PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Palangka Raya berdampak langsung terhadap pekerja lapangan, termasuk pengemudi ojek online (ojol).
Selain membuat jarak pandang menurun, paparan asap juga mengganggu kesehatan pernapasan hingga memaksa pengemudi mengurangi jam operasional dan membatasi wilayah pengantaran.
Zaki (19), mahasiswa UIN sekaligus mitra pengemudi ojol, merasakan langsung dampak buruk kabut asap saat tetap bekerja di tengah kondisi udara yang memburuk.
“Selama kabut asap ini, jarak pandang kurang jelas karena asapnya tebal,” ungkap Zaki membagikan pengalamannya, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, asap tebal yang menyelimuti jalanan turut mengganggu kondisi fisiknya, terutama pada pernapasan.
“Mengganggu pernapasan serta bikin batuk juga, Kak. Jelas mengganggu kesehatan,” tambahnya.
Zaki bahkan mengaku sempat berhenti beroperasi karena daya tahan tubuhnya menurun. Keluhan tersebut dirasakannya selama sekitar empat hari.
“Untuk sakit mungkin sekitar kurang lebih empat harian ini ada,” tuturnya.
Ia menjelaskan sejumlah keluhan yang dialami akibat kondisi tersebut.
“Gejalanya banyak. Pertama batuk-batuk, sesak napas, dan mungkin badan meriang juga,” paparnya.
Demi melindungi diri, Zaki kini disiplin menggunakan masker setiap kali mencari penumpang atau mengantar barang.
“Pakai masker biar asapnya tidak banyak masuk, sama untuk pernapasan juga,” ujarnya.
Kondisi kabut asap juga membuat Zaki mengubah jam kerja operasionalnya. Sebelumnya, ia mampu bekerja hingga 10 jam sehari dengan jam sibuk dari pukul 17.00 sore hingga 23.00 malam.
“Kalau kabut asap ini mungkin lima jam saja dulu, dari jam 09.00 pagi sampai jam 14.00 siang,” jelasnya.
Pemangkasan jam operasional tersebut berdampak langsung terhadap jumlah pesanan yang diterimanya. Pendapatan juga menurun karena Zaki memilih menghindari pesanan menuju area rawan kebakaran.
“Justru malah berkurang (pesanan). Karena kita juga tidak bisa mengambil jarak yang jauh-jauh,” keluhnya.
Zaki memilih membatalkan pesanan dan mengorbankan nilai performa akunnya daripada mengambil risiko terperangkap asap.
“Misalnya kalau area kebakaran mungkin kita batalkan,” tegas Zaki.
Ia pun lebih berhati-hati dalam menyeleksi pesanan yang masuk melalui aplikasi.
“Kalau misalnya dekat dengan saya, ya kalau saya tidak mau, tidak saya ambil. Pasti harus putar balik lagi,” pungkasnya. (her)


