PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah Kalteng memaksa penghentian seluruh aktivitas penerbangan di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kamis (24/9/2026). Jarak pandang yang merosot hingga di bawah 1.000 meter membuat penerbangan komersial tidak dapat beroperasi, sekaligus menghentikan aktivitas udara Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla).
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, memastikan fasilitas dan sistem manajemen bandara sebenarnya dalam kondisi siap beroperasi secara normal.
Ia menjelaskan, tiga pilar utama bandara yang meliputi sumber daya manusia (people), prosedur operasional (process), dan fasilitas fisik (premises), seluruhnya berfungsi dengan sangat baik.
“Cuman memang kendalanya kabut asap yang dari pagi subuh kami monitor sampai dengan hari ini memang belum menunjukkan perbaikan di mana visibility saat ini masih di bawah 1.000 meter,” kata I Made dalam keterangannya.
Kondisi tersebut membuat pergerakan pesawat udara sama sekali tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Lebih lanjut, I Made mengungkapkan, terhentinya penerbangan akibat jarak pandang yang buruk telah dinyatakan no operation oleh pihak maskapai dan berlangsung konsisten sejak 17 September lalu.
Padahal, dalam kondisi normal, bandara ini melayani operasional rutin sebanyak 18 pergerakan pesawat per hari, yang terdiri dari sembilan keberangkatan dan sembilan kedatangan.
Rata-rata pergerakan harian tersebut biasanya mengangkut sekitar 2.200 penumpang dari dan menuju berbagai rute, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Balikpapan, dan Yogyakarta.
Kelumpuhan aktivitas di landasan pacu ini tidak hanya berdampak pada mobilitas sipil, tetapi juga berdampak langsung pada upaya penanganan bencana karhutla.
Seluruh armada udara milik Satgas yang operasionalnya dipusatkan di Bandara Tjilik Riwut terpaksa harus disiagakan di darat.
“Memang sudah beberapa hari pesawat OMC, kemudian patroli dan water bombing itu belum bisa melakukan pergerakan mengingat memang visibility ini belum memungkinkan untuk dilakukan untuk terbang,” tegas I Made.
Meskipun aktivitas penerbangan terhenti total selama berhari-hari, I Made menyampaikan adanya titik terang bagi penumpang yang penerbangannya sempat tertunda.
Berdasarkan koordinasi dengan pihak maskapai, Lion Group diproyeksikan akan segera beroperasi kembali.
“Mudah-mudahan sesuai rencana surat yang sudah disampaikan oleh Lion Group, rencana besok tanggal 25 September ini Lion Group akan terbang mendahului dari maskapai lain,” pungkasnya.
Pihak bandara berharap langkah operasional ini bisa berjalan lancar dan menjadi kabar baik bagi masyarakat Kalteng maupun Palangka Raya yang mobilitasnya terhambat akibat bencana kabut asap. (her)


