Persebaya Surabaya menyiapkan Super League 2026/2027 dengan pengelolaan finansial dan budgeting yang ketat agar seluruh kebutuhan tim tetap terkendali.
Model ini membuat Green Force tidak sekadar mengejar prestasi di lapangan, tetapi juga membangun klub yang sehat secara finansial, mandiri, dan mampu bertahan dalam kompetisi tanpa mengandalkan dana pribadi pemilik.
Mengapa budgeting Persebaya Surabaya disebut rasional?
Pengelolaan anggaran menjadi salah satu fondasi Persebaya Surabaya dalam membangun tim untuk menghadapi kompetisi musim 2026/2027.
Pengamat sepak bola nasional Rendra Soedjono menilai klub asal Surabaya itu menerapkan perhitungan yang sistematik terhadap berbagai kebutuhan selama menjalani kompetisi.
Menurut Rendra Soedjono, perhitungan tersebut mencakup komponen besar seperti gaji pemain hingga kebutuhan operasional tim.
Biaya katering dan logistik saat menjalani laga tandang juga masuk dalam perhitungan agar pengeluaran tetap sesuai kemampuan klub.
“Persebaya Surabaya ini terlihat memang begitu sistematik dalam membangun timnya, mereka menghitung banget untuk bisa mengarungi sebuah kompetisi,” ujar Rendra Soedjono dikutip dari kanal YouTubenya Katarensu, Selasa (25/8).
Rensu sapaan akrab Rendra Soedjono juga menegaskan kebijakan tersebut tidak tepat jika langsung disebut sebagai bentuk keengganan mengeluarkan uang.
“Saya enggak bilang bahwa mereka pelit, banyak orang yang bilang bahwa oh manajemen Persebaya itu pelit, enggak, ini adalah sebuah konsep dari penanganan budgeting yang sangat baik,” tutur Rendra Soedjono.
Model bisnis Persebaya Surabaya dipisah secara jelas
Selain mengatur pengeluaran secara ketat, Persebaya Surabaya dinilai menjalankan pengelolaan klub dengan pendekatan seperti korporasi modern.
Model tersebut membagi pekerjaan antara sektor manajemen atau bisnis dengan sektor sepak bola atau teknikal.
“Persebaya Surabaya menjadi satu di antara sedikit tim di sepak bola Indonesia yang benar-benar menjalankan tim sepak bolanya itu seperti perusahaan,” kata Rensu.
Pembagian tersebut membuat urusan bisnis dan teknis tetap berjalan bersamaan, tetapi masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda.
“Persebaya Surabaya ini dijalankan dengan dua kesatuan: satu bergerak di sektor manajemen atau bisnis, dan satunya lagi di sektor sepak bola atau teknikal. Keduanya bergerak bersamaan tapi memiliki job desc yang berbeda,” ujar Rendra Soedjono.
Pola tersebut menjadi penting ketika klub harus menyusun kebutuhan satu musim penuh.
Dengan pembagian tugas yang jelas, keputusan teknis di lapangan tidak semestinya membuat pengelolaan finansial klub keluar dari rencana yang sudah ditetapkan.
Menghindari belanja pemain secara jor-joran
Persebaya Surabaya juga dinilai memilih menghindari pola belanja pemain secara besar-besaran hanya demi mendapatkan perhatian pada awal musim.
Strategi semacam itu berisiko membebani klub ketika performa pemain atau kondisi kompetisi tidak sesuai harapan.
Rensu menyoroti kebiasaan sejumlah klub yang mengeluarkan dana besar pada awal musim, kemudian melakukan perubahan besar hanya beberapa bulan setelah kompetisi berjalan.
Kondisi tersebut berpotensi membuat kewajiban kepada pemain atau pelatih tidak terselesaikan.
“Daripada jor-joran di awal untuk membeli pemain dengan harga besar demi exposure media, ujung-ujungnya setelah 3 atau 4 bulan setengah musim pemain diganti dan kewajibannya enggak dipenuhi,” imbuh Rensu.
“Begitu juga pemain dan pelatih tidak dibayar, lebih baik mereka mengambil pemain yang sesuai dengan budgeting,” terang dia.
Menurut dia, keputusan Persebaya Surabaya bukan menunjukkan klub tidak memiliki kemampuan finansial. “Bukan berarti mereka enggak mampu, tapi mereka berhitung sekali sesuai dengan budgeting mereka.”
Target akhirnya bukan sekadar klub kaya
Pengelolaan finansial yang sehat juga berkaitan dengan upaya membangun kemandirian klub dalam jangka panjang. Rensu menilai ukuran klub yang sehat tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa besar kekayaan pemiliknya.
Ketergantungan berlebihan kepada dana pribadi owner justru dinilai memiliki risiko besar bagi keberlangsungan klub. Jika kondisi finansial pemilik mengalami masalah, klub yang terlalu bergantung juga berpotensi ikut terdampak.“Banyak sekali di Indonesia itu sering salah kaprah, bilang ‘Wah, ini klub kaya karena ownernya kaya.’ Itu sesuatu hal yang harus dibedakan,” ucap Rensu.
“Yang bagus adalah bukan owner yang kaya, tapi tim yang kaya,” imbuh dia.
Rensu kemudian menekankan pentingnya klub memiliki kemampuan finansial sendiri agar tidak terus-menerus bergantung kepada pemilik.
“Jangan selalu menyusu sama owner-nya terus, karena kalau itu terjadi, begitu owner-nya collapse, klubnya juga collapse,” tandas Rendra Soedjono.
Bagi Persebaya Surabaya, pendekatan tersebut menjadi salah satu resep menghadapi Super League 2026/2027.
Gelar Piala Presiden 2026 menunjukkan hasil positif di lapangan, sementara disiplin budgeting menjadi bagian penting agar Green Force tetap kompetitif tanpa mengorbankan kesehatan finansial klub.(jpc)


