Final Liga Champions antara Arsenal dan Paris Saint-Germain dipastikan menghadirkan duel dua filosofi sepak bola yang sangat berbeda. PSG dengan permainan menyerang penuh kreativitas ala Luis Enrique, sementara Arsenal datang dengan pendekatan disiplin dan penuh perhitungan khas Mikel Arteta.
Musim ini, pendekatan Mikel Arteta terbukti sukses besar. The Gunners akhirnya mengakhiri penantian 22 tahun untuk kembali menjadi juara Liga Inggris, sekaligus tampil konsisten di Eropa dengan rekor pertahanan yang impresif.
Arsenal hanya kebobolan enam gol dalam 14 pertandingan Liga Champions musim ini dan belum tersentuh kekalahan sepanjang perjalanan menuju final di Budapest. Bahkan Luis Enrique sampai menyebut Arsenal sebagai tim terbaik di dunia, tanpa menguasai bola.
Formasi Andalan Arsenal: 4-2-3-1
Melansir Talksport, Arteta diprediksi tetap menggunakan formasi 4-2-3-1 yang sudah menjadi fondasi utama permainan Arsenal musim ini. Keseimbangan menjadi kunci. Arsenal bukan tipe tim yang akan bermain terbuka melawan PSG.
Mereka kemungkinan lebih fokus menjaga struktur permainan, meminimalkan ruang, lalu menyerang dengan cepat saat transisi terbuka.
Mantan gelandang Arsenal Adrian Clarke menilai Declan Rice harus bermain lebih dalam demi menjaga stabilitas lini tengah.
”Declan Rice benar-benar harus bermain lebih ke belakang, seperti yang dia lakukan saat melawan Atletico Madrid. Jika ada yang akan maju ke depan, itu pasti Myles Lewis-Skelly. Kita butuh Declan di sana untuk melakukan tugas defensif murni,” ujar Adrian Clarke.
Rice diperkirakan bakal menjadi pemain paling sibuk di laga final nanti. Selain memutus serangan PSG, ia juga harus menjaga ritme permainan Arsenal ketika berada di bawah tekanan.
Prediksi Lini Belakang Arsenal
Posisi kiper David Raya tidak tergantikan. Dengan 26 clean sheet musim ini, Raya menjadi salah satu alasan utama Arsenal tampil begitu solid.
Bek kanan Cristhian Mosquera diprediksi mendapat kesempatan starter. Itu karena cedera yang dialami Ben White dan Jurrien Timber.
Perry Groves bahkan memuji kemampuan bertahannya dalam duel satu lawan satu. ”Dia sangat bagus dalam mengacaukan lawan dalam situasi satu lawan satu,” terang dia.
Bek tengah William Saliba tetap menjadi pilar utama pertahanan Arsenal yang tampil luar biasa sepanjang musim. Saliba akan didampingi bek Tengah Gabriel Magalhaes, sebagai kombinasi fondasi kokohnya lini belakang The Gunners.
Bek kiri ditempati Riccardo Calafiori. Posisi ini masih menjadi perdebatan, tetapi Calafiori dinilai menawarkan progresi bola yang lebih baik untuk membantu Arsenal keluar dari tekanan PSG. Groves percaya Arteta akan memilih pendekatan lebih progresif. ”Dia akan berpikir, mari kita dominasi lini tengah dan Calafiori lebih baik dalam mengontrol bola untuk membawanya ke depan,” tutur dia.
Duel Lini Tengah Akan Jadi Penentu
Panel Inside Gooners sepakat bahwa laga ini kemungkinan besar ditentukan oleh pertarungan lini tengah. Selain Rice, nama Myles Lewis-Skelly disebut layak menjadi starter karena keberaniannya membawa bola ke depan.
Dia dalam performa yang bagus, cukup percaya diri untuk melakukan umpan-umpan ke depan dengan kemampuan atletiknya.
Meski Martin Zubimendi juga dianggap opsi aman, Arsenal diyakini membutuhkan gelandang yang lebih agresif dalam progresi bola ketika menghadapi pressing PSG.
Kai Havertz Lebih Cocok Jadi Starter
Perdebatan terbesar justru muncul di lini depan. Viktor Gyokeres memang tampil produktif dengan torehan 21 gol musim ini, tetapi Kai Havertz dinilai lebih cocok untuk pertandingan sebesar final Liga Champions.
Havertz dianggap memberi kontrol permainan yang lebih baik, terutama saat Arsenal harus menahan tekanan dan menjaga penguasaan bola. Groves menjelaskan alasan utamanya.
”Saya pikir Kai Havertz akan menjadi starter karena dia memberi Anda sedikit lebih banyak kendali ketika Anda perlu menahan bola. Gyokeres bisa menimbulkan kekacauan besar dalam 20 menit terakhir ketika permainan mulai terbuka, tetapi saya pikir Arteta akan memulai pertandingan dengan Havertz,” ungkapnya.
Arsenal Diprediksi Bermain Lebih Pragmatik
Meski memiliki banyak pemain kreatif, Arsenal kemungkinan tidak akan bermain terlalu terbuka melawan PSG. Arteta tampaknya lebih memilih pendekatan pragmatis: rapat saat bertahan, disiplin menjaga ruang, lalu memanfaatkan momen transisi.
PSG memang lebih eksplosif dalam menyerang, tetapi Arsenal punya organisasi permainan yang jauh lebih stabil. Karena itulah, keputusan memainkan Kai Havertz sejak awal dinilai masuk akal.
Dalam pertandingan yang kemungkinan berjalan ketat dan penuh duel fisik, kemampuan Havertz menjaga bola dan membuka ruang bisa menjadi pembeda besar bagi The Gunners.(jpc)


