Kebakaran hutan dan Lahan di sejumlah wilayah di Indnesia masih belum benar-benar padam. Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah titik panas atau hotspot di dua daerah, yakni Kalimantan Barat dan Tengah melonjak tinggi.
Di saat bersamaan, hotspot di sejumlah daerah prioritas lain di Kalimantan dan Sumatera menunjukkan penurunan.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan, di Kalimantan Barat menunjukkan adanya peningkatan jumlah hotspot.
Namun di sisi lain, jumlah titik api yang terlihat di wilayah tersebut justru mengalami penurunan.
“Kalimantan Barat kita melihat di sini bahwa hotspot hari ini memang bertambah lagi. Hari kemarin bertambah, hari ini sebanyak 453 titik untuk titik panas. Dan untuk titik apinya berturut-turut turun menjadi 16. Yang tadinya turun 23 titik, sekarang jadi 16. Kita berharap di lain waktu juga seperti ini bisa terjadi dan di provinsi-provinsi yang lain,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Minggu (30/8).
Perkembangan serupa juga terlihat di sejumlah wilayah Kalimantan lainnya. BNPB mencatat titik api di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan mengalami penurunan.
Meski titik api turun, jumlah titik panas di Kalimantan Tengah masih cukup tinggi, bahkan bertambah.
Sementara kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah juga perlu mendapat perhatian.
“Demikian juga di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, terjadi penurunan titik api. Namun di Kalimantan Tengah, titik panas bertambah 876 titik. Sedangkan di Kalimantan Selatan malah turun sebanyak 279 titik. Jarak pandang relatif rendah, antara 1 sampai 1,5 kilometer,” ucapnya.
Selain Kalimantan, BNPB turut memantau kondisi karhutla di Sumatera, termasuk Riau.
Di provinsi tersebut, jumlah titik panas tercatat menurun satu titik. Namun, jumlah titik api justru mengalami peningkatan hingga mencapai 12 titik.
“Di Riau, kami mencatat bahwa terjadi penurunan titik panas sebesar 1 dan peningkatan titik api sebesar 5 menjadi 12 titik api. Dan jarak pandang hanya 5 kilometer,” bebernya.
Hotspot di Sumatera Turun
Sementara itu, kondisi di Sumatra Selatan menunjukkan penurunan signifikan pada jumlah titik panas.
Meski begitu, jumlah titik api di provinsi tersebut bertambah sehingga potensi kebakaran masih perlu diwaspadai. BNPB juga mencatat jarak pandang di wilayah tersebut berada pada angka 2,4 kilometer.
“Di Sumatera Selatan, titik panas signifikan berkurang menjadi 804 titik. Sedangkan titik apinya bertambah 8 menjadi 18 titik. Jarak pandang 2,4 kilometer,” ujarnya.
Sedangkan di Jambi, jumlah titik panas juga mengalami peningkatan. Berdasarkan pemantauan BNPB, terdapat 135 titik panas, sementara jumlah titik api tidak mengalami perubahan.
Jarak pandang di wilayah tersebut tercatat masih cukup terbatas, hanya sekitar 3,5 kilometer.
Karena itu, BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan informasi mengenai titik panas dan titik api, tetapi juga memantau perkembangan kualitas udara di wilayah masing-masing.
Informasi yang lebih terperinci terkait kondisi karhutla dapat diperoleh melalui sistem informasi yang tersedia.
“Kami berharap Bapak, Ibu sekalian, saudara-saudara yang kita cintai, bahwa informasi seperti ini lebih detail dapat diambil dari Sipongi,” tuturnya.
Selain informasi mengenai karhutla, masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi pencemaran udara.
BNPB menyebut terdapat peta yang menggambarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup.
Menurut Berton, informasi mengenai kualitas udara penting karena masyarakat dapat mengetahui tingkat kesehatan udara di wilayahnya.
Kategori yang tersedia mencakup sejumlah tingkatan, mulai dari kondisi sehat hingga kategori yang berpotensi membahayakan kesehatan.
“Dan Bapak, Ibu tentu bisa memperoleh kategori-kategori standar udara, Indeks Standar Udara, seperti sehat, tidak sehat, bahkan sampai berbahaya,” urainya.
Lebih lanjut, BNPB mengimbau masyarakat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara.
Ketika kualitas udara masuk dalam kategori tidak sehat atau berbahaya, masyarakat disarankan mengurangi kegiatan di luar ruangan.
“Kami senantiasa menyampaikan agar aktivitas di luar rumah diperkecil. Dan kalaupun sudah harus keluar rumah, pakai masker,” pungkasnya.(jpc)


