Wasit Ridho Bekti Utomo dikeroyok suporter setelah memimpin laga Danlanud Cup 2026 di Lapangan Garuda Manunggal Lanud Jenderal Besar Soedirman (Wirasaba), Purbalingga, Kamis (30/7).
Insiden itu membuat Ridho mengalami sejumlah luka di wajah hingga dada dan harus menjalani pemeriksaan medis sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada malam yang sama.
Apa yang terjadi pada wasit di Purbalingga?
Kekerasan terhadap wasit terjadi dalam pertandingan yang mempertemukan Andalas FC asal Banjarnegara melawan Gama Adipasir di turnamen Danlanud Cup 2026. Suporter yang tidak terima dengan keputusan wasit, masuk ke lapangan dan melakukan pengeroyokan terhadap Ridho setelah pertandingan berlangsung.
Informasi tersebut disampaikan melalui akun Instagram @forum_wasit_idn yang mengungkap kondisi Ridho setelah menjadi korban kekerasan.
Dalam unggahannya disebutkan, Insiden pengeroyokan yang tengah viral terhadap wasit Ridho Bakti Hutomo asal Purbalingga saat memimpin pertandingan turnamen di wilayah Kabupaten Purbalingga yang mengakibatkan sejumlah luka, wasit Ridho memilih menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa itu kepada pihak kepolisian.
Peristiwa itu tidak hanya berdampak pada kondisi fisik Ridho, tetapi juga membuat keberlangsungan turnamen dipertimbangkan ulang panitia. Komandan Lanud selaku pihak penyelenggara bersama jajarannya bahkan telah mendatangi kediaman sang wasit setelah insiden tersebut.
Seberapa parah luka yang dialami Ridho?
Ridho mengalami luka lebam di sejumlah bagian tubuh setelah dikeroyok suporter, termasuk pada wajah, belakang kepala, leher, dan dada. Selain itu, salah satu jari tangan Ridho juga mengalami dislokasi sehingga dia harus mendapatkan pemeriksaan medis untuk memastikan tidak ada cedera serius.
“Korban mengungkapkan bahwa dirinya mendapat dukungan penuh dari Askab PSSI Purbalingga, Komisi Wasit (Komwas) Askab, serta panitia penyelenggara turnamen di Lanud Jenderal Besar Soedirman. Ia juga bersyukur karena masih diberikan keselamatan meski menjadi korban kekerasan,” tulis @forum_wasit_idn.
Ridho menjalani pemeriksaan berupa rontgen dan CT scan untuk mengetahui kondisi tubuhnya setelah pengeroyokan. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan tidak ditemukan cedera serius sehingga Ridho diperbolehkan pulang pada malam yang sama tanpa harus menjalani rawat inap.
Bagaimana langkah hukum setelah pengeroyokan?
Ridho memilih membawa kasus pengeroyokan tersebut ke jalur hukum dengan membuat laporan resmi kepada kepolisian. Laporan itu dibuat di Polsek Bukateja yang memiliki wilayah hukum mencakup lokasi berlangsungnya turnamen Danlanud Cup 2026.
“Sebagai langkah hukum, korban telah membuat laporan resmi ke Polsek Bukateja yang wilayah hukumnya mencakup lokasi turnamen,” demikian keterangan @forum_wasit_idn.
Langkah tersebut menjadi respons Ridho setelah mengalami kekerasan ketika menjalankan tugasnya sebagai perangkat pertandingan. Di sisi lain, penyelenggara turnamen juga mengambil langkah dengan menunda pertandingan untuk sementara waktu.
Sementara itu Komandan Lanud selaku pihak penyelenggara turnamen beserta jajarannya sebagai panitia sudah silaturahmi ke rumah sang wasit, dan menyampaikan bahwa sementara waktu hingga batas waktu yang tidak ditentukan turnamen ditunda, bahkan opsi lain turnamen dihentikan.
Kekerasan wasit jadi alarm untuk turnamen tarkam
Kasus pengeroyokan Ridho kembali menyoroti persoalan keamanan perangkat pertandingan dalam sepak bola, terutama pada kompetisi antarkampung atau tarkam.
Wasit memiliki peran penting dalam menjaga pertandingan tetap berjalan sesuai aturan, sehingga keselamatannya semestinya menjadi bagian utama dari tanggung jawab penyelenggara.
“Kasus ini kembali menjadi sorotan terkait pentingnya perlindungan terhadap perangkat pertandingan. Kekerasan terhadap wasit dinilai tidak hanya mengancam keselamatan individu, tetapi juga mencederai nilai sportivitas dan semangat fair play dalam sepak bola,” tulis @forum_wasit_idn.
Insiden di Purbalingga juga menjadi peringatan bagi pihak yang memberikan rekomendasi terhadap penyelenggaraan turnamen tarkam di daerah. Standar pengamanan perlu diperhatikan sejak awal agar pertandingan tidak berubah menjadi ruang kekerasan hanya karena keputusan perangkat pertandingan.
“Ini juga merupakan alarm darurat bagi Askab/Askot yang ingin memberikan rekomendasi turnamen Tarkam di Daerah. Askab/Askot harus mempunyai standar aturan tinggi terkait pengamanan dan harus selektif dalam memberikan rekomendasi sebuah event Tarkam,” tulis @forum_wasit_idn.
Kekerasan terhadap wasit Ridho menjadi bukti pentingnya sistem keamanan yang jelas dalam setiap pertandingan sepak bola, termasuk turnamen tarkam. Jika penyelenggara tidak mampu memberikan jaminan keamanan, rekomendasi kompetisi juga perlu dipertimbangkan secara serius demi menjaga keselamatan perangkat pertandingan dan seluruh pihak yang terlibat.
“Jika Panpel Lokal tidak bisa memberikan jaminan soal keamanan, maka haram hukumnya Askab/Askot mengeluarkan rekomendasi,” tegas keterangan tersebut.
Kasus di Lapangan Garuda Manunggal Lanud Jenderal Besar Soedirman kini menjadi pengingat keras agar sportivitas tidak berhenti sebagai slogan ketika pertandingan memasuki situasi panas.(jpc)


