Mencari pasangan hidup merupakan salah satu kebutuhan emosional yang dimiliki banyak orang. Namun, perjalanan menemukan pasangan tidak selalu mudah.
Tekanan sosial, pengalaman ditolak, hingga rasa takut tidak dicintai terkadang membuat sebagian perempuan lajang melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan dirinya sendiri, yaitu berpura-pura menjadi orang lain.
Mereka mungkin menyembunyikan sifat asli, mengubah kepribadian, berpura-pura menyukai hobi tertentu, bahkan menciptakan citra yang jauh berbeda dari kehidupan nyata.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (1/8), dalam psikologi, perilaku-perilaku ini bukan semata-mata bentuk kebohongan, melainkan sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri yang muncul akibat kebutuhan untuk diterima dan dicintai.
Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut penjelasan psikologis mengenai tujuh alasan yang paling umum.
- Takut Ditolak (Fear of Rejection)
Salah satu alasan terbesar seseorang berpura-pura menjadi orang lain adalah rasa takut ditolak. Psikologi menjelaskan bahwa penolakan dapat menimbulkan rasa sakit emosional yang cukup mendalam karena otak memproses penolakan sosial hampir seperti rasa sakit fisik.
Perempuan yang pernah mengalami penolakan dalam hubungan sebelumnya mungkin berpikir bahwa dirinya yang asli tidak cukup menarik. Akibatnya, ia mulai membentuk versi dirinya yang dianggap lebih disukai orang lain.
Contohnya, seseorang yang sebenarnya pendiam mulai bersikap sangat ceria hanya karena menganggap laki-laki lebih menyukai perempuan yang ekstrover.
Dalam jangka pendek cara ini mungkin berhasil menarik perhatian. Namun, hubungan yang dibangun di atas kepura-puraan akan sulit dipertahankan karena identitas asli pada akhirnya akan muncul.
- Memiliki Harga Diri yang Rendah
Harga diri atau self-esteem berperan besar dalam cara seseorang memandang dirinya sendiri. Individu dengan harga diri rendah sering kali merasa bahwa dirinya kurang menarik, kurang pintar, kurang cantik, atau tidak cukup layak dicintai.
Perasaan tersebut membuat mereka percaya bahwa menjadi diri sendiri bukanlah pilihan yang aman.
Akibatnya, mereka mulai meniru karakter orang lain yang dianggap lebih sukses dalam percintaan. Mereka bisa mengubah cara berbicara, cara berpakaian, gaya hidup, bahkan pendapat pribadi agar terlihat lebih ideal.
Padahal, hubungan yang sehat justru dibangun ketika kedua belah pihak dapat menerima satu sama lain apa adanya.
- Tekanan Sosial dan Budaya
Di banyak lingkungan, perempuan lajang sering mendapat pertanyaan seperti:
“Kapan menikah?”
“Sudah punya pacar belum?”
“Jangan terlalu pilih-pilih.”
Tekanan sosial semacam ini dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Ia merasa harus segera memiliki pasangan agar dianggap berhasil atau tidak tertinggal dibanding teman-temannya.
Dalam situasi tersebut, sebagian perempuan mulai mengorbankan keaslian dirinya demi meningkatkan peluang mendapatkan pasangan.
Mereka berusaha tampil sesuai standar yang dianggap ideal oleh masyarakat meskipun sebenarnya tidak nyaman menjalankannya.
- Ingin Disukai Semua Orang (People Pleasing)
Psikologi mengenal istilah people pleasing, yaitu kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain meskipun harus mengabaikan kebutuhan pribadi.
Perempuan dengan kecenderungan ini biasanya sangat sulit mengatakan “tidak”. Mereka akan berusaha menyesuaikan diri dengan calon pasangan dalam hampir semua hal.
Misalnya:
Mengaku menyukai olahraga ekstrem padahal sebenarnya takut.
Berpura-pura menyukai musik tertentu.
Selalu menyetujui pendapat pasangan meskipun sebenarnya berbeda.
Pada awal hubungan perilaku ini terlihat sebagai bentuk perhatian. Namun lama-kelamaan, mereka bisa kehilangan identitas karena terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain.
- Pengalaman Trauma dari Hubungan Sebelumnya
Hubungan yang penuh kritik, manipulasi, atau perselingkuhan dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam.
Seseorang mungkin pernah mendengar kalimat seperti:
“Kamu terlalu sensitif.”
“Kalau kamu lebih cantik, aku pasti bertahan.”
“Seandainya kamu lebih seperti perempuan lain.”
Kalimat-kalimat tersebut dapat membentuk keyakinan negatif bahwa dirinya memang tidak cukup baik.
Ketika memasuki hubungan baru, ia kemudian mencoba menjadi sosok yang berbeda agar pengalaman buruk itu tidak terulang.
Padahal, yang sebenarnya perlu disembuhkan bukanlah kepribadiannya, melainkan luka emosional yang belum selesai.
- Terpengaruh Media Sosial
Media sosial sering menampilkan gambaran hubungan yang tampak sempurna.
Influencer, selebritas, maupun konten romantis membuat banyak orang tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain.
Perempuan lajang kemudian merasa bahwa agar dicintai, mereka harus:
Selalu tampil sempurna.
Memiliki tubuh tertentu.
Menyukai gaya hidup tertentu.
Memiliki kepribadian yang dianggap menarik.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.
Semakin sering seseorang membandingkan dirinya, semakin besar kemungkinan ia merasa kurang dan akhirnya membangun identitas palsu demi memenuhi standar yang dianggap ideal.
- Memiliki Gaya Kelekatan (Attachment Style) yang Cemas
Teori attachment menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan saat dewasa.
Perempuan dengan gaya kelekatan cemas (anxious attachment) biasanya memiliki ketakutan besar akan ditinggalkan.
Mereka sering berpikir:
“Kalau aku menjadi diriku sendiri, dia pasti pergi.”
“Aku harus selalu membuatnya senang.”
“Aku tidak boleh mengecewakannya.”
Karena rasa takut kehilangan sangat besar, mereka rela mengubah kepribadian demi mempertahankan hubungan.
Sayangnya, cara ini justru meningkatkan stres emosional karena mereka terus-menerus berusaha menjadi sosok yang bukan dirinya.
Dampak Psikologis Menjadi Orang Lain dalam Hubungan
Berpura-pura mungkin terlihat efektif pada awal perkenalan, tetapi dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:
Kelelahan emosional karena harus terus menjaga citra.
Kehilangan jati diri.
Sulit membangun kepercayaan dengan pasangan.
Meningkatnya kecemasan.
Menurunnya kepuasan dalam hubungan.
Munculnya konflik ketika karakter asli mulai terlihat.
Hubungan yang sehat membutuhkan kejujuran dan penerimaan, bukan kepura-puraan.
Cara Membangun Hubungan yang Lebih Sehat
Psikologi menyarankan beberapa langkah agar seseorang tidak merasa perlu menjadi orang lain demi mendapatkan pasangan.
Pertama, tingkatkan penerimaan terhadap diri sendiri. Mengenali kelebihan dan kekurangan membantu seseorang merasa lebih nyaman dengan identitasnya.
Kedua, bangun harga diri melalui pencapaian pribadi, hubungan sosial yang sehat, dan kebiasaan menghargai diri sendiri.
Ketiga, hindari terlalu sering membandingkan kehidupan dengan apa yang terlihat di media sosial karena yang ditampilkan umumnya hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang.
Keempat, berani menunjukkan kepribadian asli sejak awal. Meskipun mungkin tidak disukai oleh semua orang, cara ini membantu menemukan pasangan yang benar-benar menerima diri apa adanya.
Terakhir, apabila pengalaman masa lalu masih menimbulkan luka emosional yang mendalam, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah yang bermanfaat untuk memahami pola hubungan dan membangun relasi yang lebih sehat.
Kesimpulan
Keputusan sebagian perempuan lajang untuk menjadi “orang lain” saat mencari pasangan umumnya bukan karena ingin menipu, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis seperti rasa takut ditolak, harga diri yang rendah, tekanan sosial, kecenderungan menyenangkan orang lain, trauma masa lalu, pengaruh media sosial, hingga gaya kelekatan yang cemas.
Meskipun strategi tersebut mungkin membantu menarik perhatian pada awalnya, hubungan yang dibangun di atas identitas palsu cenderung sulit bertahan.
Pada akhirnya, hubungan yang paling sehat adalah hubungan yang memungkinkan kedua individu menjadi diri sendiri, saling menerima kekurangan, dan membangun kepercayaan berdasarkan kejujuran.
Dengan demikian, peluang terciptanya hubungan yang autentik, memuaskan, dan bertahan dalam jangka panjang akan jauh lebih besar.(jpc)


