Mahasiswa UPR Turun ke Titik Api, Sepekan Berjibaku Padamkan Karhutla

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan kampus Universitas Palangka Raya (UPR) memantik kepedulian kalangan mahasiswa.

Sejak 19 Agustus 2026, puluhan mahasiswa terjun langsung sebagai relawan untuk membantu mempercepat pemadaman api yang kian mengancam fasilitas kampus.

Para relawan mahasiswa salah satunya berasal dari Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPR. Mereka bahu-membahu di lapangan bersama tim gabungan yang terdiri dari Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) UPR, Barang Milik Negara (BMN), BMN Fakultas, Pusat Kerja Sama Internasional untuk Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Tropis (CIMTROP), pihak Kepolisian, Pemadam Kebakaran (Damkar), serta BPBD.

Salah satu mahasiswa PJKR yang menjadi relawan, Noah Sebastian Silitonga, mengungkapkan bahwa keputusan turun ke lapangan didasari rasa kepedulian terhadap tempat mereka menuntut ilmu.

Baca Juga :  Api Padam, Bara Karhutla Masih Mengendap di Gambut Jalan Slamet Palangka Raya

“Yang membuat kami turun ke lapangan adalah rasa cinta kami terhadap aset vital yang dimiliki Universitas Palangka Raya. Makanya kami rela berkorban waktu, tenaga, dan fisik demi padamnya api yang terjadi di sekitaran kampus,” ungkap Noah, Rabu (26/8/2026).

Menjadi garda terdepan dalam penanganan karhutla bukanlah hal mudah. Noah menceritakan pengalaman pertamanya saat menembus titik api yang dipenuhi kepulan asap pekat, debu tebal, serta suhu yang sangat panas.

Tantangan terberat justru dirasakan saat malam hari. Para relawan harus berjalan kaki menembus kegelapan sejauh 250 meter ke dalam hutan untuk mencapai titik api utama.

Electronic money exchangers listing

“Kondisi malam hari adalah momen yang menegangkan. Jalanan menuju titik api dipenuhi tunggul kayu dan lahan gambut yang dalam. Belum lagi apabila kami mendengarkan suara-suara yang tidak jelas dari berbagai arah,” tuturnya menceritakan suasana mencekam di lokasi.

Baca Juga :  Kemenkum Kalteng Fasilitasi Rapat Harmonisasi Raperda untuk Perumahan Layak di Palangka Raya

Lelah fisik pun tak dapat dihindari. Jam kerja secara estafet dari pagi, sore, hingga malam hari yang dilakukan terus-menerus selama sepekan membuat kondisi fisik para relawan, baik dari kalangan mahasiswa maupun pihak kampus lainnya, mulai mengalami penurunan.

Karakteristik lahan gambut di area kampus UPR menjadi rintangan terbesar. Api yang menjalar di bawah permukaan tanah membuat proses pemadaman memakan waktu jauh lebih lama dan menguras tenaga.

Momen tersebut diakui Noah sebagai pengalaman yang paling membekas baginya selama menjadi relawan.

Menghadapi situasi yang belum sepenuhnya usai, Noah menyampaikan pesan sekaligus ajakan kepada masyarakat luas serta seluruh sivitas akademika UPR.

“Pesan kami untuk masyarakat dan mahasiswa, terkhusus dalam menghadapi kebakaran hutan di lingkungan kampus ini, adalah jangan hanya menonton dari kejauhan. Marilah turun ke lapangan membantu memadamkan api dengan peralatan yang safety,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan kampus Universitas Palangka Raya (UPR) memantik kepedulian kalangan mahasiswa.

Sejak 19 Agustus 2026, puluhan mahasiswa terjun langsung sebagai relawan untuk membantu mempercepat pemadaman api yang kian mengancam fasilitas kampus.

Para relawan mahasiswa salah satunya berasal dari Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPR. Mereka bahu-membahu di lapangan bersama tim gabungan yang terdiri dari Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) UPR, Barang Milik Negara (BMN), BMN Fakultas, Pusat Kerja Sama Internasional untuk Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Tropis (CIMTROP), pihak Kepolisian, Pemadam Kebakaran (Damkar), serta BPBD.

Electronic money exchangers listing

Salah satu mahasiswa PJKR yang menjadi relawan, Noah Sebastian Silitonga, mengungkapkan bahwa keputusan turun ke lapangan didasari rasa kepedulian terhadap tempat mereka menuntut ilmu.

Baca Juga :  Api Padam, Bara Karhutla Masih Mengendap di Gambut Jalan Slamet Palangka Raya

“Yang membuat kami turun ke lapangan adalah rasa cinta kami terhadap aset vital yang dimiliki Universitas Palangka Raya. Makanya kami rela berkorban waktu, tenaga, dan fisik demi padamnya api yang terjadi di sekitaran kampus,” ungkap Noah, Rabu (26/8/2026).

Menjadi garda terdepan dalam penanganan karhutla bukanlah hal mudah. Noah menceritakan pengalaman pertamanya saat menembus titik api yang dipenuhi kepulan asap pekat, debu tebal, serta suhu yang sangat panas.

Tantangan terberat justru dirasakan saat malam hari. Para relawan harus berjalan kaki menembus kegelapan sejauh 250 meter ke dalam hutan untuk mencapai titik api utama.

“Kondisi malam hari adalah momen yang menegangkan. Jalanan menuju titik api dipenuhi tunggul kayu dan lahan gambut yang dalam. Belum lagi apabila kami mendengarkan suara-suara yang tidak jelas dari berbagai arah,” tuturnya menceritakan suasana mencekam di lokasi.

Baca Juga :  Kemenkum Kalteng Fasilitasi Rapat Harmonisasi Raperda untuk Perumahan Layak di Palangka Raya

Lelah fisik pun tak dapat dihindari. Jam kerja secara estafet dari pagi, sore, hingga malam hari yang dilakukan terus-menerus selama sepekan membuat kondisi fisik para relawan, baik dari kalangan mahasiswa maupun pihak kampus lainnya, mulai mengalami penurunan.

Karakteristik lahan gambut di area kampus UPR menjadi rintangan terbesar. Api yang menjalar di bawah permukaan tanah membuat proses pemadaman memakan waktu jauh lebih lama dan menguras tenaga.

Momen tersebut diakui Noah sebagai pengalaman yang paling membekas baginya selama menjadi relawan.

Menghadapi situasi yang belum sepenuhnya usai, Noah menyampaikan pesan sekaligus ajakan kepada masyarakat luas serta seluruh sivitas akademika UPR.

“Pesan kami untuk masyarakat dan mahasiswa, terkhusus dalam menghadapi kebakaran hutan di lingkungan kampus ini, adalah jangan hanya menonton dari kejauhan. Marilah turun ke lapangan membantu memadamkan api dengan peralatan yang safety,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru