24.5 C
Palangkaraya
Monday, June 5, 2023

18 Laga Tanpa Kalah

Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kehebatan
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Sudah sangat senior (Hendra bahkan baru
berulang tahun ke-35), mematahkan segala obstacle untuk menjadi juara dunia.
Dalam final di St Jakobshalle, Basel, mereka mengalahkan pasangan Jepang Takuro
Hoki/Yugo Kobayashi 25-23, 9-21, 21-15.

”Kami nggak nyangka bisa melaju sejauh ini tahun
ini,” ungkap Ahsan, ketika diwawancarai di court.             Ketika ditanya apa yang spesial dari gelar tahun ini,
Hendra menjawab cepat, ”Ya, kita bisa juara di usia yang tidak muda lagi. Itu
yang paling spesial!”

Keduanya tentu sedang merendah. Datang sebagai
pasangan nomor dua dunia, tidak ada yang meragukan bahwa mereka bisa mencuri
gelar. Satu-satunya hal yang mengganjal adalah drawing yang menempatkan mereka
di pul yang sama dengan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Tidak
mungkin all-Indonesian final.

Namun, ternyata Marcus/Kevin sudah tumbang di babak
kedua. The Daddies—sebutan Ahsan/Hendra—pun melaju dengan mulus. Mereka
mengalahkan hampir semua lawan dengan straight game. Hanya Fajar Alfian/M. Rian
Ardianto yang memaksa bapak-bapak itu bermain rubber game di semifinal.   

Baca Juga :  Resmi! Ini Motor Baru Tunggangan Rossi dan Franco

Ini adalah gelar juara dunia ketiga bagi mantan
pasangan nomor satu dunia tersebut. Sebelumnya, mereka pernah merebutnya pada
2013 dan 2015. Khusus buat Hendra, ini gelar keempat. Sebab, dia sudah pernah
juara bersama Markis Kido pada 2007. Dalam sejarah bulu tangkis, tidak ada
pemain putra lain yang sanggup mengulang prestasi dalam rentang 12 tahun!  

Tiga kali terjun ke kejuaraan dunia sebagai pasangan,
Ahsan dan Hendra sudah menjalani 18 kali pertandingan. Hebatnya, mereka tidak
pernah kalah! Memang betul, mereka seolah gagal di edisi 2014. Karena kandas di
32 besar alias babak kedua. Namun, saat itu mereka memang mengundurkan diri
karena ada masalah. Jadi, secara teknis mereka tidak kalah.

Kedua bapak sangat tenang menyongsong pertandingan.
Mereka memasuki court dengan wajah santai. Mereka juga tenang ketika
Hoki/Kobayashi sangat merepotkan di game pertama. Game kedua, karena kalah
start, mereka langsung tertinggal jauh. Karena itu, di game penentuan, mereka
langsung mengambil inisiatif serangan. Hasilnya langsung terlihat. Ahsan/Hendra
leading hingga interval, lalu melaju jauh hingga sempat 18-12.

Baca Juga :  Bisa Mengunci Gelar Juara Dunia

Menghadapi Hoki/Kobayashi yang belakangan merepotkan
pasangan-pasangan top dunia (termasuk juara bertahan Li Junhui/Liu Yuchen yang
dikalahkan di semifinal), The Daddies mengaku tidak menyiapkan apa-apa. ”Lha
sudah final, mau siapkan apa lagi. Kami lebih siap saja. Lebih fokus. Lebih
menyiapkan mental saja,” ucap Ahsan dalam wawancara mixed zone yang ceria itu.

Tahun ini, pasangan tersebut sudah merebut setidaknya
dua gelar bergengsi. Yakni All England dan kejuaraan dunia. Hal itu membuat
mereka makin optimistis melaju ke Olimpiade 2020 Tokyo. ”Memang itu tujuan
kita waktu memutuskan untuk berpasangan kembali,” ucap Ahsan.

Hendra resmi mengantongi total empat gelar juara dunia
ganda putra. Ketiga gelar juara dunia Ahsan memang diraih bersama Hendra. Secara
keseluruhan, gelar dari Ahsan/Hendra tersebut jadi raihan ke-23 Indonesia di
ajang yang berlangsung mulai 1977 itu. Hanya kalah oleh Tiongkok yang telah
mengoleksi 66 gelar. (feb/na/ram)

Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kehebatan
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Sudah sangat senior (Hendra bahkan baru
berulang tahun ke-35), mematahkan segala obstacle untuk menjadi juara dunia.
Dalam final di St Jakobshalle, Basel, mereka mengalahkan pasangan Jepang Takuro
Hoki/Yugo Kobayashi 25-23, 9-21, 21-15.

”Kami nggak nyangka bisa melaju sejauh ini tahun
ini,” ungkap Ahsan, ketika diwawancarai di court.             Ketika ditanya apa yang spesial dari gelar tahun ini,
Hendra menjawab cepat, ”Ya, kita bisa juara di usia yang tidak muda lagi. Itu
yang paling spesial!”

Keduanya tentu sedang merendah. Datang sebagai
pasangan nomor dua dunia, tidak ada yang meragukan bahwa mereka bisa mencuri
gelar. Satu-satunya hal yang mengganjal adalah drawing yang menempatkan mereka
di pul yang sama dengan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Tidak
mungkin all-Indonesian final.

Namun, ternyata Marcus/Kevin sudah tumbang di babak
kedua. The Daddies—sebutan Ahsan/Hendra—pun melaju dengan mulus. Mereka
mengalahkan hampir semua lawan dengan straight game. Hanya Fajar Alfian/M. Rian
Ardianto yang memaksa bapak-bapak itu bermain rubber game di semifinal.   

Baca Juga :  Persijap Juara Liga 3 2019

Ini adalah gelar juara dunia ketiga bagi mantan
pasangan nomor satu dunia tersebut. Sebelumnya, mereka pernah merebutnya pada
2013 dan 2015. Khusus buat Hendra, ini gelar keempat. Sebab, dia sudah pernah
juara bersama Markis Kido pada 2007. Dalam sejarah bulu tangkis, tidak ada
pemain putra lain yang sanggup mengulang prestasi dalam rentang 12 tahun!  

Tiga kali terjun ke kejuaraan dunia sebagai pasangan,
Ahsan dan Hendra sudah menjalani 18 kali pertandingan. Hebatnya, mereka tidak
pernah kalah! Memang betul, mereka seolah gagal di edisi 2014. Karena kandas di
32 besar alias babak kedua. Namun, saat itu mereka memang mengundurkan diri
karena ada masalah. Jadi, secara teknis mereka tidak kalah.

Kedua bapak sangat tenang menyongsong pertandingan.
Mereka memasuki court dengan wajah santai. Mereka juga tenang ketika
Hoki/Kobayashi sangat merepotkan di game pertama. Game kedua, karena kalah
start, mereka langsung tertinggal jauh. Karena itu, di game penentuan, mereka
langsung mengambil inisiatif serangan. Hasilnya langsung terlihat. Ahsan/Hendra
leading hingga interval, lalu melaju jauh hingga sempat 18-12.

Baca Juga :  Mayoritas Klub Liga 1 dan Liga 2 Meminta Kompetisi Dihentikan

Menghadapi Hoki/Kobayashi yang belakangan merepotkan
pasangan-pasangan top dunia (termasuk juara bertahan Li Junhui/Liu Yuchen yang
dikalahkan di semifinal), The Daddies mengaku tidak menyiapkan apa-apa. ”Lha
sudah final, mau siapkan apa lagi. Kami lebih siap saja. Lebih fokus. Lebih
menyiapkan mental saja,” ucap Ahsan dalam wawancara mixed zone yang ceria itu.

Tahun ini, pasangan tersebut sudah merebut setidaknya
dua gelar bergengsi. Yakni All England dan kejuaraan dunia. Hal itu membuat
mereka makin optimistis melaju ke Olimpiade 2020 Tokyo. ”Memang itu tujuan
kita waktu memutuskan untuk berpasangan kembali,” ucap Ahsan.

Hendra resmi mengantongi total empat gelar juara dunia
ganda putra. Ketiga gelar juara dunia Ahsan memang diraih bersama Hendra. Secara
keseluruhan, gelar dari Ahsan/Hendra tersebut jadi raihan ke-23 Indonesia di
ajang yang berlangsung mulai 1977 itu. Hanya kalah oleh Tiongkok yang telah
mengoleksi 66 gelar. (feb/na/ram)

Most Read

Artikel Terbaru