebaliknya.

Penghargaan yang efektif biasanya terasa spesifik dan autentik.

Bukan sekadar:

“Good job.”

Tetapi:

“Terima kasih sudah menyelesaikan masalah pelanggan tadi. Saya tahu situasinya cukup rumit.”

Perbedaannya kecil.

Dampaknya bisa jauh berbeda.

1. “Terima kasih” membuat kontribusi seseorang terlihat

Salah satu kesalahan yang sering terjadi di tempat kerja adalah menganggap pekerjaan yang dilakukan dengan baik sebagai sesuatu yang otomatis.

Karyawan menyelesaikan tugas.

Atasan menganggap itu memang kewajibannya.

Karyawan membantu rekan kerja.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Karyawan mengambil inisiatif.

Tetap dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan.

Lama-kelamaan, seseorang bisa bertanya dalam hati:

“Apakah ada yang benar-benar memperhatikan usaha saya?”

Di sinilah apresiasi sederhana menjadi penting.

Mengucapkan terima kasih tidak berarti seorang pemimpin sedang memberikan hadiah karena seseorang melakukan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabnya.

Apresiasi lebih merupakan pengakuan bahwa ada manusia di balik pekerjaan tersebut.

Misalnya:

“Terima kasih sudah membantu tim menyelesaikan laporan tadi.”

Atau:

“Terima kasih sudah menjelaskan masalah itu dengan sabar kepada pelanggan.”

Atau bahkan:

“Terima kasih sudah mengambil inisiatif ketika melihat ada masalah.”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pemimpin tidak hanya melihat hasil akhir.

Ia juga melihat perilaku dan usaha yang menghasilkan hasil tersebut.

2. Orang ingin merasa kontribusinya memiliki arti

Bayangkan dua lingkungan kerja.

Di tempat pertama, seseorang bekerja keras selama berbulan-bulan. Ia menyelesaikan tugas tepat waktu, membantu rekan kerja, dan berusaha menyelesaikan masalah.

Tetapi hampir tidak pernah mendapatkan umpan balik.

Di tempat kedua, pekerja juga menghadapi tuntutan yang sama.

Namun ketika melakukan sesuatu yang memberikan dampak positif, pemimpinnya sesekali mengatakan:

“Terima kasih. Bantuanmu membuat pekerjaan tim jauh lebih mudah.”

Kedua orang tersebut mungkin memiliki gaji yang sama.

Beban kerja mereka mungkin hampir sama.

Namun pengalaman psikologis mereka dapat berbeda.

Yang satu mungkin merasa dirinya hanya menjalankan mesin organisasi.

Yang lain mungkin merasa bahwa keberadaannya diperhatikan.

Dalam psikologi organisasi, konsep seperti perceived organizational support membahas bagaimana pekerja memandang apakah organisasi menghargai kontribusi dan memperhatikan kesejahteraan mereka.

Artinya, perhatian kecil dari seorang pemimpin dapat menjadi salah satu bagian dari pengalaman yang lebih luas tentang apakah seseorang merasa dihargai oleh tempat kerjanya.

3. Enam kata tersebut bukan mantra

Tetapi ada satu hal penting.

Jangan salah memahami gagasan ini.

Mengucapkan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

sebanyak sepuluh kali sehari tidak otomatis membuat tempat kerja menjadi sehat.

Jika seorang pemimpin mengatakan terima kasih tetapi mempermalukan karyawan di depan umum, mengabaikan keluhan mereka, memberikan beban kerja yang tidak masuk akal, atau memperlakukan orang secara tidak adil, enam kata tersebut akan kehilangan maknanya.

Baca Juga :  Tujuh Tanda Luka Batin Masa Kecil yang Masih Membayangi Hingga Kini

Karena itu, apresiasi tidak boleh menjadi pengganti kepemimpinan yang baik.

Ia harus menjadi bagian dari kepemimpinan yang baik.

Kata-kata harus didukung oleh perilaku.

Jika mengatakan:

“Saya menghargai pendapatmu,”

maka berikan ruang bagi orang tersebut untuk menyampaikan pendapat.

Jika mengatakan:

“Terima kasih atas kerja kerasmu,”

maka jangan terus-menerus memberikan pekerjaan tambahan tanpa mempertimbangkan kapasitasnya.

Jika mengatakan:

“Kamu bagian penting dari tim ini,”

maka perlakukan ia sebagai bagian penting dari tim.

Konsistensi antara kata dan tindakan jauh lebih penting daripada kata-kata itu sendiri.

4. Jangan hanya mengatakan “terima kasih” ketika seseorang melakukan pekerjaan luar biasa

Ini juga menarik.

Banyak pemimpin hanya memberikan penghargaan ketika seseorang melakukan sesuatu yang spektakuler.

Padahal, kehidupan organisasi sebagian besar dibangun oleh tindakan-tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

Datang tepat waktu.

Membantu rekan kerja.

Menjawab pertanyaan pelanggan.

Menyelesaikan laporan.

Mengecek kembali pekerjaan.

Memberikan informasi kepada anggota tim lain.

Menjaga kualitas.

Menyelesaikan masalah kecil sebelum menjadi masalah besar.

Semua itu mungkin terlihat biasa.

Tetapi organisasi yang sehat dibangun dari ribuan tindakan kecil seperti itu.

Karena itu, seorang pemimpin dapat mengatakan:

“Terima kasih sudah memastikan data ini diperiksa ulang.”

“Terima kasih sudah membantu anggota tim baru.”

“Terima kasih sudah memberi tahu saya tentang masalah itu lebih awal.”

“Terima kasih sudah menyelesaikan pekerjaan ini meskipun situasinya cukup sulit.”

Pujian seperti ini lebih bermakna karena menunjukkan bahwa pemimpin benar-benar memperhatikan.

5. Penghargaan yang spesifik lebih kuat daripada pujian yang terlalu umum

Bandingkan dua kalimat berikut.

“Kamu hebat.”

dengan:

“Terima kasih sudah menjelaskan masalah itu kepada klien dengan begitu tenang.”

Kalimat kedua memberikan informasi yang lebih jelas.

Orang tersebut tahu perilaku apa yang dihargai.

Ini penting karena pujian yang spesifik membantu seseorang memahami kontribusi yang dianggap bernilai.

Jadi, jika kamu seorang pemimpin, jangan hanya mengatakan:

“Bagus.”

Cobalah mengatakan:

“Bagus karena kamu menemukan cara yang lebih sederhana untuk menyelesaikan masalah ini.”

Atau:

“Saya menghargai caramu tetap tenang ketika pelanggan tadi marah.”

Atau:

“Terima kasih sudah membantu tim meskipun itu sebenarnya bukan tanggung jawab utamamu.”

Semakin konkret apresiasinya, semakin kecil kemungkinan kalimat tersebut terdengar seperti formalitas.

6. Jangan hanya menghargai hasil. Hargai juga prosesnya

Ada pekerja yang bekerja sangat keras tetapi hasil akhirnya belum sempurna.

Jika pemimpin hanya menghargai hasil, orang bisa belajar bahwa usaha tidak penting.

Yang penting hanyalah apakah hasil akhirnya sempurna atau tidak.

Padahal, dalam banyak pekerjaan, pembelajaran justru terjadi melalui proses.

Seorang karyawan mungkin mencoba pendekatan baru.

Mungkin belum berhasil.

Namun ia menemukan sesuatu yang penting.

Seorang pemimpin dapat berkata:

“Terima kasih sudah mencoba pendekatan baru. Mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari dari hasilnya.”

Kalimat seperti itu dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman untuk belajar.

Tentu saja, ini bukan berarti kesalahan tidak perlu dikoreksi.

Kesalahan tetap harus dievaluasi.

Tetapi koreksi tidak harus disampaikan dengan cara yang membuat seseorang merasa dirinya tidak berharga.

Ada perbedaan antara mengatakan:

“Ini salah. Kamu seharusnya tahu.”

dan:

“Ada bagian yang perlu kita perbaiki. Terima kasih sudah mengerjakannya; mari kita lihat bagaimana kita bisa membuatnya lebih baik.”

Pesan keduanya sangat berbeda.

7. Ucapkan terima kasih secara pribadi ketika situasinya membutuhkan

Tidak semua orang nyaman menerima pujian di depan banyak orang.

Ada pekerja yang justru merasa canggung ketika dipuji di depan seluruh tim.

Karena itu, kenali konteks.

Kadang-kadang, pesan singkat secara pribadi justru lebih bermakna.

Misalnya:

“Sebentar, saya ingin mengucapkan terima kasih. Saya melihat kamu membantu tim tadi. Itu sangat membantu.”

Tidak perlu panjang.

Tidak perlu dramatis.

Tidak perlu membuat pidato.

Cukup menunjukkan bahwa kamu melihat kontribusinya.

8. Jangan hanya mengatakan kepada orang yang paling dekat denganmu

Ada jebakan lain dalam budaya kerja.

Pemimpin secara tidak sadar bisa lebih sering memberikan apresiasi kepada orang yang paling sering berinteraksi dengannya.

Akibatnya, anggota tim yang lebih pendiam atau bekerja di belakang layar mungkin jarang mendapatkan pengakuan.

Padahal, mereka bisa saja memiliki kontribusi yang sangat penting.

Karena itu, perhatikan juga orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu terlihat.

Orang yang mengatur data.

Orang yang memastikan dokumen benar.

Orang yang menyelesaikan masalah teknis.

Orang yang menjawab pertanyaan rekan kerja.

Orang yang memastikan proses berjalan.

Sering kali, pekerjaan seperti itu baru terlihat ketika tidak dilakukan.

Baca Juga :  6 Perilaku Individu yang Sulit Memaafkan Orang Lain, Salah Satunya Menyimpan Dendam

Seorang pemimpin yang baik belajar memperhatikan kontribusi yang tidak selalu mendapatkan sorotan.

9. Enam kata tersebut harus terasa manusiawi

Jangan mengatakannya seperti robot.

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Lalu langsung berjalan pergi sambil melihat ponsel.

Pesannya bisa kehilangan makna.

Ketika mengucapkan terima kasih, berhentilah sejenak.

Lakukan kontak mata jika sesuai dengan budaya dan situasi.

Sebutkan apa yang kamu hargai.

Dan, jika memungkinkan, jelaskan dampaknya.

Misalnya:

“Terima kasih sudah membantu menyelesaikan masalah pelanggan tadi. Saya tahu itu tidak mudah. Bantuanmu membuat tim bisa kembali fokus.”

Itu jauh lebih kuat daripada sekadar:

“Thanks.”

Karena orang tersebut memahami apa yang dilihat, mengapa dihargai, dan apa dampaknya.

10. Pemimpin tidak harus selalu punya jawaban

Ada satu bentuk penghargaan lain yang sering dilupakan.

Mendengarkan.

Ketika seorang pekerja datang dengan masalah, jangan selalu buru-buru memberikan solusi.

Kadang-kadang mereka ingin didengar terlebih dahulu.

Kamu bisa berkata:

“Terima kasih sudah memberitahu saya.”

Kalimat sederhana ini bisa sangat penting.

Terutama ketika seseorang memberitahukan masalah yang tidak nyaman.

Misalnya:

“Saya kesulitan memenuhi target ini.”

“Saya merasa beban kerja saya sudah terlalu banyak.”

“Ada masalah dengan proses ini.”

“Saya tidak yakin keputusan ini akan berhasil.”

Respons pertama seorang pemimpin dapat menentukan apakah orang tersebut akan merasa aman untuk berbicara lagi di masa depan.

Jika responsnya adalah kemarahan atau penghukuman, orang mungkin belajar untuk diam.

Jika respons awalnya adalah:

“Terima kasih sudah memberitahu saya. Mari kita lihat masalahnya.”

maka percakapan dapat bergerak ke arah yang lebih konstruktif.

11. Budaya kerja dibangun dari percakapan kecil

Budaya perusahaan sering dibahas seolah-olah sesuatu yang besar dan abstrak.

Padahal, budaya organisasi sebenarnya terlihat dari perilaku sehari-hari.

Bagaimana seorang manajer merespons kesalahan.

Bagaimana rekan kerja berbicara satu sama lain.

Bagaimana seseorang diperlakukan ketika sedang kesulitan.

Bagaimana kontribusi dihargai.

Bagaimana ide baru diterima.

Bagaimana konflik diselesaikan.

Semua itu membentuk pengalaman kerja.

Karena itu, perubahan budaya tidak selalu harus dimulai dengan slogan besar.

Bisa dimulai dari percakapan kecil.

Seorang manajer berkata:

“Terima kasih sudah memberitahuku.”

Seorang pemimpin berkata:

“Saya menghargai usahamu.”

Seorang rekan kerja berkata:

“Terima kasih sudah membantu.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin tidak mengubah perusahaan dalam satu hari.

Tetapi ketika menjadi kebiasaan, ia dapat menjadi bagian dari norma sosial dalam sebuah tim.

12. Namun jangan gunakan apresiasi sebagai manipulasi

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Jangan mengucapkan kata-kata penghargaan hanya agar pekerja bekerja lebih keras.

Jika setiap “terima kasih” sebenarnya berarti:

“Sekarang saya berharap kamu melakukan lebih banyak lagi,”

lama-lama orang akan menyadarinya.

Penghargaan yang sehat tidak selalu memiliki tuntutan tersembunyi.

Kadang-kadang, terima kasih memang berarti:

terima kasih.

Bukan:

“Terima kasih, sekarang kerjakan tiga hal tambahan.”

Bukan:

“Terima kasih sudah lembur, minggu depan bisa lembur lagi?”

Bukan:

“Terima kasih sudah menyelesaikan pekerjaan orang lain.”

Jika penghargaan selalu diikuti eksploitasi, kata-kata tersebut akhirnya kehilangan kredibilitas.

13. Enam kata yang sebenarnya membawa pesan lebih besar

Jadi, ketika kamu mengatakan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

yang sebenarnya kamu komunikasikan adalah:

“Saya melihatmu.”

“Saya memperhatikan kontribusimu.”

“Apa yang kamu lakukan memiliki arti.”

“Saya menghargai usahamu.”

Itulah sebabnya kalimat sederhana dapat memiliki efek psikologis yang lebih besar daripada yang terlihat.

Namun jangan berhenti pada enam kata itu.

Jika kamu benar-benar ingin menciptakan tempat kerja di mana orang merasa dihargai dan diterima, gunakan apresiasi sebagai pintu masuk menuju kebiasaan yang lebih besar:

Dengarkan orang.

Berikan umpan balik yang jelas.

Akui kontribusi.

Perlakukan orang dengan adil.

Berikan ruang untuk berbicara.

Jangan mempermalukan orang ketika mereka melakukan kesalahan.

Dan yang paling penting, pastikan tindakanmu sejalan dengan kata-katamu.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mengingat apa yang dikatakan pemimpinnya.

Mereka juga mengingat bagaimana pemimpin tersebut membuat mereka merasa ketika bekerja bersamanya.

Mulailah Besok Pagi

Besok, ketika seorang pekerja melakukan sesuatu yang membantu, jangan hanya berpikir:

“Memang itu pekerjaannya.”

Berhenti sebentar.

Perhatikan.

Lalu katakan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Kemudian, jika memungkinkan, tambahkan alasan yang spesifik.

“Terima kasih sudah melakukan itu. Bantuanmu membuat pekerjaan tim jauh lebih mudah.”

Tidak membutuhkan biaya.

Tidak membutuhkan rapat.

Tidak membutuhkan program perusahaan.

Hanya membutuhkan perhatian.

Dan mungkin, bagi orang yang menerima kalimat tersebut, itu bisa menjadi pengingat sederhana bahwa pekerjaannya tidak tidak terlihat.

Bahwa usahanya diperhatikan.

Bahwa ia bukan sekadar jabatan dalam struktur organisasi.

Ia adalah manusia yang kontribusinya dihargai.

Dan terkadang, kepemimpinan yang baik memang dimulai dari sesuatu yang sesederhana mengucapkan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

(jpg)

PROKALTENG.CO-Ada satu hal yang sering dilupakan oleh seorang pemimpin. Pekerja tidak hanya datang ke kantor untuk mendapatkan gaji.

Mereka juga ingin merasa bahwa keberadaan mereka berarti.

Mereka ingin tahu bahwa usaha mereka dilihat. Mereka ingin merasa aman untuk berbicara. Mereka ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar angka dalam laporan produktivitas.

Electronic money exchangers listing

Dan menariknya, untuk membangun perasaan seperti itu, seorang pemimpin tidak selalu membutuhkan program besar, pelatihan mahal, atau bonus tambahan.

Terkadang, semuanya bisa dimulai dari beberapa kata sederhana yang diucapkan dengan tulus.

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), rnam kata sederhana ini mungkin terdengar biasa. Namun, ketika diucapkan secara spesifik, tulus, dan konsisten, kalimat seperti ini dapat membantu membangun budaya kerja yang membuat seseorang merasa kontribusinya diperhatikan.

Psikologi organisasi telah lama membahas pentingnya pengakuan, rasa memiliki, hubungan interpersonal yang positif, serta persepsi bahwa seseorang dihargai di tempat kerja.

Masalahnya, banyak pemimpin menganggap penghargaan harus selalu berbentuk sesuatu yang besar.

Padahal, bagi seorang pekerja, terkadang yang paling membekas justru adalah momen kecil ketika atasannya berhenti sejenak dan berkata:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Mengapa enam kata sederhana bisa begitu berarti?

Bayangkan seorang karyawan bekerja lembur untuk menyelesaikan masalah yang muncul secara tiba-tiba.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada penghargaan resmi.

Tidak ada bonus langsung.

Keesokan harinya, semua orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Kemudian atasannya datang dan berkata:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Sederhana.

Tetapi pesan yang diterima karyawan sebenarnya jauh lebih besar daripada enam kata tersebut.

Pesannya adalah:

“Saya melihat apa yang kamu lakukan.”

Dan perasaan dilihat sebagai manusia memiliki arti penting dalam hubungan kerja.

Manusia pada dasarnya membutuhkan pengakuan sosial. Kita ingin mengetahui bahwa kontribusi kita memiliki arti bagi kelompok tempat kita berada.

Karena itu, ketika seseorang merasa usahanya tidak pernah diperhatikan, motivasi dapat perlahan menurun.

Sebaliknya, ketika seseorang mendapatkan pengakuan yang tulus, ia dapat merasa bahwa pekerjaannya memiliki makna.

Bukan berarti setiap pujian otomatis meningkatkan produktivitas.

Dan bukan berarti seorang pemimpin harus memuji semua hal.

Justru sebaliknya.

Penghargaan yang efektif biasanya terasa spesifik dan autentik.

Bukan sekadar:

“Good job.”

Tetapi:

“Terima kasih sudah menyelesaikan masalah pelanggan tadi. Saya tahu situasinya cukup rumit.”

Perbedaannya kecil.

Dampaknya bisa jauh berbeda.

1. “Terima kasih” membuat kontribusi seseorang terlihat

Salah satu kesalahan yang sering terjadi di tempat kerja adalah menganggap pekerjaan yang dilakukan dengan baik sebagai sesuatu yang otomatis.

Karyawan menyelesaikan tugas.

Atasan menganggap itu memang kewajibannya.

Karyawan membantu rekan kerja.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Karyawan mengambil inisiatif.

Tetap dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan.

Lama-kelamaan, seseorang bisa bertanya dalam hati:

“Apakah ada yang benar-benar memperhatikan usaha saya?”

Di sinilah apresiasi sederhana menjadi penting.

Mengucapkan terima kasih tidak berarti seorang pemimpin sedang memberikan hadiah karena seseorang melakukan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabnya.

Apresiasi lebih merupakan pengakuan bahwa ada manusia di balik pekerjaan tersebut.

Misalnya:

“Terima kasih sudah membantu tim menyelesaikan laporan tadi.”

Atau:

“Terima kasih sudah menjelaskan masalah itu dengan sabar kepada pelanggan.”

Atau bahkan:

“Terima kasih sudah mengambil inisiatif ketika melihat ada masalah.”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pemimpin tidak hanya melihat hasil akhir.

Ia juga melihat perilaku dan usaha yang menghasilkan hasil tersebut.

2. Orang ingin merasa kontribusinya memiliki arti

Bayangkan dua lingkungan kerja.

Di tempat pertama, seseorang bekerja keras selama berbulan-bulan. Ia menyelesaikan tugas tepat waktu, membantu rekan kerja, dan berusaha menyelesaikan masalah.

Tetapi hampir tidak pernah mendapatkan umpan balik.

Di tempat kedua, pekerja juga menghadapi tuntutan yang sama.

Namun ketika melakukan sesuatu yang memberikan dampak positif, pemimpinnya sesekali mengatakan:

“Terima kasih. Bantuanmu membuat pekerjaan tim jauh lebih mudah.”

Kedua orang tersebut mungkin memiliki gaji yang sama.

Beban kerja mereka mungkin hampir sama.

Namun pengalaman psikologis mereka dapat berbeda.

Yang satu mungkin merasa dirinya hanya menjalankan mesin organisasi.

Yang lain mungkin merasa bahwa keberadaannya diperhatikan.

Dalam psikologi organisasi, konsep seperti perceived organizational support membahas bagaimana pekerja memandang apakah organisasi menghargai kontribusi dan memperhatikan kesejahteraan mereka.

Artinya, perhatian kecil dari seorang pemimpin dapat menjadi salah satu bagian dari pengalaman yang lebih luas tentang apakah seseorang merasa dihargai oleh tempat kerjanya.

3. Enam kata tersebut bukan mantra

Tetapi ada satu hal penting.

Jangan salah memahami gagasan ini.

Mengucapkan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

sebanyak sepuluh kali sehari tidak otomatis membuat tempat kerja menjadi sehat.

Jika seorang pemimpin mengatakan terima kasih tetapi mempermalukan karyawan di depan umum, mengabaikan keluhan mereka, memberikan beban kerja yang tidak masuk akal, atau memperlakukan orang secara tidak adil, enam kata tersebut akan kehilangan maknanya.

Baca Juga :  Tujuh Tanda Luka Batin Masa Kecil yang Masih Membayangi Hingga Kini

Karena itu, apresiasi tidak boleh menjadi pengganti kepemimpinan yang baik.

Ia harus menjadi bagian dari kepemimpinan yang baik.

Kata-kata harus didukung oleh perilaku.

Jika mengatakan:

“Saya menghargai pendapatmu,”

maka berikan ruang bagi orang tersebut untuk menyampaikan pendapat.

Jika mengatakan:

“Terima kasih atas kerja kerasmu,”

maka jangan terus-menerus memberikan pekerjaan tambahan tanpa mempertimbangkan kapasitasnya.

Jika mengatakan:

“Kamu bagian penting dari tim ini,”

maka perlakukan ia sebagai bagian penting dari tim.

Konsistensi antara kata dan tindakan jauh lebih penting daripada kata-kata itu sendiri.

4. Jangan hanya mengatakan “terima kasih” ketika seseorang melakukan pekerjaan luar biasa

Ini juga menarik.

Banyak pemimpin hanya memberikan penghargaan ketika seseorang melakukan sesuatu yang spektakuler.

Padahal, kehidupan organisasi sebagian besar dibangun oleh tindakan-tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

Datang tepat waktu.

Membantu rekan kerja.

Menjawab pertanyaan pelanggan.

Menyelesaikan laporan.

Mengecek kembali pekerjaan.

Memberikan informasi kepada anggota tim lain.

Menjaga kualitas.

Menyelesaikan masalah kecil sebelum menjadi masalah besar.

Semua itu mungkin terlihat biasa.

Tetapi organisasi yang sehat dibangun dari ribuan tindakan kecil seperti itu.

Karena itu, seorang pemimpin dapat mengatakan:

“Terima kasih sudah memastikan data ini diperiksa ulang.”

“Terima kasih sudah membantu anggota tim baru.”

“Terima kasih sudah memberi tahu saya tentang masalah itu lebih awal.”

“Terima kasih sudah menyelesaikan pekerjaan ini meskipun situasinya cukup sulit.”

Pujian seperti ini lebih bermakna karena menunjukkan bahwa pemimpin benar-benar memperhatikan.

5. Penghargaan yang spesifik lebih kuat daripada pujian yang terlalu umum

Bandingkan dua kalimat berikut.

“Kamu hebat.”

dengan:

“Terima kasih sudah menjelaskan masalah itu kepada klien dengan begitu tenang.”

Kalimat kedua memberikan informasi yang lebih jelas.

Orang tersebut tahu perilaku apa yang dihargai.

Ini penting karena pujian yang spesifik membantu seseorang memahami kontribusi yang dianggap bernilai.

Jadi, jika kamu seorang pemimpin, jangan hanya mengatakan:

“Bagus.”

Cobalah mengatakan:

“Bagus karena kamu menemukan cara yang lebih sederhana untuk menyelesaikan masalah ini.”

Atau:

“Saya menghargai caramu tetap tenang ketika pelanggan tadi marah.”

Atau:

“Terima kasih sudah membantu tim meskipun itu sebenarnya bukan tanggung jawab utamamu.”

Semakin konkret apresiasinya, semakin kecil kemungkinan kalimat tersebut terdengar seperti formalitas.

6. Jangan hanya menghargai hasil. Hargai juga prosesnya

Ada pekerja yang bekerja sangat keras tetapi hasil akhirnya belum sempurna.

Jika pemimpin hanya menghargai hasil, orang bisa belajar bahwa usaha tidak penting.

Yang penting hanyalah apakah hasil akhirnya sempurna atau tidak.

Padahal, dalam banyak pekerjaan, pembelajaran justru terjadi melalui proses.

Seorang karyawan mungkin mencoba pendekatan baru.

Mungkin belum berhasil.

Namun ia menemukan sesuatu yang penting.

Seorang pemimpin dapat berkata:

“Terima kasih sudah mencoba pendekatan baru. Mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari dari hasilnya.”

Kalimat seperti itu dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman untuk belajar.

Tentu saja, ini bukan berarti kesalahan tidak perlu dikoreksi.

Kesalahan tetap harus dievaluasi.

Tetapi koreksi tidak harus disampaikan dengan cara yang membuat seseorang merasa dirinya tidak berharga.

Ada perbedaan antara mengatakan:

“Ini salah. Kamu seharusnya tahu.”

dan:

“Ada bagian yang perlu kita perbaiki. Terima kasih sudah mengerjakannya; mari kita lihat bagaimana kita bisa membuatnya lebih baik.”

Pesan keduanya sangat berbeda.

7. Ucapkan terima kasih secara pribadi ketika situasinya membutuhkan

Tidak semua orang nyaman menerima pujian di depan banyak orang.

Ada pekerja yang justru merasa canggung ketika dipuji di depan seluruh tim.

Karena itu, kenali konteks.

Kadang-kadang, pesan singkat secara pribadi justru lebih bermakna.

Misalnya:

“Sebentar, saya ingin mengucapkan terima kasih. Saya melihat kamu membantu tim tadi. Itu sangat membantu.”

Tidak perlu panjang.

Tidak perlu dramatis.

Tidak perlu membuat pidato.

Cukup menunjukkan bahwa kamu melihat kontribusinya.

8. Jangan hanya mengatakan kepada orang yang paling dekat denganmu

Ada jebakan lain dalam budaya kerja.

Pemimpin secara tidak sadar bisa lebih sering memberikan apresiasi kepada orang yang paling sering berinteraksi dengannya.

Akibatnya, anggota tim yang lebih pendiam atau bekerja di belakang layar mungkin jarang mendapatkan pengakuan.

Padahal, mereka bisa saja memiliki kontribusi yang sangat penting.

Karena itu, perhatikan juga orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu terlihat.

Orang yang mengatur data.

Orang yang memastikan dokumen benar.

Orang yang menyelesaikan masalah teknis.

Orang yang menjawab pertanyaan rekan kerja.

Orang yang memastikan proses berjalan.

Sering kali, pekerjaan seperti itu baru terlihat ketika tidak dilakukan.

Baca Juga :  6 Perilaku Individu yang Sulit Memaafkan Orang Lain, Salah Satunya Menyimpan Dendam

Seorang pemimpin yang baik belajar memperhatikan kontribusi yang tidak selalu mendapatkan sorotan.

9. Enam kata tersebut harus terasa manusiawi

Jangan mengatakannya seperti robot.

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Lalu langsung berjalan pergi sambil melihat ponsel.

Pesannya bisa kehilangan makna.

Ketika mengucapkan terima kasih, berhentilah sejenak.

Lakukan kontak mata jika sesuai dengan budaya dan situasi.

Sebutkan apa yang kamu hargai.

Dan, jika memungkinkan, jelaskan dampaknya.

Misalnya:

“Terima kasih sudah membantu menyelesaikan masalah pelanggan tadi. Saya tahu itu tidak mudah. Bantuanmu membuat tim bisa kembali fokus.”

Itu jauh lebih kuat daripada sekadar:

“Thanks.”

Karena orang tersebut memahami apa yang dilihat, mengapa dihargai, dan apa dampaknya.

10. Pemimpin tidak harus selalu punya jawaban

Ada satu bentuk penghargaan lain yang sering dilupakan.

Mendengarkan.

Ketika seorang pekerja datang dengan masalah, jangan selalu buru-buru memberikan solusi.

Kadang-kadang mereka ingin didengar terlebih dahulu.

Kamu bisa berkata:

“Terima kasih sudah memberitahu saya.”

Kalimat sederhana ini bisa sangat penting.

Terutama ketika seseorang memberitahukan masalah yang tidak nyaman.

Misalnya:

“Saya kesulitan memenuhi target ini.”

“Saya merasa beban kerja saya sudah terlalu banyak.”

“Ada masalah dengan proses ini.”

“Saya tidak yakin keputusan ini akan berhasil.”

Respons pertama seorang pemimpin dapat menentukan apakah orang tersebut akan merasa aman untuk berbicara lagi di masa depan.

Jika responsnya adalah kemarahan atau penghukuman, orang mungkin belajar untuk diam.

Jika respons awalnya adalah:

“Terima kasih sudah memberitahu saya. Mari kita lihat masalahnya.”

maka percakapan dapat bergerak ke arah yang lebih konstruktif.

11. Budaya kerja dibangun dari percakapan kecil

Budaya perusahaan sering dibahas seolah-olah sesuatu yang besar dan abstrak.

Padahal, budaya organisasi sebenarnya terlihat dari perilaku sehari-hari.

Bagaimana seorang manajer merespons kesalahan.

Bagaimana rekan kerja berbicara satu sama lain.

Bagaimana seseorang diperlakukan ketika sedang kesulitan.

Bagaimana kontribusi dihargai.

Bagaimana ide baru diterima.

Bagaimana konflik diselesaikan.

Semua itu membentuk pengalaman kerja.

Karena itu, perubahan budaya tidak selalu harus dimulai dengan slogan besar.

Bisa dimulai dari percakapan kecil.

Seorang manajer berkata:

“Terima kasih sudah memberitahuku.”

Seorang pemimpin berkata:

“Saya menghargai usahamu.”

Seorang rekan kerja berkata:

“Terima kasih sudah membantu.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin tidak mengubah perusahaan dalam satu hari.

Tetapi ketika menjadi kebiasaan, ia dapat menjadi bagian dari norma sosial dalam sebuah tim.

12. Namun jangan gunakan apresiasi sebagai manipulasi

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Jangan mengucapkan kata-kata penghargaan hanya agar pekerja bekerja lebih keras.

Jika setiap “terima kasih” sebenarnya berarti:

“Sekarang saya berharap kamu melakukan lebih banyak lagi,”

lama-lama orang akan menyadarinya.

Penghargaan yang sehat tidak selalu memiliki tuntutan tersembunyi.

Kadang-kadang, terima kasih memang berarti:

terima kasih.

Bukan:

“Terima kasih, sekarang kerjakan tiga hal tambahan.”

Bukan:

“Terima kasih sudah lembur, minggu depan bisa lembur lagi?”

Bukan:

“Terima kasih sudah menyelesaikan pekerjaan orang lain.”

Jika penghargaan selalu diikuti eksploitasi, kata-kata tersebut akhirnya kehilangan kredibilitas.

13. Enam kata yang sebenarnya membawa pesan lebih besar

Jadi, ketika kamu mengatakan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

yang sebenarnya kamu komunikasikan adalah:

“Saya melihatmu.”

“Saya memperhatikan kontribusimu.”

“Apa yang kamu lakukan memiliki arti.”

“Saya menghargai usahamu.”

Itulah sebabnya kalimat sederhana dapat memiliki efek psikologis yang lebih besar daripada yang terlihat.

Namun jangan berhenti pada enam kata itu.

Jika kamu benar-benar ingin menciptakan tempat kerja di mana orang merasa dihargai dan diterima, gunakan apresiasi sebagai pintu masuk menuju kebiasaan yang lebih besar:

Dengarkan orang.

Berikan umpan balik yang jelas.

Akui kontribusi.

Perlakukan orang dengan adil.

Berikan ruang untuk berbicara.

Jangan mempermalukan orang ketika mereka melakukan kesalahan.

Dan yang paling penting, pastikan tindakanmu sejalan dengan kata-katamu.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mengingat apa yang dikatakan pemimpinnya.

Mereka juga mengingat bagaimana pemimpin tersebut membuat mereka merasa ketika bekerja bersamanya.

Mulailah Besok Pagi

Besok, ketika seorang pekerja melakukan sesuatu yang membantu, jangan hanya berpikir:

“Memang itu pekerjaannya.”

Berhenti sebentar.

Perhatikan.

Lalu katakan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

Kemudian, jika memungkinkan, tambahkan alasan yang spesifik.

“Terima kasih sudah melakukan itu. Bantuanmu membuat pekerjaan tim jauh lebih mudah.”

Tidak membutuhkan biaya.

Tidak membutuhkan rapat.

Tidak membutuhkan program perusahaan.

Hanya membutuhkan perhatian.

Dan mungkin, bagi orang yang menerima kalimat tersebut, itu bisa menjadi pengingat sederhana bahwa pekerjaannya tidak tidak terlihat.

Bahwa usahanya diperhatikan.

Bahwa ia bukan sekadar jabatan dalam struktur organisasi.

Ia adalah manusia yang kontribusinya dihargai.

Dan terkadang, kepemimpinan yang baik memang dimulai dari sesuatu yang sesederhana mengucapkan:

“Terima kasih sudah melakukan itu.”

(jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru